Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pegawai bank Tiongkok sedang menghitung uang kertas 100 yuan dan uang kertas dolar AS di sebuah loket bank yang terletak di provinsi Jiangsu timur Tiongkok pada 6 Agustus 2019. Mata uang yuan Tiongkok menguat pada 6 Agustus, selang sehari setelah Tiongkok membiarkan mata uangnya melemah terhadap dolar, sehingga mendorong AS secara resmi menuding Tiongkok sebagai

Seorang pegawai bank Tiongkok sedang menghitung uang kertas 100 yuan dan uang kertas dolar AS di sebuah loket bank yang terletak di provinsi Jiangsu timur Tiongkok pada 6 Agustus 2019. Mata uang yuan Tiongkok menguat pada 6 Agustus, selang sehari setelah Tiongkok membiarkan mata uangnya melemah terhadap dolar, sehingga mendorong AS secara resmi menuding Tiongkok sebagai "manipulator mata uang". China OUT / AFP / STR

DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Capital Outflow SBN Picu Posisi Utang LN RI Tumbuh Melambat

Nasori/Triyan Pangastuti, Rabu, 15 April 2020 | 10:34 WIB

JAKARTA, investor.id - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Februari 2020 tercatat sebesar US$ 407,5 miliar atau tumbuh 5,4% secara year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang masih sebesar 7,6% (yoy).

“Perkembangan ULN tersebut terutama didorong oleh perlambatan ULN publik. Posisi ULN pemerintah pada akhir Februari 2020 sebesar US$ 200,6 miliar atau tumbuh 5,1% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 9,5% (yoy),” tulis Bank Indonesia dalam publikasi info terbarunya, Rabu (15/4).

Bank sentral merinci, ULN Indonesia pada akhir Februari 2020 yang sebesar US$ 407,5 miliar itu terdiri ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$ 203,3 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 204,2 miliar.

Menurut BI, penurunan ULN pemerintah tersebut dipengaruhi oleh sentimen global sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang meluas sehingga mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik.

Bank Indonesia menggarisbawahi bahwa ULN pemerintah tersebut dikelola secara hati-hati dan kredibel guna mendukung belanja pemerintah pada sektor prioritas dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Sektor prioritas tersebut meliputi sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,4% dari total ULN pemerintah), sektor jasa pendidikan (16,3%), sektor konstruksi (16,2%), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,8%), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6%),” papar BI.

 

ULN Swasta

Di sisi lain ULN swasta tumbuh stabil yaitu tumbuh 5,9% (yoy), relatif sama dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Perkembangan ini dipengaruhi oleh perlambatan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan di tengah peningkatan ULN lembaga keuangan.

“Pada Februari 2020, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan tumbuh sebesar 6,9% (yoy), melambat dari 7,7% (yoy) pada Januari 2020,” jelas BI. Sementara itu, ULN lembaga keuangan tumbuh meningkat dari 0,3% (yoy) pada Januari 2020 menjadi 2,7% (yoy) pada Februari 2020.

Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,4% dari total ULN swasta, adalah sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan.

Bank sentral menilai, struktur ULN Indonesia tersebut tetap sehat, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada Februari 2020 yang sebesar 35,9%, menurun dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 36,3%.

Di samping itu, lanjut BI, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 89,2% dari total ULN. Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” pungkas BI.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN