Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit. Foto: Humas Kemenkop

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit. Foto: Humas Kemenkop

Pemerintah Dorong UKM untuk Ekspor Produk ke Pasar Eropa

Rabu, 23 September 2020 | 11:11 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah mendorong para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk memanfaatkan peluang ekspor ke pasar Eropa yang semakin terbuka pascapandemi Covid-19. Namun untuk bisa mendorong ekspor UKM ini harus ada sinergi dari seluruh pihak terkait baik pemerintah maupun pelaku usaha.

 

“Untuk meningkatkan nilai ekspor UKM ke Eropa diperlukan kerja sama dari berbagai pihak agar UKM tidak hanya sekadar dapat bertahan tapi juga mampu meningkatkan kualitas sehingga dapat bersaing di pasar global khususnya di pasar Eropa, terutama di masa pandemi Covid-19 ini yang membuat UMKM menjadi salah satu yang paling terdampak,” kata Deputi bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit dalam pernyataan resmi yang diterima pada Rabu (23/2).

 

Menurut dia, ekspor produk UKM ke berbagai negara saat ini semakin terbuka lebar. Victoria mencontohkan, pihaknya telah memberikan dukungan terhadap upaya peningkatan ekspor UKM. Beberapa diantaranya, UKM di Bangka Belitung yang mengekspor Lidi Nipah ke Nepal, PLB E-commerce Marunda yang mengekspor 500 produk UKM ke PLB E-Commerce Ningbo di Tiongkok, serta dukungan kepada Sekolah Ekspor di SMESCO.

 

Kebijakan lain yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM diantaranya yakni fasilitasi standardisasi global, pelibatan BUMN sebagai offtaker, onboarding digitalisasi KUKM, fasilitasi promosi baik di dalam maupun luar negeri, hingga menjadikan SMESCO sebagai center of excellence.

 

Victoria menuturkan, hingga saat ini, terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi 97% terhadap total tenaga kerja dan 60% produk domestic bruto (PDB) nasional. Angka ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Namun, kontribusi ekspor UKM masih berkisar 14%, sehingga perlu ditingkatkan.

 

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, ekspor Indonesia ke negara-negara Uni Eropa senilai US$ 14,6 milyar. Angka tersebut terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara-negara APEC  yang mencapai US$ 122 milyar, ASEAN US$ 41,4 milyar, dan NAFTA US$19,6 milyar. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa terbesar yakni ke Belanda dengan nilai US$ 3,20 milyar, disusul Jerman US$ 2,4 milyar, Italia US$ 1,74 milyar, Spanyol US$ 1,59 milyar, Inggris US$ 1,35 milyar, Perancis US$ 1,01 milyar, dan Belgia US$ 1,07 milyar.

 

Sementara itu Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) atau Wakil Kepala Perwakilan RI di Brussel, Belgia, Sulaiman Syarif mengatakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan UKM di Indonesia sebelum melakukan ekspor ke Eropa. “UKM harus bisa menetapkan harga yang pasti, konsisten dan transparan,” katanya.

 

Ia menuturkan, UKM harus mampu menjaga konsistensi kualitas produk, kontinyuitas volume dan produksi, serta representative atau kontak yang mudah untuk dihubungi. “UKM juga harus memperhatikan terkait preferensi konsumen Uni Eropa untuk sustainability, fair trade, dan ethical trade,” kata Sulaiman.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN