Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
John Riady dalam World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.

John Riady dalam World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.

Dominasi Asean Meluas di WEF, John Riady: Indonesia Harus Siap Berperan

Minggu, 29 Mei 2022 | 18:20 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

DAVOS, investor.id – Pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss, membahas pentingnya teknologi digital bagi pembangunan perekonomian global dan regional, khususnya perkembangan digitalisasi di kawasan Asean.

Pada acara bertajuk “A Digital Asean for All”, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersama sejumlah menteri negara-negara Asean bertemu dengan para mitra strategis membahas proyeksi serta pembangunan infrastruktur digital di kawasan. Sebagai moderator pertemuan, Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady.

Advertisement

Pertemuan yang dihadiri para pebisnis, figur publik, dan pejabat pemerintahan itu, menyimpulkan bahwa Covid-19 justru membantu negara-negara Asean mengakselerasi teknologi digital.

Terjadi peningkatan pengguna internet lebih dari 10% dalam setahun belakangan. Hal ini pun dianggap sebagai kekuatan penting yang bakal menopang kehidupan masyarakat ke depan, terutama di bidang ekonomi.

Baca juga: Di World Economic Forum, CEO GOTO Bahas Mitra Gojek-Tokopedia, termasuk Driver

Salah satu yang disorot adalah potensi perkembangan pasar internet yang akan terus tumbuh secara signifikan di Asean. “Dalam dekade ini, ekonomi berbasis digital atau internet akan berkontribusi hampir US$ 1 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Asean,” kata Airlangga melalui keterangan tertulis, Minggu (29/5/2022).

Ia mengatakan, pembahasan juga menyinggung tentang kontribusi konkret arus digitalisasi bagi kehidupan masyarakat Asean. “Terdapat persoalan terkait kesenjangan keterampilan dan literasi digital yang harus diselesaikan pemerintah,” ucapnya.

Sementara itu, John Riady mengungkapkan bahwa teknologi digital telah memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi saat ini dan nanti. “Indonesia yang merupakan negara terbesar di Asean harus memanfaatkan perkembangan digitalisasi di tingkat regional,” kata John.

Dia menegaskan, Asean saat ini memegang kendali pertumbuhan PDB ketiga terbesar di dunia, setelah Tiongkok dan India. Bahkan, dari banyak prediksi, kawasan Asia Tenggara bisa menembus sebagai perekonomian keempat terbesar dunia pada 2030 seiring pertumbuhan PDB yang berkesinambungan. “Pada dekade berikutnya, setiap 1 dari 6 rumah tangga yang memasuki kelas konsumsi dunia akan berasal dari Asean,” jelas John.

Baca juga: WIR Asia (WIRG) Beraksi di World Economic Forum, Ternyata Ini sudah Ketiga Kalinya

Lebih lanjut dia mengatakan, Asean memiliki potensi pasar yang sangat besar dan sumber daya yang cukup mumpuni. Pada tahun 2030, lanjutnya, populasi usia kerja Asean akan meningkat sebanyak 40 juta orang, pada saat populasi Tiongkok yang akan berkurang 30 juta orang. “Dan, perbedaan ini akan terus mendalam selama 30 tahun ke depan,” ungkap John.

Seluruh perkembangan yang terjadi di kawasan ini melibatkan pula kemajuan digitalisasi perekonomian. Asean saat ini menjadi rumah bagi 400 juta pengguna internet dengan ekonomi digital yang bernilai lebih dari US$ 100 miliar.

Tidak berlebihan jika menilai bahwa Asean bakal menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi berikutnya di dunia. “Ini adalah kesempatan generasi kita. Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan ini berkelanjutan dan bahwa transformasi digital memberikan manfaat yang inklusif dan nyata bagi semua orang di Asean,” ujarnya.

World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.
World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.

Episentrum Pertumbuhan

Di sisi lain, Indonesia sejauh ini memainkan peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi digital di regional Asean. Pernyataan itu sejalan dengan fakta yang dicatat dalam riset Google dan Bain yang memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia saja mengalami lonjakan tajam sejak 2019.

Bahkan dalam risetnya, disebutkan pada 2030 ekonomi digital di Indonesia akan mencapai nilai sebesar US$ 330 miliar. Terjadi peningkatan lima kali lipat dari 2021 yang sebesar US$ 70 miliar.

John menilai prediksi itu tidak mengejutkan. Sebab, katanya, diukur dari sudut valuasi perusahaan teknologi digital saja terjadi peningkatan 1.000 kali lipat dalam 8 tahun terakhir.

Baca juga: Bertemu Founder WEF, Menkominfo Bahas Peran RI dalam Isu Global

“Pada 2014, value dari seluruh perusahaan teknologi di Indonesia hanya berkisar Rp 1 triliun. Saat ini dengan semakin majunya perusahaan tersebut, nilainya bisa mencapai Rp 1.000 triliun,” ungkap John.

Menurut dia, perkembangan saat ini di Indonesia masih merupakan titik awal. “Kalau kita lihat Indonesia dibandingkan negara-negara seperti Tiongkok atau Amerika Serikat, porsi teknologi market value masih sangat kecil. Contohnya, yang tercatat di Indonesia mungkin teknologi total 3%, barangkali sekarang 4%-5%. Di Tiongkok, MSCI Index teknologi itu ada 26%,” jelas dia.

Salah satu faktor terbesar yang membuat penetrasi teknologi semakin masif, yakni perubahan perilaku konsumen dan pola hidup masyarakat. “Dan, Indonesia itu dihuni sekitar 280 juta populasi, ini yang menjadi peluang besar,” ujar John.

Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Muliaman D Hadad bersama John Riady.
Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Muliaman D Hadad bersama John Riady.

Strategi Bisnis

Melihat potensi perkembangan yang signifikan ke depan itu, John mengungkapkan Indonesia harus ambil bagian dalam perekonomian digital baik pada level nasional maupun regional Asean. Hal ini pula yang mendorong Lippo membentuk ventura pada tahun 2014.

Melalui ventura ini, Lippo berusaha mencari para inisiator perusahaan teknologi yang memiliki potensi berkembang di Indonesia, bahkan Asean. “Seperti yang telah kami kembangkan antara lain RuangGuru, Sociolla, Grab, dan lain-lain,” ungkap John.

Baca juga: Bahlil: WEF 2022, Forum Kolaborasi untuk Industri Hijau

Dengan kata lain, sejauh ini Indonesia mempunyai peluang sebagai episentrum pengembangan teknologi digital di Asean. Bermodal populasi yang besar serta penetrasi internet semakin masif, Indonesia berpeluang melahirkan lebih banyak lagi perusahaan teknologi digital.

Salah satu cara paling efektif, kata John, adalah strategi yang digunakan Lippo dalam mengembangkan berbagai perusahaan teknologi digital. “Strategi pertama, tentunya kami ikut berkolaborasi dengan para pendiri dan inisiator, kami mengawal mereka agar menjadi entrepreneur-entrepreneur yang siap memajukan perusahaan,” kata dia.

Lebih jauh dikatakan, Lippo juga menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan-perusahaan teknologi global yang ingin masuk ke Indonesia, seperti Ping An, Luno Cryptocurrency Exchange, Digital Currency Group, dan sebagainya.

“Para mitra raksasa itu ingin masuk tapi tidak punya mitra, lebih baik perusahaan dari Indonesia bisa menjalin kerja sama itu. Hal ini dilakukan agar bisa menaikkan level dan mengambil benefit dari para pemain global tersebut,” jelas John.

Baca juga: BRI (BBRI) Setop Beri Kredit ke Energi Fosil, Termasuk Batu Bara dan Minyak Bumi

Di sisi lain, terdapat strategi jitu lainnya, yakni mengawinkan keberadaan usaha konvensional dengan perusahaan teknologi digital. Saat ini, kata John, meskipun Indonesia diprediksi akan terus memetik pertumbuhan dari digitalisasi ekonomi, sebagian besar aktivitas masyarakat masih bersandar pada pola konvensional.

Sebaliknya, secara global seperti tren di Tiongkok telah melahirkan konsep omni channel, yakni modus bisnis yang mengkombinasikan layanan digital plus dengan sentuhan fisik. Investasi JD.id terhadap jaringan bisnis perbelanjaan konvensional, misalnya, menyiratkan strategi itu.

“Hal inilah yang kami coba terobos, mengawinkan jaringan bisnis konvensional kami dengan perkembangan teknologi digital, hampir seluruh usaha konvensional kami kini telah beradaptasi dengan teknologi, seperti Siloam yang kini juga mengandalkan layanan terdigitalisasi. Atau paling mengesankan adalah kemitraan MPPA dengan perusahaan teknologi digital,” tutup John.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN