Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Struktur dan Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran

Struktur dan Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran

PDB Kuartal II-2020 Terindikasi Tumbuh Minus

Sabtu, 9 Mei 2020 | 12:39 WIB
Triyan Pangastuti ,Tri Murti

JAKARTA, investor.id - Peneliti Indef Andry Satrio Nugroho juga memprediksi PDB pada kuartal II-2020 masih akan jauh lebih rendah dari proyeksi dan bahkan terindikasi berada pada pertumbuhan minus.

“Untuk target pemerintah dengan skenario berat, saya rasa pun akan sulit direalisasikan, jika memang flatten curve baru akan terasa pada Oktober 2020, seperti gambaran dari studi SUTD. Ini diindikasikan bahwa kita melakukan relaksasi baru pada awal kuartal IV-2020. Bisa jadi akan tumbuh stagnan atau mengarah minus di akhir tahun nanti,” jelasnya.

Andry Satrio Nugroho
Andry Satrio Nugroho

Supaya bisa tumbuh paling tidak mulai Juli dan bisa beraktivitas normal, industri bisa berproduksi kembali, menurut Andry, syaratnya mesti sudah ada penurunan tajam new cases Covid-19 pada awal kuartal III-2020.

“Proses recovery bisa memakan waktu 1-2 tahun. Hal itu karena vaksin Covid-19 pun baru masuk pasar paling cepat kuartal I-2021. Sehingga, perekonomian kemungkinan paling cepat akan normal kembali pada kuartal I-2022,” katanya.

Namun, beberapa sektor yang paling pertama terkena dampak pandemic Covid-19, juga yang akan paling lama recovery, yaitu sektor-sektor yang berhubungan dengan leisure dan pariwisata.

Struktur dan Pertumbuhan PDB menurut Lapangan Usaha
Struktur dan Pertumbuhan PDB menurut Lapangan Usaha

“Sejauh ini sektor andalan khusus manufaktur seperti mamin (makananminuman). Untuk jasa yang masih bisa diunggulkan ada di logistik,” ujarnya.

Sementara itu, Core Indonesia membuat beberapa skenario mengenai PDB per kuartal.

Peneliti Center of Economic Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Foto: coreindonesia.org
Peneliti Center of Economic Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Foto: coreindonesia.org

Menurut peneliti Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet, skenario pertama ialah penyebaran Covid-19 hanya terjadi sampai pada kuartal II-2020.

Dengan skenario ini, diperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa berada pada kisaran 2,2% sepanjang tahun 2020. Rinciannya, pertumbuhan di Q2 akan mengalami kontraksi hingga -1,9%, kemudian proses recovery terjadi pada Q3.

Dengan asumsi efek dari penyebaran Covid-19 yang nihil, pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 3%, dengan support dari pertumbuhan konsumsi RT/swasta yang akan mencapai 4,8%, dan pertumbuhan PMTB akan berada di kisaran 3,8%. Pertumbuhan di Q4 akan berada di kisaran 3,5%.

Sementara itu, untuk skenario batas bawah, Core mengasumsikan efek dari Covid-19 masih akan terasa sampai dengan kuartal II. Berkebalikan dengan skenario di atas, pertumbuhan pada kuartal II diprediksikan akan mengalami pertumbuhan kontraksi hingga -7,5%, sementara di Q3 kontraksi pertumbuhan masih terjadi yang diperkirakan mencapai -5,2%.

Ekonomi baru terlihat proses recovery- nya pada Q4 dengan pertumbuhan akan berada di kisaran 0,5%.

“Namun, ketika kami membuat skenario, data pertumbuhan ekonomi Q1 belum keluar. Dengan rilis pertumbuhan hanya mencapai 2,97%, maka kecenderungannya, prediksi sekarang mengarah ke arah skenario kedua. Kalaupun tumbuh positif, pertumbuhan ekonomi hanya akan mentok di angka 2,2%,” jelasnya.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia secara Spasial
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia secara Spasial

“Skenario pertumbuhan berat oleh BI dan pemerintah relatif mirip dengan apa yang kami buat. Jadi, bisa tidaknya pemerintah mencapai target ditentukan oleh seberapa cepat pemerintah melakukan flattening the curve, sehingga muaranya bisa kembali membuka aktivitas ekonomi secara keseluruhan,” jelasnya.

Di samping itu, lanjut dia, program- program untuk menjaga daya beli masyarakat dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan konsumsi, sebagai pos terbesar dalam PDB pengeluaran, untuk bisa tumbuh lebih tinggi.

“Betul bahwa pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan social safety net, tapi jumlah yang dikeluarkan pemerintah masih sangat jauh dari kata cukup,” jelasnya.

Pemerintah, lanjut Yusuf Rendy, menganggarkan bantuan sosial untuk 9 juta KPM (non Jabodatabek). Jika bantuan ini diperuntukkan pada kelas kelompok masyarakat rentan miskin dan hampir miskin, maka angka 9 juta itu tentu masih sedikit jika dibandingkan jumlah kelompok masyarakat rentan dan hampir miskin yang mencapai sekitar 60 juta orang.

Mengenai arah kebijakan Kementerian/ lembaga (K/L) melakukan refocusing dan realokasi anggaran untuk penanganan Covid-19, dalam amatan Yusuf Manilet, memang ada yang berdampak dalam stimulasi ekonomi, meski ada juga yang tidak.

Ia mencontohkan, refocusing dana desa untuk BLT masyarakat miskin khususnya di desa merupakan hal positif sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat miskin di desa. Di samping itu, pemotongan transfer ke daerah dan desa untuk dialihkan sebagai insentif tambahan bansos Program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako.

“Dalam hal menjaga daya beli masyarakat miskin langkah pemerintah patut diapresiasi, namun kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat menengah (atau masyarakat yang hidup di sekitar garis kemiskinan) yang belum terlihat jelas dalam refocusing dan realokasi anggaran pemerintah,” jelasnya.

Dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian ini, Yusuf Manilet menilai, kemerosotan pertumbuhan ekonomi yang lebih dalam dari minus 0,4% sangat mungkin, apalagi jika diskenariokan Covid-19 terjadi sampai dengan akhir 2020. Begitupun sebaliknya, potensi untuk melakukan recovery juga sangat mungkin terjadi di akhir tahun ini.

“Hal ini kembali lagi pada bagaimana kebijakan pemerintah melakukan flattening the curve. Semakin cepat pandemic selesai, semakin cepat pula aktivitas ekonomi bisa dimulai kembali, dan proses recovery bisa dijalankan,” jelas Yusuf Rendy. (nov/ts/jn/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN