Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panen sawit. Foto: IST

Panen sawit. Foto: IST

Ini Kinerja Industri Sawit 2021 & Prospek 2022

Jumat, 28 Januari 2022 | 12:02 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan bahwa 2021 merupakan tahun pemulihan dari Covid-19 sehingga permintaan impor minyak nabati cenderung naik, namun demikian produksi relatif stagnan karena berbagai faktor seperti cuaca, keterbatasan pupuk dan kelangkaan tenaga kerja.

“Untuk Indonesia, produksi CPO di tahun 2021 mencapai 46,888 juta ton atau 0,31% lebih rendah dari pencapaian 2020 sebesar 47,034 juta ton,” kata Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gapki dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/1/2022).

Menurut dia, faktor keterbatasan pemupukan di tahun 2019 dan 2020 serta faktor cuaca diduga menjadi penyebab penurunan produksi di Indonesia.
Adapun konsumsi minyak sawit dalam negeri 2021 mencapai 18,422 juta ton atau 6% lebih tinggi dari konsumsi tahun 2020 sebesar 17,349 juta ton.

Konsumsi untuk pangan naik 6%, oleokimia naik 25% dan biodiesel naik 2% dari tahun 2020. “Konsistensi pemerintah Indonesia dengan penerapan program mandatori biodieselnya, ikut mengurangi pasokan dan mempengaruhi pasar ekspor minyak nabati dunia,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Mukti Sardjono. Foto: Gapki/IST
Direktur Eksekutif Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Mukti Sardjono. Foto: Gapki/IST

Mukti mengungkapkan, ekspor produk minyak sawit Indonesia 2021 yang mencakup CPO, olahan CPO, PKO, oleokimia (termasuk dengan kode HS 2905, 2915, 3401 dan 3823) dan biodiesel (kode HS 3826) mencapai 34,2 juta ton atau naik hanya 0,6% dari dari pencapaian ekspor 2020 sebesar 34,0 juta ton.

Rendahnya kenaikan ekspor, lanjut dia, disebabkan keterbatasan pasokan, harga yang tinggi dan makin kecilnya perbedaan harga minyak sawit dengan minyak nabati lainnya terutama minyak kedelai.

Secara bulanan, sambung Mukti Sarjono, ekspor Indonesia di tahun 2021 sangat berfluktuasi. Pengaruh Covid-19 sangat besar terhadap permintaan minyak sawit dari Negara pengimpor baik karena perubahan tingkat konsumsinya maupun karena regulasi pengetatan impor di beberapa negara.

Meskipun kenaikan volume ekspor 2021 dari 2020 hanya 0,6%, nilai ekspor 2021 mencapai US$ 35 mlliar atau 52% lebih tinggi dari nilai ekspor tahun 2020 sebesar US$ 22,9 miliar (data BPS, nilai ekspor lemak dan minyak nabati Kode HS 15 mencapai US$ 32,8 miliar).

“Kenaikan nilai ekspor yang tinggi didukung oleh harga rata-rata 2021 yang mencapai US$1.194 per ton atau 67% lebih tinggi dibanding harga rata-rata 2020 sebesar US$ 715,” paparnya.

Prospek 2022

Panen sawit. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Panen sawit. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal


Lebih jauh Mukti Sardjono mengatakan bahwa harga minyak nabati pada Desember 2021 lebih tinggi dari harga pada Desember 2020 tetapi lebih rendah dari harga November 2021. Namun, selama bulan Januari 2022, harga minyak nabati cenderung naik kembali. “Fluktuasi harga ini disebabkan oleh banyaknya faktor ketidakpastian baik dari segi produksi maupun permintaan minyak nabati,” katanya.

Sementara itu, produksi oilseed tahun 2022 diperkirakan akan melimpah meskipun kekeringan di Amerika Selatan masih menjadi faktor yang harus diperhatikan dengan seksama karena dapat menurunkan produktivitas. Namun, selimpahnya produksi oilseed tidak langsung meningkatkan pasokan minyak nabati karena berbagai alasan. Harga oilmeal yang kurang menarik di sisi lain akan menjadi salah satu faktor penghambat di samping untuk pemulihan stok oilseed yang terkuras di tahun 2021.

Menurut Mukti, produksi minyak sawit 2021 menunjukkan adanya anomali. Semester II yang biasanya lebih tinggi dari semester I di tahun 2021 justru lebih rendah.

Oleh sebab itu, produksi semester I 2022 akan menjadi petunjuk apakah penurunan produksi akan terus berlanjut atau akan terjadi kenaikan. Pemupukan yang terkendala di tahun 2021 akibat kelangkaan dan kenaikan harga pupuk akan mempengaruhi produktivitas dan produksi 2022. Cuaca ekstrim basah yang terjadi di awal 2022 juga bukan hanya akan mempengaruhi produksi di semester I tetapi juga di semester II 2022.

Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)
Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

Gapki, memperkirakan produksi CPO tahun 2022 mencapai 49 juta ton sedangkan PKO mencapai 4,8 juta ton sehingga total CPO+PKO mencapai 53,8 juta ton, atau kenaikan sebesar 4,87% dibandingkan dengan produksi tahun 2021 sebesar 51,3 juta ton.

Konsumsi dalam negeri akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan Covid-19. Tahun 2021 dimana Covid-19 masih ada, total konsumsi dalam negeri untuk pangan naik 6%, oleokimia naik dengan 25% dan biodiesel naik dengan 2%.

Untuk tahun 2022, konsumsi untuk pangan diperkirakan naik dengan laju yang hampir sama menjadi sekitar 800 ribu ton/bulan (9,6 juta ton /tahun).

Untuk oleokimia tahun 2021, konsumsi mendatar dalam 6 bulan terakhir pada sekitar 180 ribu ton/bulan dan diperkirakan akan berlanjut ke tahun
2022 sehingga konsumsi untuk oleokimia diperkirakan 2,16 juta ton/tahun.

Konsumsi untuk biodiesel tergantung dari program mandatori biodiesel yang ditetapkan pemerintah. Sesuai program tahun 2022, program mandatori B30 dengan konsumsi biodiesel 2022 diperkirakan 8,83 juta ton.

“Dengan demikian, konsumsi dalam negeri 2022 diperkirakan sekitar 20,59 juta ton. Dengan produksi 53,8 juta ton dan konsumsi dalam negeri 20,59 juta ton, maka volume untuk ekspor diperkirakan adalah 33,21 juta ton atau sekitar - 3% dari tahun 2021,” pungkas Mukti Sardjono.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN