Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Kepala BPS Suhariyanto. Foto: Humas BPS

BPS: Impor Barang Modal Naik 9,08%, Industri dan Investasi Mulai Menggeliat

Senin, 15 Maret 2021 | 19:30 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Nilai impor barang modal pada Februari 2021 mencapai US$ 2,15 miliar, angka ini menunjukan kenaikan 9,08% dibandingkan Januari 2021 (Month to Month/MTM) atau naik 17,68% dibandingkan Februari 2020 (Year on Year/YOY). Komponen barang modal berkontribusi terhadap 16,23% dari total impor.

Kepala Badan Pusat Statistik  (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan nilai impor barang modal mengalami kenaikan karena meningkatnya komponen impor mesin dari Jepang. Filipina, dan Singapura. Peningkatan impor mesin dan perlangkapan elektrik naik sampai US$ 172,8  juta. Hal tersebut menyebabkan posisi impor meningkat baik secara MTM maupun YOY.

“Kami berharap bahwa peningkatan impor barang modal ini menunjukkan bahwa kegiatan industri dan investasi di tanah air mulai mulai bergerak bagus,” ucap Suhariyanto dalam telekonferensi pers di Kantor BPS pada Senin (15/3).

Suhariyanto mengatakan nilai impor bahan baku/penolong sebesar  US$ 9,89 miliar. Impor bahan baku/penolong turun tipis 0,5% dari Januari 2021 namun meningkat 11,53% dari posisi Februari 2020. Peran  bahan baku/penolong sebesar 74,57% terhadap total impor Februari 2021.

“Dengan memperhatikan struktur impor kita 74,57% berasal dari bahan baku, geliat impor ini boleh dibilang menggembirakan karena mengindikasikan karena pergerakan industri dan investasi mulai bergulir,”  ucap Suhariyanto.

Nilai barang impor menurut konsumsi mencapai  US$  1,22 miliar  MTM mengalami penurunan 13,78%, tetapi secara YOY menunjukan kenaikan hingga 43,59%. Komponen sektor konsumsi terhadap impor keseluruhan sebesar  9,20%. Komoditas yang mengalami penurunan impor yaitu  vaksin untuk tetanus, bawang putih dari Tiongkok dan buah-buahan seperti jeruk mandarin, apel, dan boneless of bovine animals (hewan sapi tanpa tulang)  dari Australia.

“Impor konsumsi secara tahunan tumbuh tinggi 43,59%, kenaikan impor konsumsi secara YOY terjadi karena kenaikan produk farmasi dan beberapa buah-buahan dan sayuran,” ucap Suhariyanto.

Nilai impor secara keseluruhan pada  Februari 2021 mencapai US$13,26 miliar, turun 0,49% dibandingkan Januari 2021 atau naik 14,86% dibandingkan Februari 2020. Impor migas Februari 2021 senilai US$1,30 miliar, turun 15,95% dibandingkan Januari 2021 atau turun 25,37% dibandingkan Februari 2020.

Data BPS menunjukan secara kumulatif, nilai impor Januari sampai Februari 2021 sebesar  US$ 26,59 miliar atau terjadi kenaikan 3,01% dibandingkan periode yang sama  tahun 2020. Adapun  share impor nonmigas terbesar Januari sampai Februari 2021 yaitu mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$ 3,62 miliar (15,24%) serta mesin dan peralatan mekanis yaitu sebesar US$ 3,53 miliar (14,88%).

“Berdasarkan penggunaan barang  dari Januari sampai Februari ini seluruh barang yang kita impor ini menggunakan barang konsumsi naik 15,24% bahan baku/penolong naik 1,87%, barang modal naik 1,64%,” kata Kepala BPS.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Februari 2021 adalah Tiongkok US$ 8,06 miliar (33,95%), Jepang US$ 1,86 miliar (7,83%), dan Singapura US$1,31 miliar (5,53%). Impor nonmigas dari ASEAN US$4,41 miliar (18,57%) dan Uni Eropa US$1,55 miliar (6,54%).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN