Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi stagflasi

ilustrasi stagflasi

Indonesia Tetap Miliki Prospek Ekonomi yang Baik

Rabu, 1 Desember 2021 | 12:44 WIB
Triyan Pangastuti ,Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com) ,Tri Listiyarini

JAKARTA, investor.id –  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Kebijakan Publik Sutrisno Iwantono menuturkan, risiko-risiko baru yang muncul berbarengan dengan pemulihan ekonomi 2022 asalkan direspons dengan baik oleh pemerintah maka Indonesia tetap memiliki prospek ekonomi yang baik. Tapi yang pasti, inflasi yang tinggi di luar negeri biasanya menular, termasuk ke Indonesia, apalagi Indonesia mengimpor terlalu banyak bahan baku.

“Kalau kita kurangi impor maka efek inflasi luar negeri bisa dikurangi tapi saya kira ini sudah diantisipasi, juga soal The Fed yang menaikkan suku bunga, ini memang bisa berdampak ke pasar modal tapi pasti sudah ada skenario mengantisipasinya. Tapi intinya risiko-risiko baru pada tahun depan asal direspons degan benar maka dampaknya kecil buat kita,” ujar dia kepada Investor Daily, Selasa (30/11).

Ketua Umum Kolaborasi Usaha Kecil dan Menengah Nasional (KOMNAS UKM) Sutrisno Iwantono
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Kebijakan Publik Sutrisno Iwantono

Sutrisno mengatakan, pelaku usaha sendiri sebenarnya lebih takut dengan terjadinya gelombang ketiga Covid-19 ketimbang risiko bar u, seperti volatilitas harga dan inflasi global (imported inflation).

“Yang lebih ditakuti itu gelombang tiga, makanya yang perlu dilakukan sebenarnya adalah bagaimana pemerintah bisa menjaga Indonesia dari kemungkinan gelombang ketiga itu, waspada dengan menutup diri dari penularan, toh domestik masih bisa bergerak,” ungkap Sutrisno.

Hantu stagflasi datang lagi
Hantu stagflasi datang lagi

Meskipun gelombang ketiga terjadi sekalipun, potensi stagflasi belum akan menghinggapi Indonesia, terbukti saat gelombang kesatu dan kedua tingkat konsumsi nasional itu justru terbatas, malah anjlok hingga di bawah 50% dari produk domestic bruto (PDB).

“Stagflasi itu kalau harga-harga barang naik tapi tidak dibarengi dengan produksi. Karena itu, menjadi tugas pemerintah agar hal seperti itu tidak terjadi adalah dengan produksi jangan dihambat dan jangan takut konsumsi. Konsumsi didorong produksi juga didorong sehingga inflasi terkendali. Bagaimana menaikkan konsumsi, ciptakan demand, masyarakat harus punya penghasilan, makanya genjot belanja pemerintah dan harus tepat sasaran,” ujar dia.

Bisa Berdampak ke Indonesia

Shinta W Kamdani, Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
Shinta W Kamdani, Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia   Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, seperti telah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, risiko imported inflation sangat bisa berdampak ke ekonomi Indonesia ketika pemulihan ekonomi terjadi. Ini karena salah satu parameter pemulihan adalah normalisasi impor bahan baku/penolong dan barang modal untuk keperluan produksi manufaktur di dalam negeri.

“Sementara negara mitra dagang utama Indonesia adalah negara-negara yang saat ini memiliki risiko inflasi yang di atas kewajaran akibat berbagai isu, seper ti krisis energ dan peningkatan biaya logistik perdagangan, misalnya Tiongkok untuk impor bahan baku/penolong atau negara-negara Eropa/Amerika Serikat untuk impor barang modal,” papar Shinta. Shinta menuturkan, untuk meminimalisir dampak imported inflation sebetulnya cara paling efektif adalah dengan mengurangi ketergantungan impor bahan baku/penolong dan barang modal dari negara-negara yang sedang mengalami inflasi tinggi.

Hal ini bisa dengan cara melakukan diversifikasi suplai ke supply chain dalam negeri atau mengimpor dari negara lain yang inflasinya masih relatif normal (perbandingan dengan prapandemi).

Namun, diversifikasi supply ini umumnya tidak mudah karena supplier perlu memenuhi kebutuhan spesifikasi, standar, dan pricing range barang yang diperlukan oleh industri manufaktur nasional guna memastikan daya saing output produksi manufakturnya tetap terjaga.

Cara lainnya adalah dengan counterbalance melalui peningkatan kinerja ekspor, khususnya ekspor dengan proporsi impor rendah, seperti komoditas petanian, pertambangan, perikanan, atau produk manufaktur yang TKDN- nya relatif tinggi, serta meminimalisir impor tidak perlu (menekan impor barang konsumsi) sepanjang periode di mana imported inflation berisiko terjadi sehingga secara tidak langsung Indonesia menjaga depresiasi nilai tukar tidak terlalu tinggi.

“Kita juga bisa mitigasi dengan peningkatan penggunaan LCS untuk transaksi perdagangan (khususnya impor) guna menekan kebutuhan terhadap dolar AS demi perdagangan dan meminimalisir tekanan terhadap nilai tukar,” papar dia.

Menurut Shinta, pelaku usaha sebetulnya lebih mewaspadai dampak penyebaran pandemi varian baru Covid-19 daripada risiko imported inflation terhadap proyeksi pemulihan ekonomi tahun depan. Menurut pelaku usaha, risiko pandemi ini faktor yang jauh lebih sulit dikendalikan karena perlu kerja sama masyarakat, apabila salah penanganan bisa menimbulkan social chaos, seperti kerusuhan di Eropa.

Selain itu, measures yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengendalikan penyebaran jauh lebih sedikit daripada measures untuk mengendalikan imported inflation dan measures yang paling efektif sejauh ini adalah pengetatan mobilitas (lockdown) yang sangat kontraproduktif terhadap upaya pemulihan ekonomi.

“Jadi, kami harap pemerintah betul- betul fokus mencegah third wave pandemi atau kebocoran-kebocoran penyebaran pandemi di masa mendatang,” kata Shinta. (jn)

Baca lengkap di epaper Investor Daily

https://subscribe.investor.id/

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN