Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG BI bulan Juni 2022 di Jakarta, Kamis (23/06/2022). ANTARA/Agatha Olivia/aa.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG BI bulan Juni 2022 di Jakarta, Kamis (23/06/2022). ANTARA/Agatha Olivia/aa.

BI Borong SBN Rp 32,54 Triliun

Kamis, 23 Juni 2022 | 20:17 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan komitmennya untuk membantu pemerintah dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022. Hal ini dilakukan dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dari awal tahun 2022 hingga 22 Juni 2022, BI sudah membeli SBN di pasar perdana sebesar Rp 32,54 triliun.

Advertisement

“Ini lewat pembelian melalui mekanisme lelang utama, greenshoe option, juga dengan pembelian langsung (private placement),” tutur Perry dalam pembacaan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juni 2022, Kamis (23/6/2022).

Baca juga: Tenang, BI Komitmen Jaga Stabilitas Rupiah

Adapun kebijakan ini sesuai dengan kesepakatan fiskal-moneter yang tertuang dalam Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur BI yang hanya akan berlaku hingga 31 Desember 2022. Oleh karena itu, BI akan terus mempererat koordinasi bersama pemerintah untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

"Dalam hal ini bahwa berdasarkan UU No 2 Tahun 2020 bahwa tahun lalu, BI dan Kemenkeu sudah tandatangan surat keputusan bersama (SKB III) dimana BI beli SBN di pasar perdana Rp 224 triliun untuk partisipasi pemulihan ekonomi nasional pendanaan APBN 2022 khususnya pos kesehatan dan kemanusiaan tentu kami serahkan sepenuhnya ke pemerintah untuk alokasikan penggunaannya," tegasnya.

Lebih lanjut, meski masih membantu pemerintah dalam pendanaan APBN 2022, BI sudah mulai mengurangi penambahan likuiditas kepada perbankan dengan melakukan penyesuaian secara bertahap GWM Rupiah dan pemberian insentif GWM sejak 1 Maret 2022 menyerap likuiditas perbankan sekitar Rp 119 triliun.

Penyerapan likuiditas tersebut tidak mengurangi kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada dunia usaha dan partisipasi dalam pembelian SBN untuk pembiayaan APBN.

Baca juga: Tetap Deras, Inflow Capai Rp 22 Triliun

"Pada Mei 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 30,80% dan tetap mendukung kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit. Insentif GWM Rupiah pada Juni 2022 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya menunjukkan dukungan positif kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor prioritas dan inklusif," jelasnya.

Perry memastikan langkah ini tidak akan mengurangi kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit atau pembiayaan kepada dunia usaha dan bahkan tidak mengurangi niat perbankan untuk berpartisipasi dalam pembelian SBN untuk pembiayaan APBN.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN