Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo. Foto: IST

BI Tekankan Pentingnya G20 Bahas CDBC

Rabu, 8 Desember 2021 | 11:17 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia  (BI) menekankan pentingnya mengangkat kembali pembahasan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) secara lebih serius. Oleh karena itu tema ini akan jadi pembahasan dalam pertemuan Presidensi Indonesia di G20.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, isu ini akan banyak diangkat dan mendapat dukungan dari negara lain. Karena ada beberapa risiko yang berdampak serius terhadap makro ekonomi, sisi moneter jika tidak diantisipasi.

“Ini (Mata uang digital) menjadi isu yang banyak diangkat dan dapat dukungan dari banyak negara. Untuk Indonesia bahwa sebagai prioritas. Kita lihat seberapa signifikansi CDBC kepada makro monetary financial impact dengan adanya digital currency akan banyak berpengaruh efektivitas kebijakan sektor sisi moneter dan keuangan,”tuturnya dalam diskusi, Selasa (7/12).  

Dody menekankan ada beberapa risiko utama jika tidak diantisipasinya keberadaan mata uang digital termasuk keharusan adanya rupiah digital adalah tidak terdatanya dengan baik aliran uang yang berada di masyarakat sehinggga proses monitor pergerakannya tidak terkontrol.

 Jika aliran uang itu tidak terdata dengan baik, maka dipastikannya akan sangat berpengaruh terhadap pola permintaan atau konsumsi masyarakat, khususnya berkaitan dengan inflasi.

"Pada ujungnya kepada mandat bank sentral di inflasinya maupun stabilitas sektor keuangan. Jadi ini yang kita lihat dari sisi besaran makronya, agregatnya, apa sih impact-nya dari makro financial risk," tuturnya.

Lebih lanjut di banyak negara mata uang digital ini juga telah berpengaruh terhadap efektivitas pengendalian aliran modal, khususnya yang berkaitan dengan capital flows management. Bank Sentral pada suatu saat harus mengambil kebijakan itu apabila tekanan terhadap nilai tukar sangat sangat tinggi terpaksa harus melakukan CFM.

"Tapi kalau aliran dana modalnya itu melalui digital currency tanpa ada tekanan ke nilai tukar pun sudah menyulitkan bank sentral melakukan ini kompleksitas efisiensi terbentuk ada potensi (embedded risk) yang harus dihadapi otoritas atau bank sentral,”ujarnya.

Kemudian yang kedua, Bank Indonesia juga melihat CDBC dari sisi desain, platform dan bagaimana sisi bisnis proses dalam konteks operasional, tidak hanya melihat dari sisi makronya tapi harus dilihat juga secara praktikal.

Once kita lihat praktikkan operasional kita bicara satu negara dengan negara lain berbeda dan bagaimana coba interlinking kenapa kita tempatkan CDBC berdekatan dengan Cross Border Payment? sebab kita ingin CDBS bagian interlink corss border sama seperti uang digital bisa cross border itu kami letakkan tapi country context dan melihat kesiapan masing-masing Negara,”ungkapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN