Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Erick Bakal Gabungkan Bulog dengan PTPN dan RNI

Jumat, 22 Mei 2020 | 18:31 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) industri pangan di lingkungan perusahaan pelat merah. Ini akan dilakukan dengan menggabungkan Bulog dengan PTPN dan RNI dalam klaster pangan.

"Dengan penggabungan PTPN, Bulog, dan RNI dalam klaster pangan, kami harapkan akan mendorong terbentuknya rantai industri pangan yang terkonsolidasi di BUMN," ujar Erick dalam keterangan persnya, Jum’at (22/5). Ia baru saja melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke Kompleks Pergudangan Bulog di Gedebage, Bandung, Jawa Barat.

Menteri BUMN menjelaskan, saat ini BUMN memiliki 130 ribu hektare tanah di bawah PTPN dan 140 ribu lahan dimiliki rakyat yang dikelola BUMN. Dengan lahan yang dimiliki ini seharusnya BUMN dapat menyeimbangkan kebutuhan 3,5 juta ton gula di Indonesia yang 36% di antaranya dipenuhi oleh swasta dengan 800 ribu-900 ribu ton dari impor.

“Dengan penggabungan klaster pangan ini, kami yakin BUMN dapat mengurangi impor dan ke depan bisa mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas pada 2045,” kata Erick.

Dalam kunjungannya ke gudang Bulog, Erick yang didampingi Direktur Operasional Bulog Tri Wahyudi Saleh memeriksa ketersediaan gula dan beras di Jawa Barat khususnya untuk mengantisipasi jelang perayaan Idul Fitri.

Tri Wahyudi menyampaikan bahwa pasokan gula dan beras di Jawa Barat dalam kondisi aman. "Stok beras dan gula di Kantor Wilayah Jawa Barat dapat dipastikan aman, dapat memenuhi kebutuhan. Untuk stok gula di Jawa Barat adalah 1.853 ton, sedangkan beras 227.997 ton," kata di.

Pada kesempatan yang sama Tri Wahyudi mengklarifikasi mengenai penyebab tingginya harga gula di pasar. “Kami memastikan bahwa tingginya harga gula di pasar bukan disebabkan tidak lancarnya distribusi, namun karena telatnya kedatangan impor gula," ujar Tri Wahyudi.

Erick juga menjelaskan mengenai masalah di bidang pangan yang masih harus dipenuhi melalui impor. "Sama seperti industri kesehatan, impor juga menjadi masalah krusial di industri pangan, dimana kita masih bergantung pada asing. Hal ini perlu direformasi untuk memastikan ketahanan pangan di Indonesia," pungkas dia.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN