Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IDEAS : Dampak Covid-19 Buka Kerentanan Struktur APBN Terkait Posisi Utang.

Triyan Pangastuti, Jumat, 15 Mei 2020 | 23:06 WIB

JAKARTA, investor.id - Lembaga studi Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mengungkapkan pandemi coronavirus (Covid-19) telah membuka kerentanan struktural APBN yang telah menahun terkait defisit anggran dan ketergantungan pada pembiayaan utang yang masif.

Bahkan Ideas menyoroti utang yang berasal dari penerbitan utang baru, pembayran pokok dan beban bunga.

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono memperkirakan dengan adanya wabah pandemi Covid-19, maka pemerintah akan menarik utang mencapai Rp1.439,8 triliun.

“Dengan pemerintah semakin dalam terjerat perangkap utang, berutang untuk bayar utang maka pembuatan utang baru oleh pemerintah harus meningkat drastic dari waktu ke waktu” jelasnya dalam laporannya, Jumat (15/5).

Dia mencontohkan pada tahun 2010, jumlah penambahan utang baru pemerintah mencapai Rp222,4 triliun dan penambahan utang sebanyak Rp938 triliun pada 2019. Utang tak hanya digunakan untuk membiayai penanganan dampak pandemi corona, namun juga menutup lesunya penerimaan perpajakan di tengah tekanan ekonomi.

Kendati demikian peningkatan utang besaran utang baru setiap tahunnya akan berkolerasi kuat dengan besaran beban bunga dan cicilan dari pokok utang.

“Utang baru bukan fungsi dari defisit anggaran tetapi fungsi dari stok utang pemerintah” ujarnya.

Menurutnya beban utang melonjak hampir empat kali lipat dalam satu dekade terakhir, dari Rp 88,4 triliun pada tahun 2010, menjadi Rp 335,2 triliun.

Sedangkan pada saat yang sama pembayaran cicilan pokok utang berplipat lebih dari empat kali  dari Rp 127 triliun menjadi Rp 539 triliun.

“Penarikan utang yang masif di masa pandemi dipastikan akan meningkatkan beban utang secara signifikan di masa depan," ucap Yusuf.

Disamping itu, IDEAS memperkirakan total utang pemerintah akan meningkat mulai tahun ini hingga tahun-tahun berikutnya. Sebab, total utang pemerintah setidaknya sudah menembus Rp5.192 triliun pada Maret 2020 atau naik dua kali lipat dari Rp2.601 triliun pada Oktober 2014.

"Pada akhir tahun ini, total utang pemerintah diperkirakan akan mencapai Rp5.784 triliun atau 34,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB)," katanya.

Pasalnya, rata-rata total utang baru pemerintah meningkat sekitar Rp138,2 triliun per bulan selama Januari-Maret 2020 atau empat kali lebih tinggi dari rata-rata utang baru sebesar Rp35,2 triliun pada Juli 2013 sampai Desember 2019. Begitu pula bila dibandingkan dengan periode Juli 2009 sampai Juni 2013 dengan rata-rata penambahan utang Rp8,9 triliun.

"Utang bukanlah tanpa biaya, bahkan sangat mahal. Beban bunga utang melonjak hampir empat kali lipat dalam satu dekade terakhir," ungkapnya.

IDEAS mencatat beban utang setidaknya sudah meningkat dari Rp88,4 triliun pada 2010 menjadi 2Rp335,2 triliun pada 2019. Begitu pula dengan pembayaran cicilan pokok utang yang melebihi empat kali lipat, dari Rp127 triliun menjadi Rp539 triliun.

“Timbunan utang akan mengancam keberlanjutan fiskal ketika ia semakin tidak terkendali. Sebab risiko utang terjaga, ketika kesimbangan primer selisih antara penerimaan negara dan belanja negara minus bunga utang, bernilai positif dan jumlahnya mencukupi untuk membayar bunga utang”ujarnya.

Yusuf mengatakan peningkatan beban utang dan cicilan pokok terjadi karena terhimpit penerimaan pajak yang tak selalu meningkat signifikan setiap tahunnya. Sebagai gambaran, beban utang sekitar 12,2% dari penerimaan pajak pada 2010.

Lalu meningkat jadi 22,9% dari penerimaan pajak pada 2020. Sementara cicilan pokok utang akan meningkat dari sekitar 17,6% dari penerimaan pajak pada 2010 menjadi 36,9% pada 2020.

"Beban bunga utang dan cicilan pokok utang akan mencapai 59,6% dari penerimaan pajak pada tahun ini. Pembuatan utang baru menjadi terbenarkan dan bahkan seolah menjadi tugas mulai, terlebih kini di masa pandemi," tuturnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN