Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

BI: Ketegangan Geopolitik AS-Iran Berpengaruh Jangka Pendek

Jumat, 10 Januari 2020 | 21:30 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id -  Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan meningkatnya tensi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran di Timur Tengah tidak berdampak signifikan terhadap kondisi makro ekonomi dalam negeri. Akan tetapi akan mempengaruhi  jangka pendek ke perekonomian Indonesia.

"Kami tidak lihat dampak signifikan kondisi makro ekonomi dan terhdap stabilitas eksternal dan pergerakan rupiah" ujar Perry di Gedung BI, Jakarta Jumat (10/1).

Tak hanya ketegangan geopolitik AS dan Iran tetapi Brexit juga akan memberikan pengaruh jangka pendek, tapi tidak mempengaruhi fundamental ekonomi dalam negeri.

Ia mengatakan rupiah bergerak sesuai fundamental mekanisme pasar sejalan dengan berbagao kebijakan BI dalam menstabilkan rupiah.

Hal ini juga terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah, Jumat (10/1) rupiah masih berjalan sesuai mekanisme pasar. Di spot pada Jumat pagi, rupiah menguat 0,3% menjadi Rp 13.813 per dolar AS dari Rp13.854 per dolar AS.

Di samping itu, saat ini  premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia juga tetap terjaga rendah dengan tren yang terus menurun yakni 61,3 poin.

Meski kondisi stabilitas eksternal terjaga, Perry menegaskan masih akan memantau berbagai perkembangan global. Khususnya terkait negosiasi perdagangan fase pertama antara Amerika Serikat dengan Tiongkok yang akan dibahas dalam waktu dekat ini.

Menurutnya terwujudnya kesepakatan perdagangan AS dan Tiongkok memberikan persepsi pasar yang positif bagi perekonomian global.

"Itu memberikan persepsi positif, bahwa ekonomi dunia tahun ini tumbuh sekitar 3-3,1%, atau meningkat dari 2,9%," ujarnya.

Apabila kesekapatan perang dagang terwujud maka dapat menjadi  sentimen positif  dan dapat memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor, mendukung pertumbuhan ekonomi dan mendorong aliran modal asing masuk.

"Kesepakatan perdagangan antara AS dan Tiongkok akan memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan ekspor dan mendukung pertumbuhan ekonomi dan juga memberikan persepsi risiko yang positif bagi aliran modal asing masuk ke dalam negeri," ujar Perry.

Sementara itu, Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede Untuk kondisi global di tahun ini, masih cukup besar, meskipun ada sinyal membaiknya kesepakatan perang dagang AS dan Tiongkok.

Tetapi timbul tensi geopilitik baru antara AS dan Iran.Tensi geoplitik ini bisa memepnagruhi kondisi dalam negeri khususnya terkait tekanan pada harga minyak di tengah kondisi neraca dagang yang masih didominasi oleh impor minyak dan gas.

“Jika tensi AS dan Iran berlanjut dengan waktu yang cukup lama dan berikan tekanan harga minyak dan kita tau saat ini, kita impor minyak mentah dan ini bisa mendorong kenaikan sisi impor migas dan tentu akan mempengaruhi kinerja CAD. Sentimen geopolitik akan mempengaruhi snetimen portofolio investment” jelasny saat dihubungi.

Lanjut dia, dalam kurun waktu dua tahun terakhir kondisi investasi langsung atau foreign direct investment posisinya lebih rendah dibandingkan inflow di portofolio.

Oleh karena itu, upaya pemerintah untuk memperbaiki kebijakan struktural dengan mempercepat perizinan diharapkan akan lebih mendorong FDI. Meski begitu, ia tak menampik bahwa tantangan CAD dan inflow masih besar.

Dengan berbagai tantangan di tahun ini, Josua menekankan untuk pemerintah dan BI melakukan koordinasi di semua lini agar menjaga keseimbangan eksternal, jika CAD sudah berhasil ditekan, maka kepanikan dipasar tidak akan berganda.

“Fundamnetal harus diperkuat,dengan berbagai upaya tekanan CAD dan berbgai kebijakan transformasi ekonomi dan dorong hilirissasi sektor migas dan pertambanngan diharapkan bisa tingkatkan daya saing mendorong kinerja ekspor” tuturnya.

Agar tidak terpengaruh tensi geopolitik antara AS dan Iran, maka kedepan yang perlu dilakukan  BI menjaga stabiliats rupiah.

"Fokus BI stabiliats rupiah dengan bebragai upaya dan bauran kebijakan makroprudensial, moeneter dan kebijakan pendalaman pasar keuangan dan buat rupiah relatif stabil. Kalau rupiah stabil , keseimbangan eksternal akan membaik” jelasnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN