Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum KADIN Indonesia Rosan P. Roeslani,

Ketua Umum KADIN Indonesia Rosan P. Roeslani,

Perjanjian Dagang Tingkatkan Daya Saing Produk RI

Selasa, 28 Juli 2020 | 22:58 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Turki sempat mencapai nilai US$ 360 juta. Namun, dalam dua tahun, ekspor CPO turun menjadi US$ 5 juta karena Turki mengambil CPO dari Malaysia. Hal ini lantaran Malaysia dan Turki telah mengimplementasikan Preferential Trade Agreement (PTA) atau perjanjian di bidang tertentu yang membuat CPO Malaysia lebih murah karena penurunan bea masuk.

“Sehingga dalam rangka meningkatkan daya saing kita harus mendorong supaya Free Trade Agreement (FTA) benar-benar bisa kita manfaatkan, walaupun kita tidak perlu membuka diri 100%. Seperti dalam IA CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement), Australia membuka 100%, kita buka 94,5% . Kalau masih ada yang perlu kita berikan perlindungan tentu kita beri perlindungan,” kata Rosan dalam seminar daring “Mid-Year Economic Outlook”, Selasa (28/7).

Direktur Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Kasan Muhri, mengakui bahwa produk CPO Indonesia yang pernah mendominasi di Turki digeser oleh CPO asal Malaysia. Karena itu, menurut dia, untuk mengembalikan kekuatan CPO Indonesia di Turki, Indonesia perlu membuat perjanjian dagang sehingga tarif masuk produk bisa diperkecil.

Selain itu, dia meminta kepada pelaku usaha untuk memanfaatkan perjanjian dagang yang telah berlaku.

“Kita juga ingin mendorong pelaku usaha, dengan bekerja sama dengan beberapa kementerian dan lembaga, untuk mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian dagang yang sudah berlaku. Kita punya perjanjian dagang bilateral dengan Jepang, Chili, Pakistan, dan Australia,” ucap Kasan dalam kesempatan yang sama.

Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Kasan Muhri
Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Kasan Muhri

Dia menerangkan, Indonesia memiliki dua perjanjian dagang yang akan segera memasuki proses legislasi atau ratifikasi, yakni Indonesia dengan European Free Trade Association (EFTA) dan Indonesia dengan Mozambik. Di samping itu, perjanjian dagang antara Indonesia dengan Korea Selatan sudah selesai dinegosiasi, tinggal ditandatangani oleh kedua negara. Sementara itu, pada 2020, dia berharap pemerintah dapat menyelesaikan Indonesia-Tunisia Free Trade Agreement (FTA).

“Di regional saya kira beberapa perjanjian sudah kita selesaikan, seperti Asean dengan mitranya. Lalu pada 2020 ini, juga ditargetkan akan selesai RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang melibatkan 15 negara di luar Indonesia, Indonesia-Tunisia FTA, ini juga kita harapkan teman-teman pelaku usaha bisa memanfaatkan nantinya. Selama Covid-19, Kemendag, tetap secara virtual berupaya meningkatkan ekspor melalui pembukaan akses pasar dalam bentuk perjanjian dagang,” imbuh Kasan.

Dia juga mengatakan Kemendag akan terus mensosialisasikan perjanjian dagang telah berlaku, dengan melibatkan pelaku usaha, perwakilan dagang di negara tujuan ekspor, dan FTA Center di beberapa daerah.

Di samping itu, dia juga mengatakan akan mensosialisasikan perjanjian dagang kepada masyarakat melalui berbagai saluran media komunikasi. Selanjutnya, informasi terkait hasil-hasil perjanjian dagang juga ditampilkan di website Kemendag, atau ketika sosialisasi dilakukan.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN