Menu
Sign in
@ Contact
Search
Seorang pekerja melakukan pengisian BBM jenis Pertalite ke kapal. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww/16)

Seorang pekerja melakukan pengisian BBM jenis Pertalite ke kapal. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww/16)

Catat, Harga Pertalite Masih Bisa Turun

Sabtu, 10 September 2022 | 14:26 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, opsi penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite masih terbuka. Peluang ini sangat bergantung pada pergerakan harga minyak ke depan.

Karena itu, ia mengaku tidak dapat memprediksi kapan harga Pertalite bisa turun.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menaikkan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan solar serta non subsidi yakni Pertamax. Kenaikan ini menyusul kenaikan harga energi, sehingga berdampak pada pembengkakan anggaran subsidi dan kompensasi dalam APBN. Saat ini, harga Pertalite mencapai Rp 10.000 per liter dari sebelumnya Rp 7.650 per liter.

"Nanti kita lihat, kalau harga minyak membaik, ya Insya Allah," kata Arifin di Jakarta, Jumat (9/9/2022).

Baca juga: BBM Naik, Jalur Puncak Bogor Tetap Macet Akhir Pekan 

Di sisi lain, menurut Arifin, masyarakat diminta untuk berhemat mengonsumsi BBM untuk menjaga kuota dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. "Makanya sekarang tolong diminta untuk semua masyarakat, coba bisa tidak kita dengan kesadaran menghemat energi," ujarnya.

Menurut dia, dengan berhemat BBM, artinya juga mengurangi polusi kendaraan. “Cara hemat energinya, yang biasanya keluar bensin 3 liter bisa tidak 2 liter saja, kurangin menghirup udara yang polusi dengan Co2," tutur Arifin.

Meski demikian, pemerintah tetap mendukung daya beli masyarakat dengan merealokasi anggaran yang seharusnya merupakan subsidi energi sebesar Rp 24,17 triliun menjadi bantuan sosial.

Baca juga: Apa Iya, Mobil di Atas 1.400 cc Dilarang Pakai Pertalite? Ini Kata BPH Migas

Mengenai rencana pembatasan pembelian BBM bersubsidi, Arifin menuturkan hbahwa al tersebut masih dalam pembahasan dan pendalaman oleh pemerintah.

Langkah pemerintah ini sejalan dengan upaya yang sedang berlangsung, yaitu merevisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM. “Sekarang sedang dibahas karena ada beberapa opsi. Kan pertimbangannya dalam, kita juga mengindentifikasi. Harus teliti,” tegasnya.

Adapun anggaran subsidi energi sebesar Rp 502 triliun dialokasikan dengan asumsi volume konsumsi untuk BBM jenis solar sebanyak 15 juta kiloliter, sedangkan Pertalite 23 juta kiloliter hingga akhir tahun ini.

Baca juga: Minyak Naik 4% Akibat Pelemahan Dolar dan Ancaman Pasokan

Namun, konsumsi masyarakat makin meningkat di tengah harga ICP yang naik, yaitu diprediksi volume konsumsi terhadap solar hingga akhir tahun ini mencapai 17 juta kiloliter dan Pertalite 29 juta kiloliter.

Faktor ini pun yang menyebabkan pemerintah harus menaikkan harga BBM, mengingat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) makin berat jika harus menambah alokasi subsidi energi dari Rp 502,4 triliun menjadi hampir Rp 700 triliun. “Itu bisa tembus Rp 700 triliun (subsidi dari pemerintah),” ucapnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com