Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Formasi Menteri Ekonomi Dinilai Tak Perlu Dirombak

Minggu, 18 April 2021 | 05:08 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  - Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai tidak perlu ada perombakan Kabinet Indonesia Maju, khususnya untuk menteri-menteri bidang ekonomi. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, butuh kerja cepat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

“Saat dilakukan reshuffle, ada potensi perubahan kebijakan yang akan ditempuh menteri yang baru. Ini yang perlu penyesuaian kembali, padahal sekarang kan sebenarnya sudah ada kerangka kerja yang disepakati, sehingga ini bisa mengubah ritmenya,” kata Yusuf Rendy kepada Beritasatu.com, Sabtu (17/4/2021).

Diakui Rendy, kondisi pemulihan ekonomi saat ini memang masih berjalan lambat. Namun menurutnya tidak fair bila kemudian tanggung jawab pemulihan ekonomi tersebut hanya dibebankan kepada beberapa kementerian di bidang ekonomi saja, mengingat saat ini masih dalam kondisi pandemi Covid-19. 

“Kalau bicara pemulihan ekonomi, apalagi konteksnya di tengah pandemi, ini sangat bergantung pada penyebaran Covid-19, sehingga juga melibatkan banyak kementerian/lembaga untuk penyelesaiannya. Jadi, meskipun tren pemulihan ekonomi masih berjalan lambat, saya rasa kurang fair kalau kemudian dilakukan reshuffle untuk menteri yang berkaitan dengan bidang ekonomi. Tentu kita menghormati keputusan reshuffle tersebut karena ini hak prerogatif presiden. Tetapi saya lihat urgensinya belum terlalu nampak, apalagi kalau kita bicara pemulihan ekonomi,” kata Rendy.

Meski begitu, beberapa menteri di bidang ekonomi memang masih harus meningkatkan kinerja. Misalnya saja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam menyusun anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Untuk PEN bidang perlindungan sosial, di 2021 ini ada beberapa program yang dihilangkan. Misalnya subsidi gaji, dan juga Bantuan Subsidi Tunai (BST) yang akan berakhir April ini. Pemerintah beralasan, beberapa pos dalam program Perlindungan Sosial sudah tidak dibutuhkan lagi karena pemulihan ekonomi sudah terjadi. Padahal kalau kita lihat beberapa indikator, misalnya indeks penjualan riil yang masih berada pada level pertumbuhan negatif. Jadi sebetulnya masih ada beberapa indikator yang menggambarkan pemulihan ekonominya belum optimal, sehingga bantuan-bantuan tersebut harusnya tetap diberikan,” kata Rendy.

Ketua Hipmi Tax Center, Ajib Hamdani
Ajib Hamdani

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ajib Hamdani juga punya pandangan yang sama.

Menurut dia, kinerja para menteri, khususnya bidang ekonomi sebetulnya sudah on the track. Sehingga untuk kementerian bidang ekonomi, Hipmi melihat formasinya tetap saja dengan yang ada saat ini.

“Dalam konteks ekonomi, kita membutuhkan program-program yang sustain, dan saya pikir tren sekarang masih cenderung positif. Apalagi harapan dari Bapak Presiden bagaimana nanti di kuartal II 2021 pertumbuhan ekonominya bisa tumbuh 7%. Artinya Pak Jokowi sangat konsen bagaimana pertumbuhan ekonomi tetap dalam tren yang bagus,” kata Ajib.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN