Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman

BPDPKS: Pemberlakuan Tarif PE Dorong Hilirisasi Industri Sawit

Sabtu, 6 Februari 2021 | 22:25 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  - Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penyedia bahan mentah minyak sawit nabati dunia. Untuk itu, pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan dengan tujuan mendorong hilirisasi  industri yang dapat memberikan nilai tambah.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman memaparkan, beberapa kebijakan yang diambil antara lain dengan menerapkan pengenaan bea keluar  dan pungutan ekspor (PE) terhadap setiap eksportasi CPO dan produk turunannya dengan pengenaan tarif yang lebih tinggi terhadap produk hulu dibandingkan dengan produk hilirnya.

“Dengan kebijakan tersebut, komposisi ekspor sawit Indonesia lebih didominasi oleh produk-produk hilir, di mana ekspor produk turunan dari CPO yang merupakan produk hilir telah mencapai 58%, sedangkan ekspor CPO sebesar 18%, laurik 5%, dan produk lainnya 15%,” kata Eddy Abdurrachman dalam webinar “Peran Kelapa Sawit terhadap Pembangunan Ekonomi Nasional”, Sabtu (6/2/2021).

Dalam rangka hilirisasi produk sawit, pemerintah juga menginisiasi pemanfaatan dan penggunaan sawit sebagai bahan bakar minyak nabati dalam bentuk biodiesel.

Menurut Eddy, kebijakan ini tidak hanya bertujuan untuk hilirisasi produk, tetapi juga  penciptaan dan perluasan pasar domestik untuk menyerap sebagian stok akibat meningkatnya produksi sawit yang selalu naik dari tahun ke tahun.

“Kebijakan pemanfaatan dan penggunaan sawit sebagai bahan bakar nabati dalam bentuk biodiesel ini telah memberikan dampak yang positif, khususnya dalam stabilisasi harga CPO. Sebab kita tidak lagi sepenuhnya tergantung pada permintaan pasar ekspor,” ungkapnya.

Eddy menambahkan, manfaat lain dari program pemanfaatan biodiesel adalah sebagai substitusi atas impor minyak solar, sehingga dapat menghemat devisa. Sebab pemerintah mewajibkan untuk melakukan pencampuran diesel terhadap minyak solar yang saat ini berada pada tahapan B30, atau 30% dari kandungan minyak solar yang disalurkan kepada masyarakat adalah biodiesel.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN