Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo

PERTEMUAN TAHUNAN BI,

Presiden: Ekonomi Indonesia Melewati Titik Terendah

Kamis, 3 Desember 2020 | 16:07 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, sinyal positif tren pemulihan ekonomi Indonesia kini semakin jelas terlihat. Secara keseluruhan perekonomian nasional telah melewati titik terendah, seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi, kembali menggeliatnya aktivitas dunia usaha, meningkatnya impor bahan baku dan barang modal di bulan Oktober serta menurunnya kasus aktif Covid-19.

“Sinyal positif perekonomian juga sudah jelas, semakin jelas. Kerja keras kita mulai menampakkan hasil,” kata Presiden Jokowi saat berpidato secara virtual pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI), pada Kamis (3/12/2020).

Pertemuan yang diselenggarakan secara virtual dihadiri jajaran pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Indonesia Maju, Gubernur BI Perry Warjiyo, Dewan Gubernur BI, perwakilan negara sahabat, dan para gubernur se-Indonesia.

Presiden Jokowi mengatakan, perekonomian nasional yang sempat terkontraksi pada Triwulan II - 2020 minus di posisi minus 5,32%, menunjukkan perbaikan signifikan menjadi minus 3,49% pada Triwulan III-2020.

Selain itu, laporan kasus aktif Covid-19 per 3 Desember 2020 di Indonesia lebih rendah dari rata-rata dunia. Indonesia memiliki kasus aktif sebesar 12,72 % sedangkan rata-rata dunia 28,04 %. Kemudian tingkat kesembuhan juga semakin membaik, mencapai angka 84,02%. Lebih baik dari angka kesembuhan rata-rata dunia sebesar 69,56%.

Disebutkan, selama sembilan bulan pemerintah bersama masyarakat bekerja keras mengatasi dampak pandemi, menangani masalah kesehatan, dan menangani masalah ekonomi secara bersamaan.

Selama kurun waktu itu juga, pemerintah secara konsisten menjaga keseimbangan antara rem dan gas, menghambat penyebaran Covid-19, membantu yang sakit agar segera sembuh, membantu masyarakat agar tetap produktif, dan bertahan di tengah krisis.

“Kerja keras tersebut mulai menampakkan hasil. Sinyal positif sudah kita lihat. Alhamdulillah,” kata Presiden Jokowi.

Ia mengatakan, setelah melewati titik terendahnya, kini perekonomian nasional berada di titik balik menuju membaik, tren positif membaik. “Dan, dengan momentum ini, saya yakin kita akan bergerak lagi ke arah positif di Triwulan IV dan seterusnya,” katanya.

Presiden mengatakan, pemulihan ekonomi nasional juga ditandai bergeraknya industri pengolahan sebagai kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) yang menunjukkan perbaikan pada Oktober 2020.

Selain itu, neraca perdagangan yang mengalami surplus US$ 8 miliar di Triwulan III – 2020 turut mendukung ketahanan sektor eksternal.

Bahkan, dari sisi pasar modal dan keuangan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menunjukkan peningkatan hingga mencapai level masing-masing. IHSG berada di level 5.522 dan kurs rupiah ke dolar AS Rp 14.050 pada 17 November 2020.

“Perbaikan kinerja IHSG terdorong oleh peningkatan indeks saham sektoral. Sektor industri dasar mengalami pemulihan indeks saham terbesar sejak penurunan tajam di 24 Maret 2020 yang lalu,” katanya.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi mengajak jajaran Bank Indonesia untuk bersama-sama pemerintah menjaga momentum pertumbuhan yang positif ini.

“Tentu harus terus kita jaga. Kita harus tetap hati-hati, tidak boleh lengah, dan kita harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, waspada agar jangan sampai terjadi gelombang kedua, yang akan sangat merugikan upaya dan pengorbanan yang telah kita lakukan,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah juga tetap konsisten untuk bergerak ke depan, fokus pada upaya-upaya untuk keluar dari pandemi, mempersiapkan vaksin, dan program vaksinasi dengan cermat agar negeri ini bisa bangkit dan pulih dari pandemi.

“Kita harus bergerak cepat karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan,” katanya.

Di sisi lain, Presiden Jokowi secara eksplisit mengungkapkan bahwa pada tahun depan pemerintah akan dihadapkan pada besarnya jumlah pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) selama masa pandemi.

“Kita menghadapi besarnya angkatan kerja yang memerlukan lapangan pekerjaan. Karena itu, pemerintah berketetapan hati melakukan reformasi struktural, membenahi regulasi yang kompleks, dan birokrasi yang rumit,” katanya.

Menurut Presiden Jokowi, UU Cipta Kerja yang telah disahkan pada Oktober lalu harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Sebab siapa pun tahu bahwa Indonesia berada di posisi nomor 1 di Global Complexity Index yang paling rumit di dunia.

“Dan, itu harus kita akhiri. Itulah semangat yang mendasari lahirnya UU Cipta Kerja. Menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif, berdaya saing agar UMKM lebih berkembang dan industri padat tenaga kerja tumbuh dengan pesat. Perizinan dipermudah. Izin usaha UMKM cukup dengan pendaftaran saja dan banyak kemudahan-kemudahan lainnya,” katanya.

Ia berharap BI dapat mengambil bagian yang lebih signifikan dalam reformasi fundamental yang sedang kita gulirkan. Berkontribusi lebih besar untuk menggerakkan sektor riil, mendorong penciptaan lapangan kerja baru, dan membantu para pelaku usaha, utamanya sektor UMKM agar bisa kembali produktif.

Sebab dalam situasi krisis seperti ini, setiap elemen bangsa harus mampu bergerak cepat dan tepat, buang jauh-jauh ego sektoral, egosentrisme lembaga, dan jangan membangun tembok tinggi-tinggi berlindung di balik otoritas masing-masing.

“Kita harus berbagi beban, berbagi tanggung jawab untuk urusan bangsa dan negara ini agar negara kita mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat regional dan global,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN