Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Benih Microfinance Sosial Finance Besutan Generasi Milenial

Sabtu, 11 November 2017 | 09:52 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA - Pahlawan tak hanya ada di masa penjajahan, namun juga dalam setiap lini kehidupan. Banyak orang yang pantas disebut pahlawan di era kemerdekaan ini seperti guru pendidik, orangtua bagi anaknya, atau orang-orang yang berjasa tanpa memperdulikan balasan atau imbalan apapun, juga layak disebut pahlawan karena usahanya yang membawa dampak positif serta memberi manfaat luar biasa.

Bicara soal hari Pahlawan di 10 November ini, sekumpulan anak muda  berikut  bisa  menjadi inspirasi ,karena kegigihan mereka untuk membantu orang dalam hal peningkatan ekonomi memberi warna tersendiri  bagi kesejahteraan orang-orang yang masih berada di garis kemiskinan.

Adalah 4 anak muda generasi milenial yaitu Kiara Tanojo, Jack Harkin ( Founder), Edward Hong ( Founder), dan Alyssa Kangsadjaja yang masih berstatus pelajar SMA di sekolah ternama Jakarta International School (JIS). Mereka melakukan terobosan mulia dengan  mendirikan sebuah organisasi sosial berbasis teknologi yang diberi nama Benih Microfinance.

Sebuah organisasi yang menyediakan pinjaman mikro kepada pengusaha dan usaha kecil yang tidak mempunyai akses yang cukup pada banking dan pelayanan yang berhubungan dengan banking. Keempat anak muda ini  berharap pinjaman-pinjaman ini dapat membantu mengentaskan  orang-orang yang tidak mampu  dari kemiskinan.  

" Organisasi ini kami namakan Benih Microfinance. Coba dipikirkan. Sebuah benih adalah tanaman embrio yang luar biasa yang dapat menghasilkan sesuatu yang besar dan indah. Benih tersebut membutuhkan air, tanah dan kualitas manusia lain seperti kesabaran, persistensi, dan komitmen untuk berkembang. Sebagai contoh yang sempurna, lima hal tersebut  yang menjadi landasan kami  membangun Benih Microfinance. Kami berharap untuk bisa mendukung pengusaha yang belum beruntung dari kalangan yang belum mampu untuk memenuhi potensi mereka," demikian diungkap Edward Hong, Founder Benih Microfinance dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (10/11).

Ide  membentuk Benih Microfinance dimulai sewaktu dua Founder Benih Microfinance, yaitu Jack dan Edward  menjadi anggota Koperasi Kasih Indonesia. Sebagai anggota klub ini, mereka dibutuhkan untuk merencanakan penggalangan dana dan pergi ke Cilincing untuk mengunjungi peminjam yang ada dan mengerti bagaimana satu pinjaman yang kecil, dapat mengubah kehidupan mereka.

Namun, setelah mengalami hal ini lagi dan lagi, kedua murid tersebut percaya bahwa adalah waktunya untuk secara pribadi terlibat dengan peminjam sebagaimana mereka ingin membangun hubungan yang lebih dekat kepada orang yang mereka pinjamkan, dan bergabung dalam perjalanan perkembangan.

 

" Mencari peminjam sangatlah sulit, terutama sewaktu beberapa dari anggota kami adalah ekspatriat, tidak memiliki kapabilitias berbicara bahasa Indonesia untuk menjangkau kepada komunitas. Oleh sebab itu, kami bekerja sama dengan organisasi yang sudah ada seperti XS project dan dari situ mengevaluasi usaha mereka jika mereka membutuhkan dukungan finansial dll. Sebagai tambahan, kami juga bertanya kepada supir kami untuk membantu mencari peminjam karena mereka kerapkali mengunjungi beberapa individu yang mempunyai warung atau mungkin pun teman dekat mereka karena hal ini adalah bentuk pengandalan juga, " tambah Edward.

Benih Microfinance telah berjalan sekitar 6 bulan dimana sebelumnya, mereka  telah bekerja dengan organisasi yang ada bernama KKI Microfinance (Koperasi Kasih Indonesia) serta  belajar keuntungan dan efektifitas dari “microlending”.

Pihak Benih sebagai pemberi pinjaman atau kreditor selalu  menekankan kepada peminjam bahwa pinjaman ini harus diambil secara serius dan tidak sebagai hadiah.

Hal ini dilakukan  karena mereka  percaya bahwa  peminjam  sebagai pengusaha tetap  harus belajar bagaimana cara membangun kebiasaan membayar tepat waktu.Pembayaran telat pasti akan terjadi di sebuah organisasi keuangan mikro karena akan selalu ada beberapa peminjam yang mempunyai masalah dengan sewaan, tingkat penjualan yang sedikit dan banyak hal lainnya.

Akan tetapi, bagi tim Benih ini menjadi sebuah peluang untuk mereka membantu dengan cara menurunkan harga ataupun membangun sebuah template yang membantu peminjam modal  mengatur biaya dan pendapatan. Ini disadari benar oleh tim Benih  bahwa beberapa orang Indonesia belum menerima pendidikan yang cukup untuk sebuah bisnis usaha yang baik.

Benih Microfinance sendiri menggunakan situs untuk membantu memperlihatkan ide-ide keuangan micro dan membagikan cerita sukses para peminjam dalam sebuah testimoni video.

Dari situ, diharapkan  sekolah internasional lainnya di Indonesia akan membantu terlibat dalam organisasi ini sebagaimana tim Benih Microfinance  percaya bahwa hal ini adalah cara untuk mengurangi kemiskinan. Sebagai tambahan,pihak Benih juga  terbuka dalam menerima email dari masyarakat  Indonesia  jika mereka membutuhkan peminjaman mikro untuk membantu usaha mereka. Namun,  tidak menjamin bahwa mereka akan diterima semua karena pasti tim Benih akan  sangat mempertimbangkan lokasi dan bisnis mereka.

"Jika peminjam kami ingin menghubungi kami untuk pertanyaan atau masalah, kami telah memberikan mereka kontak HP kami, agar komunikasi berjalan baik. Selain itu kami biasanya memeriksa mereka setiap 1 atau 2 minggu dalam sebulan," jelas Edward.

Untuk program selanjutnya. tim Benih merencanakan proyek menarik yang didedikasikan untuk sekolah mereka di Jakarta International School ( JIS). Diharapkan proyek ini dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan fasilitas di JIS. (is)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN