Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri mamin. Foto ilustrasi: IST

Industri mamin. Foto ilustrasi: IST

Kementerian Perdagangan Dorong Ekspor Mamin ke Spanyol

Kamis, 16 Juli 2020 | 21:48 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu industri yang tidak terpuruk di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Kasan Muhri, mengatakan masyarakat dunia tetap membutuhkan mamin untuk menjaga imunitas saat beraktivitas di rumah. Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi, Kemendag pun mendorong ekspor mamin, salah satunya ke Spanyol.

“Produk mamin dari kita banyak yang cocok dengan kebutuhan masyarakat Spanyol, misalnya ikan, cumi, olahan seafood, dan lainnya. Selain itu, kita juga masih memiliki kesempatan untuk mengekspor olahan buah nanas dan jus nanas karena kita punya produsen yang sudah ekspor ke hampir 80 negara, dan supplier ini bisa merambah ke Spanyol. Namun tidak hanya produsen besar, kita juga ingin mendorong ekspor mamin produk UKM (Usaha Kecil Menengah),” kata Kasan dalam webinar “Sharing Session: Mengenalkan Produk Makanan dan Minuman serta Kuliner Indonesia ke Spanyol”, Kamis (16/7).

Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Kasan Muhri
Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Kasan Muhri

Menurut Kasan, sepanjang 2019, pertumbuhan industri mamin tercatat  mencapai 7,78% atau lebih besar dibandingkan pertumbuhan sektor non migas yang sebesar 4,34%. Pada kuartal I 2020, di tengah pandemi Covid-19, pertumbuhan industri mamin tercatat sebesar 3,94%, masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri pengolahan non migas yang sebesar 2,01%. Pada kuartal I 2020, kontribusi industri mamin terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)  nasional mencapai 19,98%.

“Kami menyasar negara berdasarkan tingkat penyebaran Covid-19. Saya kira Spanyol sudah mendekati hijau. Untuk mendorong ekspor mamin, kami juga telah memberikan fasilitas berupa pelatihan untuk eksportir, bantuan packaging, sertifikasi, dan standarisasi yang dilakukan secara virtual,” imbuh Kasan.

Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Barcelona, Puti Listiyani, mengatakan bahwa Indonesia masih berpeluang meningkatkan ekspor mamin ke Spanyol. Pasalnya, sepanjang 2016-2019, rata-rata pangsa pasar produk mamin Indonesia di Spanyol baru mencapai 0,4% per tahun. Indonesia pun masih bersaing dengan Thailand.

“Untuk ritel di Spanyol jarang yang mengimpor langsung dari produsen. Mereka biasanya mengambil dari distributor atau agen, yang akan memasukkan produk mamin impor ke pasar ritel di Spanyol. Namun, ada produk Indonesia yang masuk langsung ke toko ritel di Spanyol, yakni nanas kaleng dan tuna kaleng, tetapi merek kedua produk itu diganti dengan merk ritel di Spanyol,” ucap Puti dalam kesempatan yang sama.

Untuk bisa mengekspor produk mamin ke Spanyol, produsen Indonesia harus memenuhi persyaratan antara lain yang berkaitan dengan kandungan zat aditif, pestisida, dan zat kontaminan dalam makanan, serta persyaratan label dan kemasan.

Salah satu persyaratan terkait label yang perlu diperhatikan eksportir, menurut Puti, adalah terkait bahasa, dimana label produk harus menggunakan bahasa Spanyol.

Sementara itu, terkait tarif masuk produk, Spanyol mengikuti ketentuan Uni Eropa, tetapi ada tambahan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 4-10% untuk mamin impor dan 21% untuk minuman alkohol dan rokok.

“Ekspor mamin Indonesia ke Spanyol masih berpeluang karena Spanyol merupakan negara dengan wisatawan asing terbanyak kedua setelah Perancis. Banyak wisatawan Asia di Spanyol sehingga mendorong pertumbuhan makanan Asia. Di Spanyol banyak ditemukan restoran Asia, seperti restoran Jepang, Tiongkok, Korea, dan Thailand. Ini penting kita bisa memasukkan produk Indonesia ke restoran tersebut atau ke toko Asia,” ucap Puri.

Di samping itu, penduduk Spanyol juga menggemari produk asal negara tropis, seperti makanan laut dan buah-buahan baik dalam bentuk segar maupun kaleng. Buah-buah yang menjadi kegemaran antara lain pepaya, nanas, mangga, dan naga, dimana Indonesia sendiri belum mampu memenuhi permintaan terhadap buah naga yang cukup tinggi di Spanyol. Di samping itu, saat ini permintaan terhadap produk organik juga diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan.

“Untuk tantangannya, importir Spanyol terkadang memilih mengimpor bahan mentah dengan harga yang lebih murah, misalnya kopi. Distributor atau importir Spanyol lebih suka membeli kopi hijau asal Indonesia karena kopi yang di-roasted di Indonesia terlalu gosong. Di samping itu, harga mengimpor kopi hijau juga lebih murah, tapi Indonesia bersaing dengan Vietnam dan Brazil,” kata Puri lagi.

Selain itu, kewajiban menggunakan bahasa Spanyol di kemasan atau keterangan produk juga menjadi kendala. Menurut Puti, banyak eksportir Indonesia yang enggan mengganti kemasan produknya yang tidak menggunakan bahasa Spanyol. 

“Tantangan lain, importir Spanyol suka memesan produk dengan volume kecil tetapi bervariasi. Ini biasanya untuk mengetes pasar, apakah pasar Spanyol menyukai produk yang baru ini sehingga satu kontainer diisi berbagai jenis produk atau mereka. Ini tantangan bagi eksportir yang berfokus mengekspor dalam jumlah atau volume besar,” imbuh Puri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN