Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk Mi Instan Indonesia. Foto: Ist

Produk Mi Instan Indonesia. Foto: Ist

Pasta dan Mi Instan Indonesia Bebas Safeguard di Madagaskar

Kamis, 18 Juli 2019 | 21:07 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA – Pemerintah Madagaskar secara resmi mengumumkan penghentian penyelidikan tindakan pengamanan perdagangan (safeguard) untuk produk pasta dan mi instan impor, termasuk yang berasal dari Indonesia. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menjelaskan, pengumuman tersebut disampaikan pada 15 Juli 2019 melalui situs Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

“Sejak September 2018, produk pasta dan mi instan Indonesia menjadi objek penyelidikan pengamanan perdagangan yang dilakukan Otoritas Madagaskar. Pihak otoritas menilai, lonjakan importasi produk tersebut dari seluruh dunia menyebabkan kerugian serius bagi industri dalam negeri Madagaskar yang memproduksi produk serupa,” kata Oke di Jakarta, Kamis (18/7).

Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati menjelaskan, pada 9 Januari 2019, Otoritas Madagaskar mengumumkan penerapan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) sebesar 30% atas importasi produk pasta dan mi instan. Kendati demikian, penerapan BMTPS tersebut baru diberlakukan pada Juni 2019. Penerapan BMTPS itu dimaksudkan agar industri domestik Madagaskar berkesempatan untuk menyesuaikan diri dengan laju impor.

Selain itu, hasil penyelidikan akhir kasus ini juga telah disirkulasikan WTO pada awal Juli lalu, di mana pihak otoritas merekomendasikan penerapan tindakan safeguard dalam tiga lapis, yaitu: Kuota untuk Indonesia ditentukan sebesar 1.560 ton/tahun; Adanya ketentuan impor tarif di luar batas kuota (out-of-quota import tariff), yakni pengenaan tarif sebesar 44% pada semester pertama dan akan mengalami liberalisasi setiap tahun hingga mencapai 28% pada 2023 jika importasi melebihi batas kuota yang ditetapkan; serta Pengenaan minimum harga free on board (FOB) sebesar US$ 1.200/metrik ton untuk importasi mi instan dan US$ 450/metrik ton untuk importasi spageti dan makaroni.

Pradnyawati mengungkapkan, penyelidikan safeguard untuk produk pasta dan mi instan ini merupakan satu dari tiga penyelidikan pertama yang diinisiasi Madagaskar. Pada akhirnya, Otoritas Madagaskar memutuskan menghentikan kasus ini tanpa pengenaan tindakan apapun.

“Dengan demikian, diharapkan eksportir produk pasta dan mi instan Indonesia mampu menyasar peluang pasar yang kembali terbuka ke Madagaskar dan negara sekitarnya, serta negara yang tergabung dalam Common Market for Eastern and Southern Africa (COMESA) dan Southern African Development Community (SADC),” lanjut dia.

Pasta dan mi instan Indonesia sangat diminati konsumen Madagaskar dan telah dijual di sana selama sekitar 20 tahun. Potensi peningkatan ekspor mi instan ke Madagaskar juga masih sangat besar. Hal ini mengingat pangsa pasar mi instan Indonesia di negara tersebut masih relatif kecil, yaitu 5%, sementara volume impor Madagaskar terus meningkat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia ke Madagaskar untuk produk pasta dan mi instan tercatat sebesar US$ 3,2 juta pada 2018. Nilai tersebut meningkat 14,76% dibandingkan tahun 2017 yang mencapai US$ 2,8 juta. Pada tahun 2019, kinerja ekspor produk tersebut cukup terpengaruh akibat penyelidikan safeguard ini. Selama periode Januari–Mei 2019, Indonesia membukukan nilai ekspor untuk pasta dan mi instan sebesar US$ 1,2 juta atau turun 16,92% dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 1,4 juta.

 

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN