Menu
Sign in
@ Contact
Search
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (07/08/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (07/08/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

INDEF Beberkan Tantangan Ekonomi Kuartal III-IV, Jangan Euforia Dulu!

Minggu, 7 Agustus 2022 | 20:23 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 yang mencapai 5,44%. Sebab pertumbuhan ekonomi kuartal II lebih banyak didorong oleh faktor musiman seperti momentum Ramadan dan Idulfitri. Pemerintah mesti mengantisipasi kemungkinan terjadinya penurunan pada pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022.

“Jangan terlalu euforia dulu, karena tantangan ke depan terutama pada kuartal III dan IV ini cukup besar. Apalagi pada kuartal III momentum kemewahan musiman entah itu hari raya keagamaan ataupun event-event besar lainnya relatif jarang. Tentu ini akan berimplikasi pada kinerja perekonomian,” kata Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (7/8/2022).

Dia mengatakan, seiring ketiadaan momen musiman hari besar keagamaan yang mendorong konsumsi pada kuartal II, maka upaya yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengatasi persoalan inflasi yang mulai menggerogoti daya beli masyarakat. Menurut Eko, faktor musiman pada kuartal II tidak akan terjadi pada kuartal III.

Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,44%, Pengusaha Merespons

“Gambaran umumnya kemungkinan pertumbuhan ekonomi kuartal III akan lebih rendah dari kuartal II karena tidak ada momentum hari raya. Hal ini akan menjadi tantangan, karena inflasi menggerus daya beli yang kemungkinan membuat konsumsi menjadi lesu kembali,” tutur Eko.

Tantangan yang akan dihadapi pada kuartal III dan IV-2022 adalah persoalan ketidakpastian global yang masih mempengaruhi perekonomian dunia sejauh ini. Hal ini bisa berdampak ke perekonomian Indonesia dari sisi geopolitik. Belum berakhirnya perang Rusia-Ukraina membuat gejolak ekonomi belum akan mereda. Situasi menjadi lebih rumit saat tensi geopolitik Taiwan dan Tiongkok semakin membesar pada semester II-2022.

“Kalau dilihat ketidakpastian global terutama geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina sekarang juga ada ketegangan antara Taiwan dan Tiongkok. Ini akan memberikan ketidakpastian yang lebih tinggi geopolitik, yang tadinya di Eropa sekarang bergeser ke Asia,” tandas Eko.

Dari sisi keuangan, agresivitas kenaikan suku bunga acuan The Fed masih akan terus berlangsung sampai ada tanda-tanda tekanan inflasi di Amerika Serikat akan mereda. Hal ini mengindikasikan akan adanya peningkatan volatilitas keuangan pada semester II 2022, bahkan berlanjut pada 2023.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 2022 Diyakini Capai 5,2%

“Mereka punya target menghentikan agresivitas kalau inflasi Amerika Serikat mencapai 2%. Saat ini posisi inflasi Amerika Serikat sudah 9,1%. Dengan demikian tahun depan masih akan terjadi kenaikan Fed Fund Rate yang kemungkinan berimplikasi pada volatilitas nilai tukar dan instrumen keuangan lain,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menambahkan, upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi terkendala oleh kondisi inflasi Indonesia yang tinggi. Pada Juli 2022 terjadi inflasi sebesar 0,64%. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juli) 2022 sebesar 3,85% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2022 terhadap Juli 2021) sebesar 4,94%.

“Artinya pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi, ini menjadi satu bahaya yang cukup signifikan. Konsekuensi pertumbuhan tinggi dan inflasi tinggi ini akan menimbulkan ketidakpastian terutama bagi penduduk miskin,” kata Tauhid.

Dia menegaskan, inflasi pada kelompok pangan bergejolak secara year on year sudah mencapai 11,47% pada Juli 2022. Hal ini disebabkan kenaikan harga bawang, cabai merah, telur, dan daging ayam. Menurut Tauhid memperkirakan permasalahan pangan ini akan terjadi hingga akhir tahun 2022 karena faktor iklim.

Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,44%, KSP: Resesi Ekonomi Mungkin Tidak Terjadi

“Namun kita tidak melihat kemampuan, pemerintah mengatasi persoalan tersebut bertahun-tahun. Tidak ada terobosan masal mengatasi bagaimana harga bawang merah, cabai merah, telur, dan daging ayam itu lebih stabil,” kata dia.

Secara terpisah, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Apalagi saat ini mobilitas masyarakat juga jauh lebih longgar dari kondisi awal pandemi Covid-19. Hal tersebut diyakini akan berdampak positif ke pertumbuhan ekonomi.

“Pada kuartal III, pertumbuhan tetap didorong lebih tinggi, seiring dengan tetap meningkatnya mobilitas masyarakat dan memaksimalkan momentum acara G20 di beberapa provinsi di Indonesia yang menjadi destinasi wisata,” ujar Amalia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com