Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Merger Pelindo Dukung Tol Laut

Jumat, 3 September 2021 | 11:12 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id) ,Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKAR TA, investor.id -- Merger PT Pelabuhan Indonesia/Pelindo I, II, III, dan IV diharapkan turut mempercepat implementasi secara menyeluruh program Tol Laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Salah satu tujuan program tersebut adalah menyediakan layanan pelayaran kargo berjadwal dengan kapal berukuran 3.000-3.500 twenty foot equivalent units (TEUs) melalui pelabuhanpelabuhan utama, dari barat hingga ke timur Indonesia.

Direktur Utama PT Pelindo II Arif Suhartono menjelaskan, konsep Tol Laut yang direncanakan pemerintah adalah bagaimana pergerakan kargo dari barat ke timur itu dilayani kapal besar. Untuk pelayaran domestik ditargetkan kapalnya berukuran minimal 3.000- 3.500 TEUs. Dengan cakupan titik-titik pelabuhan utamanya adalah Pelabuhan Tanjung Priok (Jakar ta), Pelabuhan Belawan (Medan), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Sorong, atau Pelabuhan Ambon.

Guna mengakomodasi kapal-kapal besar, maka kedalaman kolam dermaga pelabuhan pun butuh hingga minus 12 meter. Namun, beberapa pelabuhan utama di belum dapat memenuhi kriteria itu.

“Dari titik-titik pelabuhan utama saja, itu tidak semua bisa menerima kapal-kapal tersebut,” kata Arif Suhartono dalam acara Zooming with Primus bertajuk “Merger BUMN Pelabuhan” yang disiarkan Beritasatu TV secara live, Kamis (2/9).

Arif Suhartono, Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Arif Suhartono, Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Narasumber lain dalam acara itu adalah Juru Bicara Kementerian BUMN Arya Sinulingga dan Pengamat Ekonomi Bhima Yudhistira. Dia melanjutkan, ketidakmampuan sejumlah pelabuhan melayani kapal besar didasari kapabilitas operatornya.

Menurut Arif, kemampuan ma singmasing Pelindo beragam, baik dari segi finansial, pengalaman, maupun sumber daya manusia (SDM).

Kapabilitas yang berbeda-beda itu menjadi salah satu alasan penggabungan Pelindo.

Arif menjelaskan, penggabungan melahirkan kemampuan yang seragam karena dikelola oleh satu entitas. Kemampuan keuangan dan SDM juga akan meningkat dengan merger.

“Jadi, salah satu harapan dari merger tersebut dengan adanya kapabilitas yang digabungkan seperti itu, paling tidak harapan untuk swing kapal-kapal besar terjadi,” kata Arif.

Tol laut. Foto: maritimindonesia.co.id
Tol laut. Foto: maritimindonesia.co.id

Arif menuturkan, dengan kemampuan sebelum merger yang berbeda, kapasitas pelabuhan utama tak setara. Hal ter sebut direspons operator pelayaran dengan mengoperasikan kapal-kapal yang lebih kecil dan langsung dari poin ke poin.

Pelayarannya bukan dengan model hub dan spoke. Di mana, seharusnya muatan dari pelabuhan pengumpan diangkut kapal lebih kecil menuju pelabuhan utama, untuk kemudian dialihkan muatannya ke kapal lebih besar dan sebaliknya.

“Contoh kalau kita ke Probolinggo dari Jakarta jangan sampai menggunakan angkutan kota yang isinya enam. Tapi dari Jakarta ke Surabaya dengan bus besar kemudian menggunakan kendaraan lebih kecil ke Probolinggo,” papar Arif.

Lebih jauh, Arif menyebutkan, dengan integrasi Pelindo, pelayanan pelabuhan untuk kelas yang sama akan setara. Saat ini, masih terjadi ketimpangan atau perbedaan pelayanan, khususnya pelabuhan-pelabuhan di kawasan timur Indonesia. Menurut Arif, ada setidaknya tiga pelabuhan di Indonesia timur yang akan dibenahi oleh Pelindo, yakni pelabuhan di Bitung, Kupang, dan di Jayapura atau Merauke.

“Ini coba kami pilih yang mana yang diharapkan oleh teman-teman customer,” sebut dia.

Penyamaan level pelayanan pelabuhan di kelas yang sama penting. Arif menjelaskan, bisnis pelayaran dan logistic secara menyeluruh sangat tergantung pada jaringan. Level pelayanan pelabuhan yang satu di bawah yang lain membuat logistic terhambat dan akhirnya berujung pada peningkatan ongkos.

“Bagaimana dengan adanya merger maka pelayanan di masing- masing pelabuhan dengan level yang sama dan kelas yang sama akan memberikan layanan yang sama stabil. Ini membuat jadwal shipping line lebih baik dan akhirnya lebih optimal,” ungkap dia.

Lima Pelabuhan Hub

Arya Sinulingga, Juru Bicara Kementerian BUMN RI dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Arya Sinulingga, Juru Bicara Kementerian BUMN RI dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Kementerian BUMN Arya Sinulingga menjelaskan, pemerintah sudah menetapkan setidaknya ada lima pelabuhan utama atau hub untuk mendukung konsep Tol Laut.

Selain pelabuhan utama, kata dia, ada juga pelabuhan dengan kelas di bawahnya. Guna mendukung program Tol Laut, pelabuhan-pelabuhan itu harus ditingkatkan lagi kapasitasnya.

Dalam rangka peningkatan kapasitas itu, lanjut Arya, maka akan didorong agar Indonesia Investment Authority (INA) untuk berinvestasi.

“Salah satu kunci merger adalah juga kita akan melibatkan INA. SWF (so vereign wealth fund) akan masuk. Itu akan memacu pembangunan pelabuhan baru. Jadi tidak boleh berhenti di situ juga,” ujar Arya.

Arya menambahkan, pelabuhan- pelabuhan kelolaan harus terus digerakkan agar berkelas dunia. Hal tersebut tentu membutuhkan biaya.

“Mau tidak mau dibutuhkan biaya anggaran dan disitulah kunci nanti SWF akan masuk. Makanya, setelah merger, SWF akan kami undang untuk masuk dalam sistem pelabuhan kita,” jelas dia.

Bhima Yudhistira, Pengamat Ekonomi dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Bhima Yudhistira, Pengamat Ekonomi dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Sementara itu, pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menilai peningkatan kapasitas pelabuhan memang dibutuhkan untuk menunjang program Tol Laut. Dengan merger, kebutuhan pendanaan akan lebih mudah diatasi karena skala keuang an perusahaan juga meningkat.

“Dari merger bisa mendapatkan financing entah dia bisa IPO anak usaha atau penerbitan obligasi. Ini untuk masuk kepada pembangunan pelabuhan yang baru,” papar dia.

Namun demikian, Bhima menambahkan bahwa kapasitas pelabuhan yang besar hanya salah satu aspek dalam menjamin keberhasilan Tol Laut. Sukses tidaknya Tol Laut juga turut diukur dari volume muatan kapal.

“Ada beberapa studi yang melihat bahwa masalah Tol Laut adalah kapal itu berangkatnya penuh nanti pulangnya kosong sehingga secara efisiensi tidak masuk,” imbuh dia.

Maka dari itu, menurut Bhima, masalah Tol Laut ini harus dilihat juga secara me nyeluruh. Harus ada komunikasi dengan pelaku usaha pemilik komoditas mengenai kebutuhan apa saja yang diperlukan. Dari sisi pelayaran pun wajib diadakan koordinasi terkait kebutuhan infrastruktur di pelabuhan yang memang diperlukan. Sehingga, pengembangan kapasitas pelabuhan turut terukur dengan baik.

“Mereka sebenarnya butuh apa? Butuh penambahan kapasitas pelabuhan sebesar apa? Kemudian, butuh kapal size-nya berapa?” ucap Bhima.

Dia mengatakan, apabila tidak ada komunikasi tersebut dikhawatirkan pengembangan pelabuhan sia-sia karena tak digunakan. “Kalau tidak nanti ada under capacity, jadi ada idle capacity yang tidak dimanfaatkan dengan baik karena tadi tidak penuh kapalnya,” tutur dia.

Kapal tol laut sedang melakukan kegiatan muat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Kapal tol laut sedang melakukan kegiatan muat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Foto ilustrasi: IST

Selain itu, jelas Bhima, diperlukan pembangunan cepat di kawasan timur Indonesia supaya Tol Laut optimal. Jadi, pengembangan kapasitas dibarengi dengan pembangunan kawasan.

“Harus ada motor-motor pertumbuhan yang dibangun serentak di kawasan timur Indonesia. Entah perkebunannya atau perikanannya yang berorientasi pada ekspor sehingga itu bisa matching dengan infrastruktur yang dibangun,” ungkap dia.

Menurut dia, integrasi Pelindo tidak cukup, tapi juga harus didukung oleh penyempurnaan dari hulu ke hilir sehingga biaya logistik bisa turun.

“Itu sebenarnya tantangan. Mengingat orang-orang tahunya setelah merger tahun depan barangbarang lokal lebih kompetitif dan berdaya saing dibandingkan produk impor yang shipping costnya lebih mahal dibandingkan di dalam negeri,” tuturnya.

Arya Sinulingga menyebutkan, untuk meningkatkan muatan kapal, sejumlah pelabuhan Pelindo akan diintegrasikan dengan 11 kawasan industri. Tar getnya seluruh kawasan industri itu terintegrasi pelabuhan pada 2025.

“Satu sisi kita memang cari uang untuk mengembangkan pelabuhan, kita juga mensinergikan ke-11 kawasan industri yang targetnya tahun 2025,” ucap Arya.

Turunkan Biaya Logistik

Arif Suhartono, Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Arif Suhartono, Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Di sisi lain, Arif Suhartono menjelaskan, salah satu tujuan merger Pelindo adalah untuk turut berkontribusi dalam menurunkan biaya logistik yang ditengarai mencapai 23,5% dari produk domestik bruto (PDB).  

Arif menjelaskan, dari sektor pelabuhan sendiri disebut berkontribusi sekitar 1,4% dari PDB. Meski terbilang, kata dia, apabila pelabuhan kurang optimal bisa mempengaruhi kinerja transportasi darat dan pergudangan yang menyumbangkan ongkos logistik paling tinggi.

“Pertimbangan utama yang saya amati dari pemerintah kenapa merger tidak lain adalah kaitan dengan logistic cost,” ungkap dia.

Menurut Arif, sektor pelabuhan bisa membantu menurunkan biaya logistik dengan memastikan waktu sandar kapal yang lebih singkat. Standar waktu sandar di pelabuhan dengan level yang sama harus setara sehingga ada menimbulkan efisiensi bagi operator pelayaran. Pada akhirnya, turut menurunkan biaya bagi pelanggan end user.

Arya Sinulingga, Juru Bicara Kementerian BUMN RI dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Arya Sinulingga, Juru Bicara Kementerian BUMN RI dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Arya Sinulingga menyampaikan bahwa untuk menurunkan biaya logistik secara menyeluruh, maka Kementerian BUMN menyiapkan klaster logistik untuk mendukung hal tersebut. Sejumlah BUMN yang akan tergabung dalam klaster ini, antara lain PT KAI (Persero), PT Pelni (Persero), PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Pos Indonesia (Persero), Damri, dan lain-lain.

“Logistik itu berhubungan dengan yang lain makanya kami di Kementerian BUMN tidak berhenti hanya di Pelindo. Kami akan buat klaster namanya klaster logistik,” papar Arya.

Dengan klaster ini, kata dia, pelayanan logistik akan terjadi secara end to end atau dari pintu ke pintu. Pembentukan klaster logistik masih dalam proses. Bhima Yudistira mengatakan, untuk menurunkan biaya logistic memang tidak hanya dari sisi pelabuhan saja. Ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi, seperti infrastruktur jalan, efektivitas moda transportasi, pergudangan, hingga sistem bea dan cukai.

“Yang paling besar salah satunya terkait dengan customs juga masalah di Bea Cukai dan itu di luar kewenangan dari Kementerian BUMN maupun Pelindo. Mereka koordinasi iya tapi ini ada Kementerian Keuangan,” ucap Bhima.

Bhima Yudhistira, Pengamat Ekonomi dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Bhima Yudhistira, Pengamat Ekonomi dalam diskusi Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Meski begitu, Bhima tetap mendukung pengintegrasian Pelindo. Pasalnya, menurut dia, merger BUMN kepelabuhanan ini menjadi ikhtiar dalam rangka menurunkan biaya logistik.

“Saya mendukung adanya konsolidasi pelabuhan sebagai suatu ikhtiar membenahi biaya logistik. Tapi kita harus benahi mulai dari hulu sampai hilir tuntas, termasuk pelibatan banyak sekali kementerian, lembaga, bahkan sektor private lain,” terang dia.

Menurut dia, merger Pelindo menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan reformasi perombakan total dari sistem logistik di Indonesia. Sebab, diharapkan merger ini bisa memberikan standardisasi dan meningkatkan kualitas pelayanan dan inovasi sehingga mampu menciptakan efisiensi dalam sistem logistik di Indonesia.

Bhima mengatakan, saat ini banyak negara yang merasakan dan mengalami gangguan rantai pasok selama pandemi. Bahkan, dampaknya cukup besar ter hadap perekonomian.

Karena itu, di saat memasuki momentum menuju pemulihan ekonomi, merger BUMN Pelabuhan menjadi salah satu ikhtiar atau usaha yang perlu didukung. “Karena ketika Indonesia masuk ke tahap pemulihan ekonomi, kinerja ekspor ke ne gara-negara yang pemulihan cepat terlihat mengalami kenaikan, seperti ekspor ke Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan sebagian besar negara di Eropa dan Asean, juga harus didukung dengan infrastruktur logistik,” katanya.

Merger Rampung 1 Oktober 2021

Operator pelabuhan arungi badai pandemi
Operator pelabuhan arungi badai pandemi

Sementara itu, secara legal, merger Pelindo ditargetkan rampung pada 1 Oktober 2021. Nantinya nama perusahaan adalah PT Pelabuhan Indonesia (Persero) tanpa nama I, II, III, IV.

Dalam penggabungan ini, Pelindo II menjadi surviving entity. Arif Suhartono menjelaskan bahwa merger Pelindo adalah dalam rangka membuat brand baru, meski Pelindo II yang akan menjadi entitas yang menerima penggabungan tiga Pelindo lain, konsep integrasi adalah menciptakan brand baru.

“Meski Pelindo II surviving entity, tapi konsepnya integrasi Pelindo I, II, III, IV adalah inikita buat brand baru bukan mem-Pelindo II-kan Pelindo I, III, IV. Kita buat brand baru untuk Indonesia,” kata Arif.

Dia menuturkan, dengan prinsip membentuk brand baru, maka komunikasi dengan stakeholders semakin mudah sehing ga mendukung merger empat BUMN pelabuhan yang ditargetkan terealisasi pada 1 Oktober 2021.

“Semua stakeholders mendukung. 1 Oktober 2021 secara legal terealisasi. Kemarin itu, menurut Undang-undang PT, 30 hari sebelum merger perusahaan harus sampaikan secara terbuka. Kalau tak ada aral melintang Pelindo merger terbentuk 1 Oktober 2021,” sebut Arif.

Arif menyebutkan, proses merger Pelindo cukup menantang. Berbeda dengan konsep holding yang lebih mudah, skema merger harus mengubah organisasi perusahaan secara keseluruhan.

“Merger beda dengan holding. Kalau holding dengan selembar kertas jadi. Merger sangat complicated karena organisasi berubah semuanya,” ungkap Arif.

Dia menjelaskan, kerumitan itu bisa dibayangkan dengan menggabungkan empat perusahaan ke dalam satu perusahaan. “Yang tadinya Pelindo I, II, III, IV menjadi satu perusahaan. Terkait organisasi seperti apa dan reporting-nya seperti apa itu berubah semua. Dan, terus terang saja kita prepare itu cukup panjang,” terang Arif.

Kendati demikian, dia mengungkapkan, proses merger Pelindo tetap bisa berjalan sesuai jadwal karena didukung semua pihak.

“Tapi tentunya Alhamdulillah dengan komunikasi yang bagus dengan understanding teman-teman dan keikhlasan untuk berubah bersama-sama ini menjadi lebih lancar,” jelas dia.

Arya menyampaikan bahwa penggabungan Pelindo sebenarnya rencana lama yang tak kunjung ter wujud. Namun akhir nya, pada masa pemerintahan ini, rencana tersebut bisa direalisasikan.

Menurut dia, terwujudnya merger Pelindo berkat upaya yang intens dalam meyakinkan sejumlah pihak bahwa rencana ini penting untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Selain itu, pandemi membuat kebutuhan penggabungan Pelindo semakin dibutuhkan. “Ini kerjaan lama tapi mungkin selama ini dukungan stakeholders masih kurang kuat sehingga keinginan yang sudah lama ini tak terjadi juga. Dengan kerja cepatnya Pak Erick Thohir dan di masa pandemi sekarang ini memacu kita bahwa Pelindo semakin penting,” jelas dia. 

Empat Subholding

Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Merger BUMN Pelabuhan, live di BeritaSatuTV, Kamis (2/9/2021). Sumber: BSTV

Proses pascamerger Pelindo ditargetkan rampung pada kuartal II-2022. Saat itu, akan ada empat subholding yang diproyeksikan sudah dapat menjalankan operasi bisnisnya masing-masing secara matang.

Keempat subholding atau anak usaha merger Pelindo terdiri atas PT Pelindo Terminal Peti Kemas, PT Pelindo Multi Terminal, PT Pelindo Solusi Logistik, dan PT Pelindo Jasa Maritim.

“Jadi pada saat nanti setelah merger, ada empat subholding, yakni subholding peti kemas, non-peti kemas, logistik, dan jasa maritim,” jelas Arif.

Dia menambahkan, setelah merger, anak-anak usaha Pelindo I-IV yang sekarang ada akan dikonsolidasikan di bawah subholding. Nantinya, Pelindo akan jadi induk usaha, lalu subholding sebagai anak usaha, dan cucu usaha yang sebelumnya adalah anak usaha Pelindo I-IV.

Arya Sinulingga mengatakan, dengan adanya subholding yang fokus pada sektor bisnis masing-masing, maka pelayanan akan lebih meningkat dan merata dari Sabang sampai Merauke. Lewat integrasi, maka sistem operasi dan pelayana yang digunakan hanya satu sistem sehingga memudahkan pelanggan.

“Dengan satu sistem jadi kalau terminal peti kemas dari Aceh ke Papua ini sudah satu sistem. Kemudian, non-peti kemas juga begitu, dari Aceh sampai Papua satu sistem. Logistik juga. Hal ini kita harapkan terjadi efisiensi,” terang dia.

Lebih jauh, Arya menyatakan, dengan penggabungan Pelindo, negara akan mendapatkan pendapatan yang lebih besar lagi daripada sebelumnya.

“Pendapatan ini dengan spesifikasi sektoral yang kita buat tadi, itu akan mendapatkan pendapatan lebih besar, baik dari pajak dan deviden. Ini akan menjadi lompatan besar bagi Pelindo memberikan kontribusi kepada negara,” papar Arya. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN