Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Brigjen TNI (Purn) Johannes Marcus Pattiasina

Brigjen TNI (Purn) Johannes Marcus Pattiasina

Mengenang Brigjen TNI (Purn) JM Pattiasina, Perwira TNI yang Ikut Mendirikan Pertamina

Senin, 1 Maret 2021 | 18:32 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Brigjen TNI (Purn) Johannes Marcus Pattiasina, seorang ahli atau tehnisi perminyakan yang sangat terkenal di masanya. Figur yang tidak banyak dipublikasikan ini justru merupakan tokoh kunci pada masa awal berdirinya Pertamina. Karena keahliannya tersebut, Pattiasina bahkan bisa meniti karir di Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga mencapai pangkat Brigjen.

Di masa dwifungsi ABRI dulu, tentara yang biasanya masuk dalam bidang sipil itu hal biasa. Jadi tidak heran jika banyak anggota TNI berdinas di luar militer. Tapi, Brigjen TNI (purn) Pattiasina, justru adalah orang minyak yang menjadi tentara. Dia ditempa dalam revolusi fisik, kemudian menjadi tentara dan mendapat tugas mengurusi perminyakan.

Pria asal Pulau Saparua Maluku ini lahir di Makassar pada 15 September 1912 karena mengikuti orang tuanya, Marthen Pattiasina yang menjadi Mantri Jalan di Palopo pada zaman Belanda. Dari Makassar Pattiasina menuju ke Jakarta dan bekerja sebagai teknisi di Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda.

Seperti dituturkan puterinya, Dipl.-Oekonom Engelina H.L. Pattiasina, setelah berkarir beberapa waktu di KPM, Pattiasina pindah ke perusahaan minyak, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), yakni perusahaan minyak, anak dari perusahaan Royal Dutch Shell.

"Beliau sempat ditugaskan di tangki minyak milik BPM di Tasikmalaya sebelum pindah ke Shell dan Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschppij (NKPM) di Plaju dan Sungai Gerong, Sumatera Selatan. Di kemudian hari, NKPM berganti nama menjadi Standaard Vacuum Oil Company (Stanvac)," kata Engelina kepada Investor.id di Jakarta, Senin (1/3).

Namun di saat karirnya sedang menanjak, Jepang menaklukkan Belanda pada 1942 hingga membuat perjalanan karir Pattiasina berakhir di perusahaan minyak milik Belanda yang dimulai sejak tahun 1933 itu.

Kedatangan pasukan Jepang ke Palembang menyebabkan Pattiasina menyingkir ke Pulau Jawa. Padahal, dia merupakan satu dari beberapa orang pribumi yang menduduki posisi tinggi untuk ukuran pribumi pada masa itu.

Di sisi lain, sebelum pergi Belanda terlebih dahulu menghancurkan kilang di Palembang. Hal ini menyebabkan Jepang berusaha mencari informasi tentang keberadaan teknisi yang bisa memperbaiki kilang milik Belanda.

"Jepang akhirnya menemukan Bapak di Jawa dan dibawa kembali ke Palembang. untuk memperbaiki kilang yang dihancurkan Belanda, tapi beliau keberatan karena tidak mau Jepang melihat saat dia memperbaiki kilang," ujarnya.

Pembangkangan ini menyebabkan Johannes Marcus Pattiasina mendapat siksaan Jepang. Tapi, bagi Pattiasina itu merupakan pilihan terbaik. Siksaan Jepang itu mematahkan salah satu tulang bahu Pattiasina. Karena kesulitan tenaga teknisi, Jepang terpaksa mengikuti keinginan Pattiasina untuk memperbaiki kilang tanpa disaksikan tentara Jepang.

Ambil Alih Kilang Jepang

Setelah kilang bisa berfungsi, Jepang mempercayai Pattiasina sebagai Kepala Pabrik Asano Butai—perusahaan minyak zaman Jepang. Tapi, Pattiasina tetap tidak suka dengan perlakuan Jepang. Ia secara diam-diam menjalin hubungan dengan kelompok pemuda di Sumatera Selatan. Pattiasina mengorganisir pekerja minyak di Palembang. Pada 1945, pekerja minyak ini mengambil alih kilang minyak Jepang, beberapa bulan sebelum proklamasi kemerdekaan.

"Selain mengorganisir pekerja minyak, bapak juga menjadi komandan laskar rakyat, karena dia sempat mengenyam pendidikan Giyugun, sekolah perwira pada zaman Jepang. Selain itu, Pattiasina aktif dalam perjuangan kemerdekaan di Palembang. Pada masa perang kemerdekaan pertama, Pattiasina berpangkat Letnan Kolonel, yang memegang pasukan minyak. Pasukan rakyat pimpinan Pattiasina juga terlibat dalam perang lima hari lima malam yang terkenal di Palembang itu," papar Engelina.

Sementara itu, Pemerintahan Sumatera Bagian Selatan yang diprakarsai oleh dr Mohammad Isa, mengambil kebijakan untuk membentuk perusahaan minyak, yakni Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri), yang langsung ditangani Pattiasina. Namun, kedatangan sekutu menyebabkan, pejuang terus terdesak. Setelah melalui perundingan, wilayah Indonesia semakin jauh di luar Palembang. Rakyat dan pejuang terpaksa melakukan perjuangan dengan gerilya, pemerintahan juga berpindah ke luar Palembang.

"Dalam masa gerilya, yakni agresi militer Belanda II ini, pasukan minyak yang dipimpin beliau juga berusaha membuat kilang-kilang kecil yang sangat diperlukan untuk memenuhi pasokan pejuang," kata sosok perempuan yang menjadi inspirator lahirnya deklarasi Darussalam untuk mengupayakan agar Blok Masela dikelola di darat itu.

Permiri yang dipimpin Pattiasina ini yang secara rutin mensuplai kebutuhan minyak Kesatuan Intelijen Komando Militer Sumatera Bagian Selatan sebanyak 10 ton setiap bulan. Sedangkan, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), juga mendapatkan jatah minyak sebanyak 10 ton untuk setiap kesatuan per bulan.

Di Lebong Tandai yang merupakan markas komando perjuangan, Pattiasina memimpin perusahaan tambang emas. Hasil tambang ini yang digunakan untuk membiayai perjuangan. Pemerintah darurat, bukan saja mengeluarkan kebijakan untuk menerbitkan uang kertas, tapi mereka juga mengeluarkan koin mas. Hasil dari tambang mas ini, yang menjadi modal untuk membiayai perjuangan.

Selama bergerak mundur dalam masa gerilya ini, pasukan minyak atau dikenal juga pasukan Permiri ini selalu membawa “mesin bubut Pattiasina”. Dengan modal mesin ini, pasukan Pattiasina memperbaiki kilang, membuat koin mas, dan membuat senjata rakitan dengan kapasitas produksi satu senjata per hari.

"Dalam masa gerilya inilah pasukan rakyat dilebur bergabung dalam militer Indonesia. Semua mengalami penurunan pangkat kemiliteran, bapak yang semula berpangkat Letkol diturunkan menjadi kapten," ujarnya.

Pattiasina yang memang memiliki keahlian teknik mumpuni juga berusaha untuk memperbaiki pesawat yang ditinggalkan dari zaman Jepang. Ketika itu, minyak untuk pesawat terbang dibuat di Tanjung Lontar, Muara Enim.

Dari Muara Enim ini, Pattiasina bersama Ibnu Sutowo dan Halim Perdanakusuma berusaha untuk melakukan penerbangan dari Tanjung Lontar menuju Jakarta, dengan menggunakan pesawat bekas Jepang yang sudah diperbaiki Pattiasina.

"Dalam masa agreri militer Belanda I dan II ini, bapak dan om Ibnu (Sutowo) juga mendirikan perusahaan dagang bernama Firma Musi. Perusahaan ini digunakan untuk melakukan perdagangan karet dan minyak dengan Singapura melalui Jambi," jelas wanita yang pernah menjadi peneliti CSIS ini.

Selain itu, Pattiasina memindahkan laskar minyak dalam Permiri dari Mangunjaya ke kilang yang lebih besar di Jambi. Pasukan ini yang membantu perbaikan dan menyiapkan minyak mentah untuk penerbangan, yang digunakan untuk menembus blokade laut Belanda pada 1947 sampai 1948.

Setelah kembali ke Palembang pada awal Januari 1950, Pattiasina sebagai pimpinan Permiri menyerahkan kembali semua tambang minyak di Sumatera Selatan dan Permiri dikembalikan kepada Gubernur Sipil yang dijabat dr Mohammad Isa.

Keandalan Marcus Pattiasina dalam bidang teknik selama perang gerilya ini, menyebabkan Pattiasina diserahi tiga tugas sekaligus, yakni sebagai Kepala DMT di Tentara dan Teritorium II; Kepala Genie Tentara Teritorium II dan sebagai Wakil Kepala Daerah Tentara Teritorium II. Dengan pangkat kapten itu, Pattiasina dan pasukan “teknik”nya dipercayai untuk melakukan berbagai pekerjaan teknik di Sumatera Selatan.

"Tidak hanya sebagai kepala genie angkatan darat, tetapi beliau juga memimpin PHB, Genie Tempur, Genie Bangunan, PLAD. Bahkan, harus merangkap sebagai Genie Angkatan Laut dan Genie Angkatan Udara," kata Anggota DPR/MPR periode 1992 - 1997 dan 1999 - 2004 dari Fraksi PDIP ini.

Hal itu untuk menutupi kekosongan, karena terjadi penyerahan material genie dari Belanda kepada Indonesia, sesuai Surat Penetapan Nomor 165/46/Pen/Bas tertanggal 4 Mei 1950. Belakangan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menetapkan agar di setiap teritorium dibentuk satu Batalyon Genie Pioner.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN