Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala Grup Departemen Ekonomi & Kebijakan Moneter BI, Wira Kusuma dalam daring bertema

Kepala Grup Departemen Ekonomi & Kebijakan Moneter BI, Wira Kusuma dalam daring bertema "Pemulihan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global" pada Senin, (25/7/2022).

BI Proyeksikan The Fed Kerek Lagi Suku Bunga 75 Bps

Selasa, 26 Juli 2022 | 09:27 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksi Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga 75 basis poin bulan ini, sejalan dengan peningkatan tekanan perekonomian di Amerika Serikat (AS), seperti inflasi Juni yang melonjak hingga 9,1% (yoy) atau lonjakan tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

"Fed Fund Rate naik drastis dan diramalkan bulan Juli ini (suku bunga The Fed) meningkat 75 basis poin. Ini menggambarkan kondisi pasar keuangan global ketidakpastiannya meningkat," ujar Kepala Grup Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Wira Kusuma dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, Senin (25/7/2022).

Adapun, Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 26-27 Juli pekan ini, sebagai gambaran The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 150 basis poin (bps) sepanjang semester I 2022.

Baca juga: Ekonomi Global Melambat, BI: Risiko Kenaikan Inflasi Terus Diwaspadai 

Dengan rincian, The Fed mulai menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke kisaran 0,25-0,5% pada Maret 2022.

Kemudian pada Mei 2022 suku bunganya dinaikkan lagi sebesar 50 bps ke kisaran 0,75-1% dan Juni 2022 The Fed lanjut menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps ke kisaran 1,5-1,75%.

Ia menjelaskan setidaknya terdapat empat isu yang menyebabkan dinamika perekonomian global. Pertama, merebaknya covid-19 hingga penanganan yang sangat baik di seluruh dunia, meski demikian masih terdapat risiko karena munculnya beberapa varian covid-19 baru yang tidak seberat varian (delta).

Kedua, faktor ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan diluar perkiraan, alhasil mendorong proteksionisme berbagai negara dengan melarang atau membatasi ekspor komoditas tertentu untuk mengamankan pasokan di dalam negeri, terutama komoditas pangan, sehingga harga secara global mengalami kenaikan.

"Isu ketiga terkait gangguan rantai pasok atau supply chain disruption, dan terakhir terkait munculnya risiko stagflasi. Empat risiko ini membuat dinamika perlambatan ekonomi global"pungkasnya.

Baca juga: Fed Siapkan Kenaikan Suku Bunga Besar Lagi

Tak hanya The Fed, menurutnya, sejumlah bank sentral di negara maju dan negara berkembang mulai merespon kenaikan inflasi melalui pengetatan kebijakan moneter. Bahkan, risiko inflasi yang meningkat juga telah berdampak ke Indonesia, hal ini juga mendorong meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global dan terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

"Dengan berbagai perkembangan ini, Bank Indonesia pun pertumbuhan ekonomi global akan turun dari 6,1% (yoy) di tahun 2021 dan menjadi lebih rendah dari proyeksi sebelum nya di 3,5% menjadi 2,9% (yoy) di tahun ini,"ucapanya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com