Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Ini Plus Minus Mudik Lebaran

Sabtu, 20 Maret 2021 | 14:31 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  – Aturan terkait mudik Lebaran saat ini masih terus digodok oleh pemerintah. Sebelumnya, Menteri Perhuhungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa pada prinsipnya pemerintah melalui Kementerian Perhubungan tidak melarang mudik. Namun, pemerintah akan melakukan sejumlah upaya untuk menekan terjadinya penyebaran virus.

Sementara itu menurut Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, kebijakan mengenai mudik Lebaran saat ini belum diputuskan dan baru akan ditetapkan dalam rapat tingkat menteri yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai kebijakan mudik Lebaran di tengah pandemi Covid-19 yang belum tuntas memang akan meniimbulkan konsekuensi, baik itu negatif maupun positif.

Untuk sisi positif, lanjut dia, dengan diperbolehkannya mudik, tentu ada potensi peningkatan aktivitas perekonomian di daerah tujuan pemudik.

“Efek pengganda ekonomi menjadi sangat banyak, mulai dari tiket transportasi yang mereka habiskan, kemudian ke warung-warung sekitar stasiun/bandara/pelabuhan tempat para pemudik akan berangkat dan tiba nantinya, dan juga di tempat-tempat wisata di daerah pemudik. Sebuah kajian menunjukkan potensi perputaran uang dari kegiatan mudik mencapai Rp 10 triliun,” kata Yusuf Rendy kepada Beritasatu.com, Sabtu (20/3/2021).

Meskipun potensinya untuk menggerakkan ekonomi cukup besar, namun menurut Rendy perlu juga dilihat sisi negatifnya. Apalagi pandemi masih terus berlangsung dan vaksinasi Covid-19 belum tuntas dilakukan. 

“Dari kebijakan membolehkan mudik, tentu ada potensi penyebaran kasus Covid-19. Apalagi dari pengalaman sebelumnya, ketika libur cuti bersama dibuka di tahun lalu terjadi kenaikan angka kasus Covid-19. Tentu ini perlu diantisipasi agar tidak terulang kembali,” kata Rendy.

Kalaupun pemerintah akhirnya mengizinkan mudik, menurutnya ada beberapa persyaratan yang tidak boleh terlewat. Misalnya pemudik tidak boleh berasal dan menuju ke daerah yang dikategorikan 'zona merah', terdapat tracing yang baik pada pemudik yang melakukan mudik, serta pembatasan pada aktifitas di daerah pemudik. Tempat-tempat yang bisa memicu berkumpulnya banyak orang juga perlu diawasi, bahkan kalau perlu dibuat larangan.

“Sebenarnya dilema (antara boleh mudik atau tidak). Tapi kalau saya pribadi lebih condong untuk tidak membolehkan mudik. Belajar dari pengalaman, kenaikan kasus Covid-19 di tahun lalu terjadi ketika libur bersama dilonggarkan oleh pemerintah. Tetapi semoga aktifitas perekonomian di tengah Ramadan yang selalu dijadikan momentum untuk memompa perekonomian bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu, sehingga harapan pemerintah agar ekonomi bisa meningkat di kuartal kedua masih bisa tetap dijaga,” kata Rendy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN