Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro.

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro.

Ekonom: Pemerintah Harus Jaga Ekspektasi Investor untuk Pertahankan Capital Inflow

Kamis, 3 Juni 2021 | 07:40 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah diharapkan mampu menjaga ekspektasi dari tingginya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia. Dalam hal ini kestabilan ekonomi dalam negeri harus dijaga agar investor tetap yakin untuk menaruh uang mereka di Indonesia.

Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro mengatakan pemerintah harus memperhatikan sejumlah variabel untuk mempertahankan kepercayaan investor yaitu  kemampuan penanganan pandemi covid, prospek pertumbuhan ekonomi, dan inflasi. Ekspektasi investor akan bergantung dari sejumlah faktor tersebut.

“Kuncinya yaitu me-manage variabel yang menarik adanya inflow Penanganan covid, prospek pertumbuhan ekonomi positif, dan inflasi.  Apalagi inflasi kita cukup rendah sehingga imbal hasil masih cukup lumayan,” ucap Ari saat dihubungi pada Rabu (2/6).

Setelah sempat keluar pada pekan sebelumnya sebesar Rp 1,48 triliun, dana asing kembali masuk pada periode 24-27 Mei 2021. Berdasarkan data transaksi Bank Indonesia (BI), pada periode tersebut, transaksi non residen di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp 6,13 triliun. Nilai tersebut dikontribusi baik oleh SBN yaitu beli neto sebesar Rp 5,45 triliun dan pasar saham beli neto sebesar Rp 0,69 triliun.

Menurutnya  Indonesia sekarang sedang menjadi emerging market tumpuan  perubahan portofolio dari investor asing yang pegang mata uang selain dolar. Saat ini menjadi momen  dimana indonesia lebih menjadi pilihan bagi investor dibanding negara lain.

“Apalagi Indonesia ini sudah mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang akan datang, yang dianggap meningkatkan ekspektasi positif terhadap perekonomian nasional,” ucap Ari.

Ari mengatakan banyaknya kasus covid di sejumlah negara turut mempengaruhi ekspektasi investor untuk menanamkan modal. Misalnya India yang memiliki jumlah kasus covid yang tinggi. Hal ini membuat investor untuk menaruh modal mereka di negara yang dianggap lebih baik dalam penanganan pandemi.

“Kemudian di negara-negara Eropa yang ternyata masih terjadi kontraksi, dengan pertumbuhan yang rendah di Eropa maka orang menaruh uang di Indonesia, ini menyebabkan rupiah menguat,” kata Ari.

 Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Secara terpisah, Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan sejumlah pihak sudah memperkirakan pertumbuhan  ekonomi Indonesia  lebih baik dari tahun 2020.

Proses pemulihan ekonomi ini sangat mempengaruhi preferensi investor apalagi pemerintah masih menerbitkan beragam surat utang untuk pembiayaan fiskal. Sehingga ini yang akan mendorong kembali masuknya dana asing. Secara imbal hasil yang ditawarkan kita sangat kompetitif, beberapa pemulihan yang kita lakukan sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa negara lain.

“Tetapi volatilitas masih relatif sama dengan tahun 2020.  Ini akan sangat bergantung pemerintah mengatasi pandemi covid 19 di tahun ini,” ucap Yusuf saat dihubungi pada Rabu (2/6).

Ia mengatakan  dari komposisi pembiayaan pemerintah, sampai dengan april 2021 ini penerbitan surat utang negara  sudah jauh lebih besar dari tahun 2020. Namun surat utang Indonesia dinilai sangat kompetitif dibandingkan dengan negara lain. Hal ini juga  didukung oleh beragam proyeksi positif dari lembaga pemeringkat rating.

“Ini menjadi faktor tambahan, kepercayaan dari investor tergambar terhadap lembaga pemerintah. Saya kira ini kombinasi yang menggambarkan kondisi capital inflow,” kata Yusuf.

Saat akan menaruh modal investor akan melihat dan melakukan perbandingan, dengan negara lain, kalau dilihat beberapa negara misalnya Malaysia agak kurang favorable karena sedang mengalami second wave dari pandemi covid-19. Hal ini merupakan keuntungan bagi Indonesia. investor akan memilih negara yang lebih prospektif. Pemerintah harus menjaga kurva kasus pandemi tetap stabil bahkan diharapkan bisa menurun sehingga sektor-sektor lain bisa pulih

“Jangan sampai kita seperti India, Singapura, Malaysia. Ketika kita seperti mereka peluang pemulihan ekonomi terhambat dan harapan yang kita harapkan sebagai stimulan masuknya investor melalui capital menjadi lebih kecil kalau kita menghadapi second wave,”  pungkas Yusuf.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN