Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menaker Hanif Dhakiri. Foto: Investor Daily/EMRAL

Menaker Hanif Dhakiri. Foto: Investor Daily/EMRAL

Penempatan Tenaga Kerja Berketerampilan Spesifik ke Jepang Dipercepat

Senin, 29 Juli 2019 | 15:16 WIB

JAKARTA, investor.id – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mendorong percepatan waktu penempatan tenaga kerja berketerampilan spesifik (specified skilled worker/SSW) ke Jepang. Langkah yang dilakukan untuk itu adalah menyiapkan regulasi dan mengupayakan jaminan perlindungan bagi pekerja migran Indonesia di Jepang.

“Pemerintah Indonesia menyambut baik kerja sama ini. Semoga, segala hal yang berhubungan dengan kerja sama ini, baik dari sisi regulasi maupun sarana pendukung dapat segera terealisasikan,” ucap Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri dalam keterangan, Sabtu (27/7).

Sebelumnya, Kemenaker dan Pemerintah Jepang sudah melakukan penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) on a Basic Framework for Proper Operation of the System Pertaining to Foreign Human Resources with the Status of Residence of “Specified Skilled Workers”.

Melalui kerja sama itu, Kemenaker menargetkan untuk mengirimkan 70 ribu pekerja migran berketerampilan spesifik (specified skilled worker/SSW) ke Jepang atau 20% dari jumlah tenaga kerja asing yang dibutuhkan. Upaya ini dilakukan juga untuk memanfaatkan bonus demografi yang sedang dialami Indonesia. Pada saat yang sama, Jepang juga sedang mengalami aging population.

Hanif mengatakan, saat ini hingga beberapa tahun ke depan, Jepang akan mengalami shortage tenaga kerja dan ageing society. Kondisi tersebut menyebabkan Jepang kekurangan tenaga kerja usia produktif. Untuk itu, Jepang menerbitkan regulasi keimigrasian berupa residential status baru bagi SSW (TKA) yang akan bekerja ke Jepang.

“Kerja sama SSW ini sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bagi Indonesia sendiri, ini adalah kesempatan untuk mengisi sejumlah jabatan yang dibutuhkan di Jepang,” ucap Hanif.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker Bambang Satrio Lelono mengatakan, salah satu kendala tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di luar negeri adalah bahasa. Untuk itu, Pemerintah Indonesia mengharap dukungan investasi pelatihan bahasa guna menciptakan tenaga kerja yang siap kerja maupun mendukung proses pemagangan bagi pemagang Indonesia.

Selain membantu proses adaptasi pekerja migran dan pemagang, Bambang menyebut, investasi bahasa akan turut meningkatkan perlindungan bagi pekerja migran dan pemagang. “Mengenai perlindungan mereka (Pemerintah Jepang) sudah membuat regulasi perlindungan warga negara asing yang ada di 126 paket kebijakan pelindungan,” ucap Bambang.

Bambang memastikan, pihak Jepang telah menyepakati segala hal ikhwal berkaitan dengan penempatan tenaga kerja SSW dan pemagang Technical Intern Training Program (TITP). Baik investasi pelatihan bahasa, transfer of technology, hingga perlindungan bagi pekerja migran dan pemagang. “Sehingga jaminan ini membuat warga negara asing itu nyaman untuk hidup di Jepang,” tutur Bambang.

 

Tiga Negara

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Khairul Anwar mengatakan, pemerintah terus memperkuat kerja sama antartiga negara anggota IMT-GT (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) guna menciptakan tenaga kerja yang kompeten, meningkatkan mobilisasi tenaga kerja, dan membentuk sistem informasi pasar kerja di tiga negara.

Menurut dia, untuk membentuk sistem informasi pasar kerja di tiga negara, maka pemerintah Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan dua program yang saat ini berjalan yaitu penguatan portal informasi pasar kerja dan pengakuan kompetensi keterampilan. Kedua program ini sangat penting dalam pengembangan ketenagakerjaan di ketiga negara anggota.

“Dengan adanya portal informasi pasar kerja di antara tiga negara diharapkan pasar tenaga kerja di tiga negara dapat terhubung sehingga kesempatan kerja dapat lebih luas,” kata Khairul, pekan lalu. Ia menambahkan, pemetaan informasi yang detail, akurat, dan dinamis dari pasar kerja ini diharapkan juga bisa memberikan informasi yang baik untuk lembaga pelatihan dan pendidikan sehingga mereka tahu apa yang dibutuhkan oleh pengguna.


 

 

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN