Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stasiun pengisian kendaraan listrik untuk umum. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Stasiun pengisian kendaraan listrik untuk umum. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

SIAPKAN INVESTASI US$ 17 MILIAR

Indonesia Battery Corporation Resmi Terbentuk

Sabtu, 27 Maret 2021 | 23:53 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indonesia Battery Corporation (IBC) akhirnya secara resmi terbentuk. Perusahaan yang fokus pada pengembangan baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir itu diawali dengan penandatanganan perjanjian pemegang saham (shareholders’ agreement) pada 16 Maret lalu.

IBC dimiliki oleh empat perusahaan BUMN sektor pertambangan dan energi, yakni Holding Industri Pertambangan - MIND ID, PT Antam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) dengan komposisi saham masing-masing sebesar 25%. Adapun investasi industri baterai dari hulu hingga ke hilir ini bakal mencapai US$ 17 miliar hingga 2030 dengan produksi baterai sekitar 140 giga watt hour (GWh).

Dalam skenario awal, holding akan dinamai Industri Baterai Indonesia (IBI), bukan IBC. Pembentukan IBC relatif lebih cepat dari target Kementerian BUMN sekitar Juni 2021.

Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: IST
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: IST

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick thohir menyampaikan apresiasi kepada jajaran direksi, komisaris BUMN, dan Kementerian sehingga terbentuknya perusahaan yang fokus pada baterai kendaraan listrik.

“Kerjaannya belum selesai karena ini baru kertas saja. Yang kami harapkanbagaimana implementasi nantinya terbukti di 2022, 2023, yakni hasil dari produksinya sendiri,” kata Erick dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Jumat (26/3/2021).

Direktur Utama Antam Dana Amin. Foto: IST
Direktur Utama Antam Dana Amin. Foto: IST

Turut hadir dalam jumpa pers tersebut Wakil Menteri BUMN 1 Pahala N Mansury, Ketua Tim Percepatan Proyek EV Battery Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah, Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, Direktur Utama Antam Dana Amin, Direktur Strategi, Portofolio & Pengembangan Usaha Pertamina Iman Rachman, dan Direktur Utama Pertamina Power Indonesia Dannif Danu Saputro.

Direktur Utama Pertamina Power Indonesia Dannif Danu Saputro. Foto: IST
Direktur Utama Pertamina Power Indonesia Dannif Danu Saputro. Foto: IST

Erick mengungkapkan, proses terbentuknya IBC berjalan sekitar satu tahun. Pembentukan IBC merupakan arahan Presiden Joko Widodo dalam menyikapi tren masa depan. Pasalnya Indonesia pernah melewatkan dua kali masa keemasan yakni di era 70-an ketika booming industri minyak bumi dandi era 2000-an ketika booming batu bara.

Cadangan nikel berbagai negara
Cadangan nikel berbagai negara

Indonesia tidak ingin melewatkan momentum penting saat ini, karena kendaraan listrik. Indonesia harus menyongsong era kendaraan listrik. Sebab, Indonesia memiliki kekayaan nikel sekitar 24% cadangan dunia. Nikel merupakan salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik.

“Kita mengambil langkah berani tidak mau kalah dengan Tiongkok, Amerika Serikat, maupun Korea Selatan. Kita menjadi pemain global,” ujarnya.

Erick menjelaskan, IBC akan menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang menguasai teknologi dan pasar global untuk membentuk entitas patungan di sepanjang rantai nilai industri baterai kendaraan listrik Mulai dari pengolahan nikel, material precursor dan katoda, hingga battery cell, pack, energy storage system (ESS), dan recycling.

Pada saat ini IBC menggandeng mitra pemain baterai dunia yakni CATL Tiongkok dan LG Chem Korsel. CATL siap dengan modal US$ 5 miliar dan LG Chem mencapai US$ 13 miliar-17 miliar. Namun nantinya IBC masih membuka kesempatan bermitra dengan pemain baterai lainnya seperti asal Amerika Serikat maupun Jepang.

“Pertengahan April pak Menko Luhut, saya dan Menteri Perdagangan akan ke Amerika. Salah satunya melihat potensi kerja sama dengan pihak di AS. Kami ada rencana mendatangi Jepang dan ingin bicara hal yang sama,” ujarnya.

Bukan Monopoli

Erick menegaskan, eksistensi IBC bukan ingin memonopoli industri baterai kendaraan listrik. Melainkan menggandeng mitra dengan berbagai pihak. Namun harus tetap terkonsolidasi dengan baik. Pasalnya tanpa konsolidasi maka hilirisasi dikhawatirkan tidak berjalan baik dan pada akhirnya hanya mengalihkan kekayaan alam untuk dipakai bangsa lain untuk diolah dan masuk lagi dijual ke Indonesia.

Perkembangan prduksi berbagai jenis nikel
Perkembangan prduksi berbagai jenis nikel

“Kita bukan ingin memonopoli tapi menjadi lalu lintas hilirisasi dan value added (nilai tambah) agar punya bargaining power lebih besar. Selama ini kita dilihat sebagai market,” tuturnya. Erick mencontohkan, kerja sama dengan CATL dan LG bukan hanya memproduksi baterai mobil listrik. Namun juga baterai motor listrik, baterai stabilisator untuk pembangkit energi terbarukan, serta baterai tenaga listrik untuk rumah tangga.

“Di mobil karena kemampuan partner global player, kita dalam posisi mengalah. Tapi di motor listrik dan stabilisator, kita leading,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, pola kerja sama ini mengunci hilirisasi sehingga bermanfaat bagi Indonesia. Tidak hanya sebagai pasar melainkan adanya pertumbuhan lapangan kerja lantaran pabriknya berlokasi di Indonesia.

Wakil Menteri BUMN 1 Pahala N Mansury. Foto: IST
Wakil Menteri BUMN 1 Pahala N Mansury. Foto: IST

Sementara itu, Pahala Mansury menambahkan, Indonesia ingin memiliki total kapasitas produksi baterai mencapai 140 GWh pada 2030. Dari jumlah tersebut sekitar 50 GWh akan diekspor. Sedangkan sisanya akan digunakan untuk industri baterai di dalam negeri. Pasalnya diproyeksikan motor listrik mencapai 10 juta unit di 2030 dan diperiode yang sama jumlah mobil listrik lebih dari 2 juta unit.

“Sekitar 70% maunya kita bisa diproduksi di Indonesia sampai jadi baterai cell 140 GWh. Tahap satu memproduksi 10-30 GWh. Perkembangan nanti tentunya tergantung mitra yang dimiliki,” ujarnya.

Pahala menuturkan, dalam waktu enam bulan ke depan, Antam bersama calon mitra memulai studi. Setelah studi selesai maka dimulai pengembangan tambang dan kemudian ke fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter).

Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak. Foto: IST
Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak. Foto: IST

Di acara yang sama, Orias mengungkapkan Antam telah melakukan penjajakan dengan calon mitra. Dengan terbentuknya IBC maka pembicaraan tersebut dilanjutkan oleh IBC.

Sementara itu Zulkifli Zaini menegaskan, PLN akan memenuhi kebutuhan listrik pabrik baterai.

Selain itu, PLN siap menunjang ekosistemkendaraan listrik dengan keandalan pasokan listrik yang dimiliki. Bahkan PLN telah menyiapkan model bisnis stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan stasiun penukaran baterai kendaraal listrik umum (SPBKLU). Stasiun pengisian daya tersebut dibangun guna menunjang kebutuhan pengguna kendaraan listrik.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini. Foto: IST
Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini. Foto: IST

Dia pun menyebut ada potongan tarif listrik hingga 30% bila melakukan pengisian daya kendaraan listrik di rumah pada malam hari. “PLN siap menyambut naiknya konsumsi listrik di waktu mendatang,” ujarnya.

Pemetaan Pertamina

Sedangkan Pertamina menyebut saat ini merupakan era transisi energy dari fosil ke listrik. Imam Rachman mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan PLN dalam proyekpercontohan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang terdapat SPKLU dan SPBKLU.

Direktur Strategi, Portofolio & Pengembangan Usaha Pertamina Iman Rachman. Foto: IST
Direktur Strategi, Portofolio & Pengembangan Usaha Pertamina Iman Rachman. Foto: IST

“Ini memang transisi energi dari kami, dari fuel jadi EV. Ini masa depan Pertamina ke depan,” ujarnya.

SVP Srategy & Investment PT Pertamina (Persero), Daniel S Purba sebelumnya menjelaskan, ada tujuh tahapan dalam proses value chain ekosistem baterai. Pertamina memiliki kompetensi empat tahapan, yakni kilang prekursor, kilang katoda, cell. dan battery pack.

Pertamina sudah mencermati dan aktif mengikuti perkembangan teknologi baterai, pemanfaatan, siapa pemainnya, dan skala keekonomiannya sejak 4-5 tahun silam.

Daniel S. Purba, SVP Strategy & Investment PT Pertamina (Persero) dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Pembentukan Holding Baterai, live di Beritasatu TV, Kamis (4/3/2021). Sumber: BSTV
Daniel S. Purba, SVP Strategy & Investment PT Pertamina (Persero). Sumber: BSTV

Pertamina, kata Daniel, juga sudah melakukan pemetaan ekosistem industri baterai. Bahkan, peluang bisnis baterai sudah masuk dalam masterplan perusahaan. Itu karena dalam 20-30 tahun ke depan, semua kendaraan beralih ke baterai, tak lagi menggunakan bahan baar minyak (BBM) seperti saat ini.

“Kami sudah petakan forecast dari EV sales. Misalnya, sampai 2030, berapa penjualan motor mobil listrik. Kami juga petakan berapa persen motor listrik yang beredar. Bisa saja 10% penjualan motor baru, tapi yang beredar di pasar sejauh ini baru 2-3%- nya,” ucap dia.

Ketua Tim Percepatan Proyek EV Battery Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah. Foto: IST
Ketua Tim Percepatan Proyek EV Battery Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah. Foto: IST

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pengembangan EV Battery BUMN/Komisaris Utama MIND ID, Agus Tjahajana Wirakusumah mengemukakan, tim yang dipimpinnya sudah terbentuk sejak Februari 2020.

Tim tersebut kemudian menyusun visi bersama dan menetapkan ekosistem baterai kendaraan listrik, dari hulu ke hilir. Antam akan menyuplai bijih nikel yang diproses menjadi nikel sulfat, kobalt sulfat dan diproses lagi menjadi prekursor dan katoda.

Tahapan selanjutnya, katoda diproses menjadi cell dan baterai. Selama 5-6 bulan terakhir, Tim Percepatan Pengembangan EV Battery BUMN mencari mitra yang mengerti teknologi baterai. Tercatat ada 11 perusahaan baterai paling andal di dunia. Dari jumlah itu, setidaknya ada dua perusahaan yang serius bekerja sama.

Perkembangan harga nikel
Perkembangan harga nikel

Tim memberi kesempatan kepada mitra untuk melakukan due diligence, antara lain mengenai ketersediaan cadangan nikel Antam. Dari proses ini, kami akan mengetahui tahap selanjutnya, terutama berapa kapasitas yang akan dibangun dan berapa investasinya,” papar dia.

Pertamina Sudah Siap

Sementara itu, SVP Srategy & Investment PT Pertamina (Persero), Daniel S Purba menjelaskan, ada tujuh tahapan dalam proses value chain dalam ekosistem baterai.

“Tahapannya panjang, dari mulai pertambangan nikel, pengolahan nikel di smelter, precursor plant, cathode plant, battery cell, battery pack, hingga recycling,” tutur dia.

Menurut Daniel, Pertamina menggarap kilang prekursor, kilang katoda, serta cell dan battery pack. “Ke depan, recycle seperti apa, itu sudah kami perhitungkan. Kompetensi kami ada di empat bagian dari 7 value chain yang ada,” kata dia.

Daniel Purba mengungkapkan, Pertamina sudah mencermati dan aktif mengikuti perkembangan teknologi baterai, pemanfaatan, siapa pemainnya, dan skala keekonomiannya sejak 4-5 tahun silam.

“Ini bukan hal baru bagi Pertamina, kami merespons energy transition yang sekarang menjadi tren global di dunia energi. Pertamina merespons ke arah mana industri energi akan berkembang,” tegas dia.

Nilai ekspor biji nikel Indonesia
Nilai ekspor biji nikel Indonesia

Pertamina, kata Daniel, sudah melakukan pemetaan ekosistem industri baterai. Bahkan, peluang bisnis baterai sudah masuk dalam masterplan perusahaan. Itu karena dalam 20-30 tahun ke depan, semua kendaraan beralih ke baterai, tak lagi menggunakan bahan baar minyak (BBM) seperti saat ini.

“Kami sudah petakan forecast dari EV sales. Misalnya, sampai 2030, berapa penjualan motor mobil listrik. Kami juga petakan berapa persen motor listrik yang beredar. Bisa saja 10% penjualan motor baru, tapi yang beredar di pasar sejauh ini baru 2-3%-nya,” ucap dia. (az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN