Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

LPEM FEB UI: BI Harus Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%

Kamis, 20 Januari 2022 | 11:46 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) berpandangan, Bank Indonesia (BI) harus mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Januari 2022 yang berlangsung dua hari ini. Keputusan ini perlu diambil mengingat, selain inflasi yang masih di bawah target, juga untuk mendukung pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

“Mengingat masih rendahnya inflasi yang berada di bawah target bank sentral antara 2% hingga 4% selama 19 bulan berturut-turut serta untuk mendorong pemulihan kinerja ekonomi, BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakan pada 3,50% pada Rapat Dewan Gubernur bulan Januari,” ujar ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam Seri Analisis Makrorkonomi yang diterima Investor Daily, Kamis (20/1/2022). Analisis ini disusun menyongsong Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung 19-20 Januari ini.

Riefky memperkirakan, BI pun akan mempertahankan suku bunga sampai inflasi mulai meningkat. Di sisi lain, kata dia, sebenarnya ada faktor eksternal, seperti kemungkinan The Fed mengetatkan kebijakan moneter pada awal Maret 2022 serta meningkatnya risiko gangguan rantai pasokan global dan inflasi di banyak negara, yang dapat memaksa BI untuk menaikkan suku bunga lebih awal dari yang direncanakan.

“Namun, untuk menjaga stabilitas rupiah, BI tetap perlu mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. Saat ini memberikan dukungan bagi pemulihan pandemi sangat penting karena tidak jelas apakah Omicron akan menyebabkan konsekuensi yang lebih parah daripada varian sebelumnya,” jelas dia.

Menurut Riefky, kegiatan konsumsi dan produksi di Tanah Air berangsur-angsur kembali normal yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan inflasi dan penerimaan pajak yang lebih tinggi dari target. Namun, publik mungkin belum memiliki kepercayaan penuh mengingat pemerintah mengonfirmasi kasus Omicron pertama pada Desember ketika jumlah kasus Covid-19 harian terkonfirmasi sekitar 200 kasus.

“Sejak saat itu, kasus Omicron telah meningkat di antaranya karena transmisi lokal, sebagaimana dibuktikan oleh sedikit penurunan pada IKK dan PMI. Kenaikan suku bunga di beberapa negara serta rencana kenaikan suku bunga di negara-negara ekonomi utama menimbulkan risiko, terutama bagi negara-negara berkembang.” papar dia.

Selain itu, lanjut Riefky, gangguan rantai pasok global dan kenaikan inflasi di banyak negara dapat memaksa negara berkembang untuk mulai menaikkan suku bunga.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN