Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Foto ilustrasi: bkpm.go.id

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Foto ilustrasi: bkpm.go.id

Kementerian Investasi Matchmaking untuk Dorong UMKM di Pasar Internasional

Rabu, 28 Juli 2021 | 22:13 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan untuk melakukan pemerataan investasi. Selain melakukan pemerataan investasi dalam negeri pemerintah juga melakukan matchmaking pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan pelaku usaha di luar negeri

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) hanya 6,3% UMKM Indonesia terlibat perdagangan internasional.  Kontribusi UMKM hanya 14,5% dari ekspor nasional jauh dibanding Tiongkok (70%), Jepang (55%), dan Thailand (35%).

Direktur Pemberdayaan Usaha Kementerian Investasi   Anna Nurbani dalam matchmaking ini pihaknya akan  memilih beberapa negara, biasanya satu tahun ada tiga negara. Pihaknya akan  berkoordinasi dengan  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dalam melakukan pemetaan kebutuhan  supply dan demand negara tujuan.

“Disana demandnya apa di negara tersebut  contoh misalnya di Filipina butuhnya makanan atau kerajinan tangan. Bahan baku juga kami maping kebutuhannya seperti apa. nanti akan kami cari UMKM yang bisa memenuhi permintaan tersebut,” ucap Anna dalam Webinar UMKM Naik Kelas pada Rabu (28/7).

Setelah itu, Kementerian Investasi akan melakukan seleksi terkait legalitas usaha dan kualitas produk. Karena ini akan  dibawa ke luar negeri maka  produk yang dibawa harus memenuhi kualifikasi  yang diminta negara pembeli.  

“Kami sudah dua tahun ini berhenti karena pandemi dan permasalahan lainnya yang mungkin di tahun depan sudah bisa dilaksanakan lagi,” ucap Anna.

Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), Akbar Djohan
Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), Akbar Djohan

Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera Akbar Djohan mengatakan ada  lima modal awal yang bagi UMKM  untuk naik kelas. Pertama yaitu produk UMKM tersebut harus unik dan berkualitas. Dimana  produk dagangan memiliki keunikan yang tak dimiliki oleh produk lain. Kedua yaitu membangun brand awareness yang baik.

“Bisa dengan segala teknik, misalnya lewat media sosial yang wilayahnya jauh lebih terjangkau,” kata Akbar dalam kesempatan yang sama.

Ketiga yaitu memahami karakteristik pasar negara tujuan, sebab pasar luar negeri  berbeda dari pasar lokal tidak semua negara memiliki preferensi  terhadap produk yang UMKM tersebut jual.

“Misalnya, bagaimana produk ini dibuat untuk segmen ekspor ke Timur Tengah. Bagaimana budaya dan permintaan pasar di Timur Tengah tentunya berbeda dengan pasar di Jepang,” ucap  Akbar.

Keempat yaitu  market place,  berjualan di marketplace menjadi cara yang paling mudah unutk dapat mengenalkan produk secara internasional. Kelima yaitu pelaku UMKM harus memahami cara ekspor, dan aturan yang harus  saat memulai ekspor.

“Misalnya memenuhi syarat administrasi seperti dokumen ekspor, menyiapkan  legalitas yang harus dimiliki eksportir, dan melihat tata cara aturan ekspor yang dikeluarkan oleh negara,” ucapnya.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto:  Humas Kementerian Koperasi dan UKM
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto: Humas Kementerian Koperasi dan UKM

Secara terpisah, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan pihaknya juga terus berupaya unutk meningkatkan ekspor produk UMKM.  Bila melihat dari negara-negara seperti Tiongkok dan Jepang   kunci dari performa UMKM ke ekspor adalah hadirnya UMKM dalam rantai pasok.

“Transformasi agar kita hadir dalam rantai pasok juga merupakan salah satu fokus program Kementerian Koperasi dan UKM,” ucap Teten dalam Festival Kewirausahaan Astra 2021 pada Rabu (28/7).   

Kemenkop UKM berupaya agar UMKM masa depan yang terhubung ke rantai pasok ke industri nasional. Saat ini juga baru 4,1% UMKM yang sudah terhubung ke rantai pasok industri.

“Sebagian besar UMKM masih produksi kripik, krupuk, dodol, belum produksi dalam industri kreatif dan inovasi teknologi,” ucapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN