Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Suparmanto. Sumber: BSTV

Agus Suparmanto. Sumber: BSTV

Kain Bukan Tenunan RI Bebas Bea Masuk Anti Dumping ke India

Rabu, 23 September 2020 | 12:28 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Directorat General of Trade Remedies (DGTR) India menghentikan penyelidikan kembali Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk kain bukan tenunan (non-woven fabric) asal Indonesia.

 

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, menyambut baik keputusan yang terbit pada 15 September 2020. Dengan keputusan itu, kain bukan tenunan asal Indonesia bebas dari BMAD ke India.

 

“Penghentian penyelidikan ini tentunya merupakan kabar yang membahagiakan bagi industri tekstil Indonesia yang saat ini sedang diterpa pandemi Covid-19. Terlebih, industri tekstil merupakan industri padat karya dan menjadi salah satu unggulan Indonesia,” kata Agus dalam keterangan resmi, Rabu (23/9).

 

Kain bukan tenunan adalah kain lembaran berpori atau berumbai yang dibuat langsung dari serat terpisah, plastik cair atau film plastik. Kain jenis ini tidak dibuat dengan ditenun atau dirajut dan tidak perlu mengubah serat menjadi benang. Penggunaan kain jenis ini utamanya untuk produk kesehatan dan medis, seperti masker dan alat medis dari kain lainnya.

 

Menurut Agus, DGTR India mulanya melakukan investigasi terhadap kain bukan tenunan asal Indonesia pada 16 Juni 2016 lalu. Namun, mereka memutuskan untuk menghentikan penyelidikan pada 2 September 2017. Pada 1 Juli 2020, DGTR India kembali menyelidiki kasus ini dengan dasar keputusan Custom, Excise & Service Tax Appellate Tribunal (CESTAT) India tertanggal 12 Februari 2020 yang mengabulkan gugatan industri kain domestik India.

 

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi menjelaskan, penghentian penyelidikan yang  kedua ini merupakan bukti kerja sama yang solid antara pemerintah, asosiasi, dan eksportir kain bukan tenunan.

 

“Selain itu, keputusan India tersebut membuktikan bahwa eksportir Indonesia tidak melakukan praktik dumping terhadap produk kain bukan tenunan ke India. Tentunya, peluang ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh para eksportir,” jelas Didi.

 

Menurut dia, India merupakan negara pangsa ekspor kain bukan tenunan yang cukup menjanjikan. Impor India dari seluruh dunia pernah mencapai US$ 62,1 juta pada 2018. Pada 2019, impor kain bukan tenunan india tercatat mencapai US$ 46,1 juta.

 

Bagi eksportir Indonesia, India pun menjadi pasar ekspor kain bukan tenunan terbesar. Total ekspor Indonesia ke India untuk produk tersebut mencapai US$ 11,4 juta pada 2019 atau 50,6% dari total ekspor kain bukan tenunan Indonesia ke seluruh dunia. Menurut Didi, ekspor kain bukan tenunan ke India meningkat rata-rata 10,1% per tahun sepanjang 2015-2019.

 

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati mengatakan, penghentian penyelidikan terhadap kain bukan tenunan dapat menjadi berkah bagi industri tekstil dan produk tekstil Indonesia. Pasalnya, setelah penghentian penyelidikan awal pada 2017, ekspor kain bukan tenunan ke India meningkat rata-rata 12,9% per tahun sepanjang 2017-2019.

 

“Dengan dihentikannya penyelidikan kembali kasus ini, maka tren positif tersebut kami harapkan akan terus naik,” ucap Pradnyawati.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN