Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Perindustrian Agus G Kartasasmita saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022: Akselerasi Pembangunan Industri 2022, Selasa (23/11/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Menteri Perindustrian Agus G Kartasasmita saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022: Akselerasi Pembangunan Industri 2022, Selasa (23/11/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Menperin Beberkan Perkembangan Hilirisasi Industri

Selasa, 23 November 2021 | 22:18 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -Salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah transformasi ekonomi dari sumber daya alam menjadi industri bernilai tambah. Indonesia diharapkan tidak lagi menjadi negara pengekspor bahan mentah, tetapi produk jadi atau barang setengah jadi.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, pencapaian tingkat competitiveness dan nilai tambah harus juga menguatkan struktur dan pohon industri dari hulu ke hilir.

“Melihat sumber daya dan kekayaan Indonesia, fokus hilirisasi saat ini adalah pada industri berbasis bahan tambang dan mineral, berbasis migas dan batubara, dan yang berbasis agro,” ucap dia dalam Beritasatu Economic Outlook 2022 hari ke-2, di Jakarta, Selasa (23/11/2021).

Agus menerangkan, pada hilirisasi berbasis bahan tambang dan mineral dapat dilihat pada program penumbuhan dan pengembangan industri smelter. Saat ini, kapasitas smelter yang sudah beroperasi antara lain, mencapai 12,3 juta ton untuk nikel 6 juta ton untuk aluminium, 3.2 juta ton untuk tembaga, dan 19 juta ton untuk besi baja, setiap tahunnya. Penumbuhan dan pembangunan industri smelter logam sejak tahun 2015 sampai dengan Kuartal III-2021 sudah mencapai 69 perusahaan yang berada dalam tahapan, dengan total investasi US$ 51,43 miliar atau sekitar Rp 731,5 triliun.

Pada hilirisasi industri berbasis migas dan batu bara, saat ini sedang berlangsung pembangunan proyek gasifikasi batu bara. Proyek gasifikasi batu bara yang tengah dipacu realisasinya meliputi pabrik coal to chemical di Tanjung Enim dan Kutai Timur dan pembangunan coal to methanol di Meulaboh, Aceh.

Menurut Menperin, proyek-proyek ini merupakan salah satu dari beberapa industri pionir di Indonesia tengah dipacu realisasinya diharapkan dapat mengolah batu bara menjadi methanol sebanyak 4.5 juta ton per tahunnya.

Proyek gasifikasi batu bara ini didukung oleh ketersediaan sumber daya batubara yang mencapai 38,84 miliar ton dan cadangan ini dapat bertahan hingga 2091 dengan laju produksi tahunan sebesar 600 juta ton.

“Ini akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan karena akan mengakhiri tradisi penjualan komoditas mentah tanpa ada pengolahan dan nilai tambah,” kata Agus.

Di samping proyek gasifikasi tersebut, sedang berjalan investasi pembangunan pabrik petrokimia di Cilegon pengolahan naphta dengan kapasitas hampir 7 juta ton per tahun untuk di produksi antara lain menjadi etilena, propilena, butadiena, benzena, dan lain-lain.

“Dengan beberapa proyek petrokimia lain yang dalam proses realisasi, saya mengharapkan bahwa Indonesia akan segera menjadi negara Petrokimia No.1 di ASEAN,” ucap Menperin.

Agus mengungkapkan, lompatan kemajuan lainnya pada penerapan hilirisasi industri, yakni ekspor dari olahan sawit yang didominasi produk hilir cenderung meningkat dalam kurun lima tahun terakhir. Kontribusinya terhadap perolehan devisa cukup signifikan.

Dia mengatakan, Indonesia telah berhasil melakukan hilirisasi minyak sawit (CPO) yang terlihat pada ratio volume ekspor bahan baku sebesar 9,27% sedangkan produk hilirnya sebesar 90,73% (Agustus 2021) dan ragam produk hilir dari 54 jenis pada tahun 2011 menjadi 168 jenis tahun ini.

“Hilirisasi komoditas kelapa sawit dan minyak kelapa sawit yang juga dikembangkan untuk pasar global termasuk untuk keperluan Food; Fuel,Fine Chemical, Fito-nutrient (vitamin dan nutrisi), Feed (pakan ternak), dan Fiber (serat untuk material baru),” ujar Agus.

Menperin mengatakan, salah satu pencapaian program pengembangan industri bahan bakar nabati yang terus dilaksanakan sepanjang tahun 2020 melalui Program Mandatory Biodiesel 30% (B30) telah menyerap sekitar 10,2 Juta Ton CPO sebagai bahan baku.

Selain itu juga berperan sebagai alat untuk demand management, menyerap oversupply produksi CPO dunia, dan mempertahankan harga CPO dunia, termasuk menjaga harga beli tandan buah segar di tingkat petani tetap tinggi.

“Ini saja sudah menghasilkan penghematan devisa dari pengurangan impor BBM diesel sekitar Rp 38,3 triliun, penciptaan nilai tambah CPO sebesar Rp 13,19 triliun, dan pengurangan emisi gas rumah kaca setara CO2 sebesar 16,98 Juta ton,” ucap dia.

Agus mengungkapkan, nilai tersebut dapat semakin besar jika telah terbangun keterpaduan rantai pasok yang hingga saat ini masih perlu pembenahan. Sebagai contoh, pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini lebih banyak diikuti perrtumbuhan industri hulu seperti industri fatty acid, fatty alcohol, dan methyl ester. CPO belum dimanfaatkan untuk pengembangan industri hilir seperti farmasi, kosmetik, surfactant, dan kimia dasar organik.

“Padahal, dengan mengembangkan industri hilir, maka nilai mata rantai dan nilai tambah produk CPO akan semakin tinggi. Apalagi produk CPO memiliki kaitan erat dengan sektor usaha dan kebutuhan masyarakat, seperti pupuk, pestisida, bahan aditif makanan, dan lain-lain,” pungkas Menperin.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN