Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iskandar Simorangkir. Foto: youtube

Iskandar Simorangkir. Foto: youtube

Kenaikan Permintaan Global Dorong Surplus Neraca Perdagangan 2021

Senin, 17 Januari 2022 | 21:06 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan surplus terbesar dalam 15 tahun terakhir disebabkan permintaan global dan harga yang meningkat. Sedangkan dari sisi kebijakan domestik pemerintah memasukkan ekspor sebagai sebagai sektor esensial sehingga dapat work from office (WFO) hingga 100% dan produksi tidak terganggu.

“Sementara negara-negara lain banyak melakukan total lockdown sehingga produksi terganggu dan pemenuhan bahan baku dan konsumsi banyak didatangkan dari Indonesia,” ucap Iskandar saat dihubungi Investor Daily pada Senin (17/1) malam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan sepanjang tahun 2021 mengalami surplus sebesar US$ 35,54 miliar. Dengan nilai ekspor mencapai US$ 231,5 miliar dan nilai impor mencapai US$ 196,19 miliar.

Dia mengatakan pemerintah juga terus menjalankan kebijakan hilirisasi misalnya untuk besi baja. Hal ini turut berkontribusi terhadap peningkatan nilai tambah produk ekspor Indonesia. Sementara itu nilai impor meningkat karena tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal empat ekonomi. Kegiatan produksi mengalami kenaikan permintaan.

“Seiring dibukanya ekonomi karena kasus aktif Covid-19 menurun sehingga kebutuhan barang konsumsi, barang modal dan bahan baku meningkat,” ucap Iskandar.

Dia menuturkan saat ini Indonesia sedang dalam proses transformasi ekonomi dari berbasis komoditas menjadi manufaktur. Guna menjaga surplus neraca perdagangan pemerintah melakukan sejumlah langkah. Pertama yaitu menghilangkan segala hambatan yang mengganggu ekspor. Kedua yaitu melanjutkan hilirisasi produk-produk sumber daya alam. Ketiga yaitu mendorong investasi untuk industri yang berorientasi ekspor atau substitusi impor dengan percepatan implementasi online single submission di seluruh Indonesia.

“Diharapkan dengan konsistensi hilirisasi produk sumber daya alam dan kemudahan perizinan, kami harapkan Indonesia dapat menjadi negara industri,” tutur Iskandar.

Jaga Ketahanan Eksternal

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan, surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.  Neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan tahun 2021 mencatat surplus US$ 35,34 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada tahun 2020 sebesar US$ 21,62 miliar .

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi,” ucap Erwin dalam siaran pers yang diterima pada Senin (17/1).

Surplus neraca perdagangan Desember 2021 dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang tetap tinggi di tengah defisit neraca perdagangan migas yang meningkat.serta produk manufaktur, termasuk besi dan baja serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, tercatat meningkat.

Ditinjau dari negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang tetap tinggi seiring dengan pemulihan permintaan global. Sementara itu, impor nonmigas meningkat pada seluruh komponen, sejalan dengan perbaikan ekonomi domestik yang berlanjut.

“Adapun, defisit neraca perdagangan migas meningkat dari US$ 1,69 miliar pada November 2021 menjadi US$ 2,28 miliar pada Desember 2021, dipengaruhi oleh impor migas yang meningkat,” ucap Erwin. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN