Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seminar daring tenaga kerja Indonesia di Jepang bertema Duta Bangsa Menuju Global digelar oleh PT. Duta Global Insan Indonesia (DGII) bersama Universitas Islam As Syafiiyah (UIA)

Seminar daring tenaga kerja Indonesia di Jepang bertema Duta Bangsa Menuju Global digelar oleh PT. Duta Global Insan Indonesia (DGII) bersama Universitas Islam As Syafiiyah (UIA)

Potensi Devisa dari Tenaga Kerja Indonesia di Jepang Capai Rp750 T

Minggu, 24 Januari 2021 | 14:41 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Potensi devisa dari tenaga kerja Indonesia di Jepang mencapai Rp750 triliun. Bidang kerja yang bisa diisi tenaga kerja Indonesia adalah mulai perawat (caregiver) hingga beragam sektor industri.

 

“Dalam 10 tahun ke depan, Jepang membutuhkan sekitar 8-10 juta pekerja terdidik Indonesia untuk bekerja di berbagai jenis dan sektor industri. Dengan program Goes To Japan, Indonesia memerlukan investasi Rp. 15 triliun untuk membentuk 1 juta lulusan SMK-Sarjana yang siap kerja di Jepang, tetapi potensi devisa negara bisa mencapai sekitar Rp. 750 triliun; sebuah investasi yang tidak mudah dicapai oleh BUMN yang besar sekalipun,” kata Komisaris PT. Duta Global Insan Indonesia (DGII) Prof. Ace Suryadi, M.Sc, Ph.D, yang juga Dewan Pakar dan Ketua Pusat Kajian Kebijakan Pendidikan Nasional PGRI dalam webinar Duta Global to Japan yang digelar DGII bersama Universitas Islam As Syafiiyah (UIA) pekan ini.

 

Melihat potensi tersebut, Direktur Utama DGII Endraswari Safitri menyampaikan sangat penting untuk menyosialisasikan peluang kerja dan belajar di Jepang. “DGII tengah merancang sebuah konsep yang akan mempersiapkan anak bangsa yang profesional, mandiri, berwawasan kebangsaan yang siap berkarier di luar negeri, khususnya Jepang. Target kami adalah menyiapkan anak-anak usia 18-30 tahun untuk bekerja di luar negeri,” kata Endraswari.

 

Sebagai langkah awal, DGII dan UIA sudah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) dengan Liana Segrus, Co, Ltd – Jepang sebagai Registered Supporting Organization. “Isi MOU tersebut adalah kerjasama untuk bidang akademik dan pengiriman tenaga kerja terdidik ke Jepang. Kami dapat menjamin, jika anak lulus dalam pendidikan bahasa jepang dan karakter, maka dapat langsung berangkat ke Jepang,” ujar Endraswari.

 

“Di awal, DGII akan fokus kepada program Specified Skill Worker untuk pengirman tenaga perawat (caregiver),” lanjut dia.

 

Rektor UIA Dr. Masduki Ahmad, SH, MM. menyampaikan program kerja ini adalah sebagai solusi bangsa di tengah masa pandemi Covid 19.

 

Apalagi, tambah Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU (Komisaris Independen PT Telkom Indonesia, TBK) ke depannya Indonesia akan mengalami bonus demografi. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, ini akan menjadi permasalahan di bidang ketenaga kerjaan. “Selain itu, juga sangat penting mendorong terwujudnya link and match “pernikahan” antara pendidikan vokasi dan dunia industri/dunia,” kata Prof.Marsudi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Aliansi Pendidikan Vokasional Seluruh Indonesia.

 

Kazuya Yamanouchi, President Liana Segrus, Co, Ltd. Ia mengungkapkan, Jepang saat ini sedang mengalami kekurangan tenaga kerja (extreme labor shortage). Parlemen Jepang bahkan mengeluarkan kebijakan ketenagakerjaan baru melalui amandemen Immigration Control and Refugee Recognition Act, di mana kebijakan baru ini mulai berlaku sejak April 2019 dan akan membuka peluang kerja seluas-luasnya kepada negara lain.

 

“Perbedaan kebijakan parlemen Jepang dari yang sebelumnya adalah jika dulu hak dan kewajibannya pekerja asing dibedakan, sekarang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pekerja Jepang. Sebagai gambaran, gaji UMR pekerja Jepang jika dirupiahkan berkisar Rp25 juta,” ungkap Kazuya.

 

Shinji Kurata, HR Department Advisor, Hitowa Holding Co.Ltd menjelaskan, salah satu tenaga kerja yang sangat dibutuhkan di Jepang adalah tenaga kerja perawat. Perusahaan yang sudah berdiri sejak 2006 di Tokyo ini memiliki jasa pelayanan, yaitu pelayanan keperawatan untuk orang tua, anak-anak, individu, dan juga jasa pelayanan makanan.

 

“Kami menghadapi problem dan situasi bahwa generasi baby boomer akan masuk ke dalam penduduk usia tidak produktif di tahun 2025. Populasi ini akan meningkat 17,8% dari total populasi di Jepang. Sedangkan angkatan kerja produktif di Jepang akan mengalami penurunan, sehingga kebutuhan akan tenaga kerja di sektor keperawatan akan terus meningkat,” jelas Shinji.

Yoichiro Higashi, GM Business Development Group The Nishiniphon Shimbun, Co.Ltd. menjelaskan The Nishinippon Newspaper adalah surat kabar yang telah berdiri sejak 1876. NNP ini adalah anggota dari Actis Group Foreign Employment Center (AGFEC) salah satu asosiasi ketenagakerjaan asing di Jepang yang terbesar di Kyushyu, imbuhnya.

 

Yoichiro melanjutkan bahwa AGFEC ini bertujuan untuk menawarkan lowongan pekerjaan yang tepat bagi pekerja asing di perusahaan-perusahaan yang berada di kota Kyushyu. “The NNP juga bekerja sama dengan Liana Segrus, Co.Ltd (Registered Support Organization), kami bukan hanya menawarkan lowongan pekerjaan di Jepang, tetapi juga menyupport para pekerja asing untuk hidup di Jepang,” tandas Yoichiro.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN