Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua KNKT Soerjanto (kiri) dan Panglima TNI Hadi Tjahjanto (kanan) memberikan penjelasan tentang koordinat blackbox. Sumber: BSTV

Ketua KNKT Soerjanto (kiri) dan Panglima TNI Hadi Tjahjanto (kanan) memberikan penjelasan tentang koordinat blackbox. Sumber: BSTV

Ini Perkembangan Investigasi Kecelakaan Sriwijaya SJ-182

Rabu, 3 Februari 2021 | 14:34 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melakukan investigasi terkait penyebab kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada 9 Januari 2021 lalu di perairan Pulau Seribu. Pencarian kotak hitam Cockpit Voice Recorder (CVR) juga masih terus dilakukan.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan, KNKT telah mengumpulkan data radar (ADS-B) dari Perum LPPNPI (Airnav Indonesia). Data ADS-B yang terakhir dipancarkan oleh pesawat pukul 14 40 WIB menunjukkan pesawat berada di ketinggian 250 kaki.

Terekamnya data sampai dengan 250 kaki, mengindikasikan bahwa sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mesin masih dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air.

“Dari data Flight Data Recorder (FDR) menunjukkan bahwa sejak ketinggian berkurang, kecepatan pesawat bertambah, sedangkan kecepatan 115 knots di data Flightradar24 merupakan ground speed,” terang Soerjanto dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR-RI, Rabu (3/2/2021).

Menurut data dari tim SAR gabungan, Soerjanto menyampaikan puing pesawat tersebar dalam wilayah dengan lebar 80 meter dan panjang 110 meter pada kedalaman laut 16 sampai 23 meter. Beberapa bagian pesawat yang telah ditemukan antara lain beberapa instrument pesawat dari ruang kemudi, bagian roda pendarat utama, bagian sayap, bagian dari mesin, bagian dari kabin penumpang, dan bagian ekor.

“Bagian-bagian ini mewakili seluruh bagian pesawat dari depan hingga ke belakang. Luas sebaran dan ditemukannya bagian pesawat dari depan sampai belakang ini konsisten dengan bukti bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air,” tegasnya.

Terkait FDR yang sudah ditemukan, proses mengunduh data juga telah berhasil dilakukan dengan total 370 parameter, merekam 27 jam penerbangan atau 18 penerbangan, termasuk penerbangan yang mengalami kecelakan.

“Sampai saat ini kami belum bisa memberikan kesimpulan atau analisa, tetapi kami akan menunggu hasil dari CVR dan beberapa komponen yang kami kirim ke Amerika Serikat dan United Kingdom. Karena dari komponen-komponen itu, kita akan mengetahui apa sebetulnya yang mengalami kerusakan,” kata Soerjanto.

Untuk proses investigasi selanjutnya yaitu pencairan CVR dibantu Basarnas dan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Angkasa Pura II, TNI AL, dan masyarakat kepulauan seribu.

“Kami juga terus meneliti beberapa komponen seperti autothrottle computer, auto throttle actuator assembly, ground proximity warning system (GPWS), dan flight control computer. Kita juga melakukan simulasi kecelakaan menggunakan flight simulator,” terang Soerjanto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN