Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Danang Parikesit,  Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). (foto ist)

Danang Parikesit, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). (foto ist)

BPJT Siapkan Pilot Project Infrastruktur AV dalam Lima Tahun ke Depan

Kamis, 29 Juli 2021 | 15:13 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit mengatakan, pemerintah melalui BPJT akan melakukan kesiapan infrastruktur autonomous vehicle (AV) dengan mengadakan pilot project dalam lima tahun ke depan.

Dalam hal ini, pemerintah akan bekerja sama dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk melihat lokasi yang bisa dilakukan untuk pilot project tersebut.

“Jika prediksi global mengenai transformasi AV ini kurang dari 10 tahun, tugas kami di jalan tol adalah mempersiapkan infrastrukturnya. Saat ini masih dalam pembahasan, tapi kami mencoba melakukan pilot project yang diprediksi akan dilakukan dalam waktu lima tahun ke depan. Ini bekerja sama dengan BUJT untuk melihat lokasi tersebut,” ungkap Danang di sela webinar ITS Indonesia bertajuk Promoting Intelegent Toll Road System in Indonesia, Kamis (29/7/2021).

Menurut Danang, prospek terbesar dalam AV sebenarnya adalah untuk angkutan barang atau truk. Hal itu bertujuan untuk tiga hal, yaitu pertama efesiensi logistik. Kedua, peningkatan keselamatan untuk kendaraan barang. Ketiga, pengurangan kerusakan jalan karena over dimension over loading (ODOL). Untuk itu, pihaknya masih menjajaki terus mengenai AV, sehingga saat ni masih belum menentukan ruas yang dipilih dalam melakukan pilot project tersebut.

“Kami mengharapkan teman dari internasional untuk membantu dalam proses itu. Meski demikian, hal ini sangat tergantung pada regulasi mengenai AV dan regulasi instrumen infrastruktur dan lainnya. Sehingga diharapkan bisa berkominikasi antara kendaraan dengan jalannya,” papar Danang.

Sementara itu, Director of Operation PT Jasa Marga (Persero) Tbk Fitri Wijayanti mengatakan dampak kendaaran ODOL di jalan tol selain percepatan kerusakan konstruksi jalan tol, juga adanya peningkatan jumlah kecelakaan di jalan tol yang memang melibatkan kendaraan angkutan barang.

Jika dilihat angkutan barang yang ada di catatan Jasa Marga sampai dengan tahun 2020, komposisi kendaraan angkutan barang atau non gol 1 jumlahnya memang sangat kecil hanya 16,01%.

“Tapi dampak pada kecelakaan yang terjadi pada catatan kami adaah 46,96% melibatkan kendaraan angkutan barang. Kebanyakan adalah over dimensi dan over load,” jelasnya.

Sedangkan mengenai percepatan kerusakan konstruksi di jalan tol. Fitri menyebutkan berdasatkan dataya presentasi kendaraan ODOL pada kuartal IV-2020 sebesar 39,68% atau hampir 40% dari kendaraan non gol 1 adalah kendaaraan ODOL. Semakin besar beban berlebih atau over loading akan menunjukan peningkatan daya rusak kendaraan yang semakin besar atau disebut dengan vehicle damage factor yang akan memperpendek umur pelayanan jalan tol.

“Jadi secara teori berdasarkan perhitungan cumulative equivalent standard axle load kendaraan ODOL yang melintas menimbulkan dampak dapat menurunkan rencana umur perkerasan jika awalnya 10 tahun menjadi 3 tahun,” kata dia.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN