Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peneliti Center of Economic Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Foto: coreindonesia.org

Peneliti Center of Economic Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Foto: coreindonesia.org

Pelaksanaan Program PEN Turut Jaga Posisi Inflasi dan Daya Beli

Selasa, 5 Januari 2021 | 04:47 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) khususnya perlindungan sosial di tahun 2020 ikut menahan rendahnya angka inflasi di tahun 2020.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan inflasi di tahun 2020 sebesar 1,68%. Sejak pandemi Covid-19 berlangsung angka inflasi terus menurun sejak April sampai Juni 2020, bahkan sempat terjadi deflasi tiga bulan berturut turut. Pada bulan Oktober 2020 inflasi mulai pulih berada di angka 0,07% lalu naik menjadi 0,28% di November. Serta meningkat lagi jadi 0,45% pada Desember 2020.

“Program PEN ini menyelamatkan daya beli masyarakat dan mendorong inflasi lebih tinggi khususnya di semester dua tahun 2020,” ucap Yusuf saat dihubungi pada Senin (4/1).

Yusuf mengatakan meskipun saat pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) terjadi deflasi, inflasi perlahan pulih kembali. Hal ini menunjukan aktivitas ekonomi mulai berjalan kembali walaupun mungkin masih lebih terbatas Sebab bila bansos tidak disalurkan maka daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah akan tertekan dan ini akan berpengaruh ke permintaan. Ketika permintaan melemah maka inflasi juga semakin melemah.

“Meskipun ada tekanan dari pandemi angka inflasi sedikit tertolong karena pemerintah melakukan pelonggaran PSBB sejak tahun 2020. Pemerintah juga menganggarkan bantuan melalui PEN terutama bansos untuk kelas menengah ke bawah. Sehingga daya beli kelompok ini tidak jatuh lebih dalam,” ucap Yusuf.

Menurutnya kondisi inflasi akan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Saat pertumbuhan ekonomi sudah berada di posisi negatif maka inflasi juga akan rendah. Tetapi pertumbuhan ekonomi hanya akan tumbuh positif dengan beberapa catatan. Pertama yaitu kelanjutan pandemi Covid-19 di tahun 2021. Kedua yaitu bagaimana ketepatan  pengadaan dan distribusi vaksin. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi dinamika perekonomian dan angka inflasi.

“Angka inflasi akan relatif lebih tinggi bila asumsi yang mendasarinya  dilakukan dengan baik, yaitu distribusi vaksin, jumlah penderita Covid tidak meningkat drastis Saya kira ini akan mempengaruhi angka inflasi di tahun ini,” ucap Yusuf.

Yusuf mengatakan pemerintah masih memilki tantangan dalam mendorong daya beli masyarakat yaitu ketepatan penyaluran bansos. Oleh karena itu Data Terpadu Kesejahteraan Sosial(DTKS) harus dibenahi sehingga bansos bisa berjalan tepat sasaran dan memiliki efek domino positif pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu pemerintah juga bisa mengontrol  angka inflasi melalui komponen harga yang diatur pemerintah yaitu tarif dasar listrik dan bahan bakar minyak.

“Langkah pemerintah ini yang akan mempengaruhi inflasi selain tantangan untuk memperbaiki data bansos,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN