Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja mengumpulkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit milik PTPN VIII di Cimulang, Kabupaten Bogor, Rabu (6/1/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja mengumpulkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit milik PTPN VIII di Cimulang, Kabupaten Bogor, Rabu (6/1/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Industri Kelapa Sawit Berhasil Tekan Angka Kemiskinan

Kamis, 1 April 2021 | 11:12 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Peranan industri kelapa sawit sangat penting untuk menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu, kelapa sawit menunjukkan kontribusinya bagi pemenuhan pangan di dalam negeri, bahkan dunia.

Berdasarkan Riset Palm Oil Agribusiness Strategis Policy Institute (Paspi), perkebunan kelapa sawit mampu membangun daerah miskin dan terbelakang untuk menjadi sentra perekonomian baru.

Sentra ekonomi baru tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua, dan Papua Barat.

Direktur Eksekutif Paspi Tungkot Sipayung mengatakan, kelapa sawit membantu dunia dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan mengatasi persoalan kemiskinan.

“Tiga jalur industri minyak sawit telah menolong pengentasan kemiskinan dunia. Pertama, jalur produksi melalui sentra perkebunan sawit. Kedua, jalur hilirisasi di negara importir minyak sawit. Ketiga, jalur konsumsi minyak sawit,” ujar dia, dalam acara Diskusi Forwatan di Jakarta, Kamis (1/4).

Klaim tersebut berdasarkan fakta bahwa setelah era bisnis Hak Pengusahaan Hutan (HPH) berakhir, muncul kota mati, atau kota hantu karena ekonomi tidak bergerak, sehingga masyarakat menjadi miskin.

Di situlah, peran kebun sawit rakyat yang merestorasi lahan eks HPH menjadi daerah produktif dan lestari secara lingkungan. Di samping itu, perekonomian mulai bergerak dengan hadirnya perkebunan sawit yang berkelanjutan.

Kontribusi Ekonomi

Dari aspek ekonomi, telah terjadi nilai transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan ekonomi di perdesaan dan perkotaan. Nilai transaksi masyarakat kebun sawit dengan masyarakat perkotaan mencapai Rp 202 triliun/tahun dan masyarakat kebun sawit dengan ekonomi perdesaan sebesar Rp 59, 8 triliun/tahun.

Pertumbuhan perkebunan sawit di setiap daerah telah berkontribusi menurunkan kemiskinan. Kondisi ini juga terjadi di negara Malaysia, Thailand, dan Papua Nugini.

Begitu juga, di luar negeri, ada kesempatan kerja yang tercipta di industri hilir negara importir sawit. Penciptaan lapangan kerja mencapai 2,73 juta orang  di negara tujuan ekspor sawit. Income generating pun mencapai Rp 38 triliun untuk program hilirisasi minyak sawit di negara importir.

“Indonesia negara eksportir mampu meningkatkan kinerja sawit. Sebenarnya, Uni Eropa menolak sawit dengan berpura-pura,” imbuh Tungkot Sipayung.

Pengamat Kehutanan Bedjo Santoso menambahkan, industri kelapa sawit di Tanah Air mampu menyerap 16,2 juta orang tenaga kerja. Rinciannya, sebanyak 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Devisa kelapa sawit pada 2018 juga sebesar Rp 240 triliun.

Lahan dan Target Perkebunans

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjen Perkebunan Kementan)  Heru Tri Widarto mengatakan, total luas lahan sawit di Indonesia mencapai 16,38 juta hektare.

Dari jumlah tersebut, luas perkebunan sawit rakyat 6,72 juta hektare. Sementara itu, potensi peremajaan sawit rakyat mencapai 2,78 juta hektare, dengan sebaran yang dominan di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Secara keseluruhan, Ditjen Perkebunan menargetkan, nilai ekspor komoditas utama, andalan, dan pengembangan perkebunan senilai US$ 74 miliar pada periode tahun 2020-2024.

Periode yang sama, produksi perkebunan diproyeksikan naik 7% per tahun, penyerapan tenaga kerja naik 5%, peningkatan PDB perkebunan sebesar 5% per tahun, serta mengurangi pengganguran 3%.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN