Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto bersama Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison selepas pertemuan bilateral yang digelar di Gedung Parlemen, Canberra, Australia, pada Senin, 10 Februari 2020. Foto: Sekretariat Presiden

Foto bersama Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison selepas pertemuan bilateral yang digelar di Gedung Parlemen, Canberra, Australia, pada Senin, 10 Februari 2020. Foto: Sekretariat Presiden

CEPA RI-Australia Berlaku 5 Juli, Regulasi Perlu Direformasi

Selasa, 23 Juni 2020 | 15:34 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA – Kemitraan Indonesia dengan Australia dalam kerangka Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA)  akan mulai diimplementasikan pada 5 Juli 2020 mendatang. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan bahwa IA-CEPA berpotensi memperkuat keberadaan Indonesia dalam global value chain yang menyumbang hampir 50% dari total perdagangan global. Selain itu, kemitraan ini berpotensi membuat Indonesia menarik lebih banyak investasi dari Australia.

“IA-CEPA juga ditargetkan mampu memperlebar akses promosi dan penanaman modal, economic powerhouse, pengembangan sumber daya manusia Indonesia dan program-program kerja sama ekonomi bagi Indonesia. Namun hal ini perlu diikuti adanya perbaikan-perbaikan di dalam negeri, seperti reformasi regulasi yang memungkinkan masuknya lebih banyak investor Australia ke berbagai sektor di Indonesia,” kata Pingkan dalam webinar “Bagaimana IA-CEPA Akan Berkontriusi pada Ketahanan Pangan dan Ekonomi Indonesia?”, Selasa (23/6/2020).

Menurut Pingkan, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pada 2019, Australia termasuk dalam 10 besar kontributor Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia. Pada tahun itu, nilai investasi Australia mencapai lebih dari AU$ 500 juta di semua sektor kecuali minyak dan gas serta jasa keuangan. Namun, Pingkan menilai investasi Australia tersebut masih kecil dibandingkan dengan investasi asal Amerika Serikat di Indonesia yang tiga kali lebih besar, sebagaimana nilai investasi Tiongkok.

Sementara itu, sepanjang 2018-2019, total perdagangan barang dan jasa kedua negara ialah senilai AU$ 17,8 miliar. Menurut Pingkan, nilai perdagangan antara Indonesia dan Australia ini pun masih dapat ditingkatkan mengingat hubungan diplomatik kedua negara sudah berlangsung selama 70 tahun.

Pingkan mengatakan bahwa untuk menarik lebih banyak investasi dari Australia di sektor-sektor potensial, pemerintah perlu melakukan reformasi regulasi. Pasalnya, regulasi yang rumit sering disebut sebagai salah satu penghambat FDI untuk masuk ke Indonesia. Regulasi yang ada hendaknya dibuat lebih sederhana, terintegrasi antara pusat dan daerah dan lebih efisien secara waktu.

“Hal ini tidak cukup hanya lewat revisi satu regulasi tertentu tapi perlu melihat ke regulasi di Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, berbagai hambatan non-tarif yang diterapkan oleh pemerintah juga perlu dievaluasi,” imbuh Pingkan.

Pingkan melanjutkan, IA CEPA juga berpotensi memperkuat ketahanan pangan di Indonesia, terutama untuk komoditas daging sapi dan gula. Dia menilai  peternak sapi di dalam negeri belum menggunakan cara beternak yang efisien. Selain itu, ketersediaan modal yang memadai untuk memelihara sapi juga mendorong sebagian besar peternak fokus pada pembiakan sapi potong sehingga meminimalisasi ketersediaan sapi bakalan lokal. Sementara untuk gula, Pingkan mengatakan kebutuhan gula domestik yang tinggi yang masih belum mampu dipenuhi petani tebu lokal.

“Adanya kemitraan yang memungkinkan terjadinya transfer knowledge dan juga berbagai kemudahan untuk impor beberapa komoditas pangan ini tentu diharapkan bisa tercapai lewat kesepakatan ini. Adanya demand yang dapat terus dipenuhi oleh supply tentu akan memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” tambah dia.

Menurut Pingkan, berdasarkan data dari The Atlas of Economic Complexity, total nilai ekspor Indonesia ke Australia mencapai US$ 2,8 miliar pada 2018. Beberapa komoditas ekspor Indonesia ke Australia antara lain minyak mentah, minyak bumi olahan, dan kayu berbentuk. Sementara itu, pada tahun yang sama, nilai impor Indonesia dari Australia mencapai US$ 5,82 miliar dengan beberapa komoditas antara lain briket batubara, minyak bumi, dan gandum.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan, Australia merupakan pemasok impor daging sapi terbesar bagi Indonesia dengan nilai impor mencapai 85 ribu ton atau sekitar 53% dari total impor seberat 160.197 ton. Adapun nilai impor daging sapi dari Australia mencapai US$ 296,3 juta setara Rp 4 triliun dari total nilai impor Rp 7,7 triliun. Tidak hanya impor daging sapi, Indonesia juga mengimpor gandum, hewan hidup jenis lembu, serta gula mentah atau tebu dari Australia.(c02)

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN