Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk baja. Foto ilustrasi: IST

Produk baja. Foto ilustrasi: IST

Baja RI Lolos Ancaman Antisubsidi Uni Eropa

Rabu, 18 November 2020 | 09:14 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah Uni Eropa resmi menghentikan penyelidikan antisubsidi terhadap produk baja hot rolled stainless steel (HRSS) Indonesia. HRSS merupakan produk baja yang dihasilkan dari penggilingan baja nirkarat dalam keadaan panas.

Keputusan penghentian penyelidikan tersebut ditetapkan pada 6 November 2020 dan diumumkan secara resmi di situs web Pemerintah Uni Eropa pada 9 November 2020. Dengan demikian, produk HRSS Indonesia lolos dari ancaman tindakan antisubsidi Uni Eropa.

“Indonesia menyambut baik keputusan Uni Eropa untuk membatalkan penyelidikan karena dari awal kami meyakini bahwa produk Indonesia selalu bersaing secara adil di pasar Eropa,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/11).

Pembatalan penyelidikan ini, lanjut Mendag, membuka peluang untuk terus mendorong ekspor HRSS ke Uni Eropa. “Kami akan mendorong industri Indonesia untuk memanfaatkan pembatalan ini dengan cara meningkatkan kinerja ekspor produk HRSS ke Uni Eropa serta secara proaktif menjaga akses ekspornya,” ujar dia.

Mendag mengungkapkan, keputusan penghentian penyelidikan antisubsidi oleh Uni Eropa dibuat setelah Asosiasi Industri Baja Uni Eropa (EUROFER) mencabut permohonannya pada 18 September 2020. Ekspor produk HRSS Indonesia ke Uni Eropa dimulai pada 2018 dengan nilai US$ 99,3 juta.

Pada 2019, nilai ekspornya meningkat menjadi US$ 100,5 juta. Pada Oktober 2019, Pemerintah Uni Eropa secara resmi memulai penyelidikan antisubsidi terhadap produk HRSS asal Indonesia berdasarkan permohonan EUROFER.

Uni Eropa menuduh Pemerintah Indonesia memberikan insentif atau bantuan finansial bagi produsen melalui serangkaian kebijakan larangan atau pembatasan ekspor bahan baku mineral, yaitu bijih nikel, batu bara, dan scrap logam, sehingga menekan harga bahan baku tersebut di Indonesia. Uni Eropa juga menduga adanya dukungan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terhadap pembangunan kawasan industri di Morowali serta industri mineral dan logam di lokasi tersebut melalui kerja sama ekonomi bilateral Indonesia-RRT.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi Sumedi menegaskan, pihaknya pun telah membantah tuduhan Uni Eropa tersebut. “Kami menilai semua tuduhan Uni Eropa tidak berdasar sejak awal penyelidikan. Kemendag didukung kementerian dan lembaga terkait melakukan pembelaan terhadap kebijakan yang diklaim Uni Eropa sebagai subsidi,” terang Didi.

Uni Eropa menganggap, kebijakan RI melarang ekspor bijih nikel kadar 1,7% ke atas menguntungkan industri stainless steel Indonesia yang mempergunakannya sebagai bahan baku. Didi menyatakan, ketentuan tersebut tidak secara khusus diarahkan untuk menguntungkan industri stainless steel.

“Ketentuan tersebut secara jelas dimaksudkan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya mineral Indonesia yang berkelanjutan, mengingat sifat bahan bakunya yang tidak dapat diperbaharui, dan untuk mendorong pertumbuhan investasi industri yang bernilai tambah di Indonesia,” tegas dia.

Sementara itu, Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati menyatakan, Pemerintah Indonesia secara aktif memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk menyampaikan pembelaan. “Kami menyampaikan klarifikasi secara tertulis kepada Uni Eropa atas kebijakan Pemerintah Indonesia yang dituduh sebagai subsidi, secara langsung dalam konsultasi dengan Pemerintah Uni Eropa di Brussels, serta secara daring dari Jakarta dalam kesempatan verifikasi,” jelas Pradnyawati.

Dia menambahkan, Kemendag terus menekan Pemerintah Uni Eropa agar segera membatalkan penyelidikan. “Tanpa diduga, pembatalan penyelidikan justru datang dari pihak EUROFER yang menarik sendiri petisi mereka. Kami sangat yakin, baik EUROFER maupun Uni Eropa tidak menemukan unsur subsidi pada keseluruhan klaim mereka hingga akhirnya EUROFER menarik tuduhan tersebut,” ungkap Pradnyawati.

Tren peningkatan ekspor produk HRSS Indonesia tidak hanya terjadi ke Uni Eropa, melainkan juga ke seluruh penjuru dunia. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor produk HRSS Indonesia ke seluruh dunia pada 2019 mencapai US$ 2,6 miliar. Sebelumnya, pada 2018 dan 2017 ekspor ke seluruh dunia hanya mencatatkan nilai masing-masing sebesar US$ 2 miliar dan US$ 483 juta.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN