Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Varian Delta plus baru yang telah terbentuk karena mutasi pada varian Delta atau B.1.617.2, yang pertama kali diidentifikasi di India dan salah satu pendorong gelombang kedua virus corona Covid-19.  ( Foto ilustrasi: File photo / indianexpress.com )

Varian Delta plus baru yang telah terbentuk karena mutasi pada varian Delta atau B.1.617.2, yang pertama kali diidentifikasi di India dan salah satu pendorong gelombang kedua virus corona Covid-19. ( Foto ilustrasi: File photo / indianexpress.com )

Lonjakan Kasus Covid-19 Varian Delta Masih Jadi Tantangan Pemulihan Ekonomi

Kamis, 29 Juli 2021 | 16:51 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Fitria Irmi Triswati mengakui, hingga semester I-2021, munculnya varian delta yang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 meningkat masih menjadi tantangan pemulihan ekonomi tahun ini. Pasalnya peningkatan kasus aktif Covid-19 telah mengakibatkan restriksi mobilitas.

“Munculnya varian delta, dengan jumlah kasus saat ini masih terus meningkat. Pandemi mengharuskan interaksi fisik antarmanusia dibatasi, telah menyebabkan perlambatan ekonomi dunia dan banyak negara, kepanikan dan ketidakpastian pasar keuangan,” tuturnya dalam webinar, Kamis (29/7/2021).

Untuk saat ini beberapa negara mulai berangsur pulih, hal ini menunjukkan arah adanya divergensi atau pemulihan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang yang tidak merata. Ia mencontohkan beberapa negara yang mulai pulih yakni Singapura, Tiongkok, Amerika Serikat yang justru merevisi keatas pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Sementara itu, terdapat pula negara yang pulih secara perlahan seperti Eropa dan Jepang, sedangkan Indonesia dan negara yang masuk kawasan Asean lima justru direvisi ke bawah. Meski begitu, Fitria masih berharap momentum pemulihan ekonomi nasional dapat terjadi tahun ini, apalagi pemerintah tengah mempercepat vaksinasi.

“Pada 2021 diharapkan akan jadi momentum pemulihan ekonomi nasional, karena mulai gencarkan vaksinasi, dan digitalisasi terakselerasi, meski vaksinasi sudah mulai dilakukan, namun kemampuan adaptasi dunia usaha terus diuji untuk bertahan dan bangkit di era next normal. Keseimbangan dibutuhkan antara menjaga kesehatan dan juga mata pencaharian untuk hidup,” tegasnya.

Menurutnya, kemampuan untuk bertahan, adaptasi, dan transformasi merupakan kunci sukses untuk melewati masa pandemi Covid-19. Tak hanya itu, percepatan vaksinasi dan digitalisasi juga akan mendukung proses pemulihan ekonomi lebih cepat di masa pandemi dan setelah pandemi berakhir, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat mampu tumbuh mencapai 3,5% hingga 4,3%.

“Walupun proyeksi pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,1-5,1%, Hal ini seiring munculnya varian baru perkembangan terkini dan PPKM sebagai mitigasi dan respons,” tegasnya.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN