Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Jokowi. (Foto: BPMI Setpres)

Presiden Jokowi. (Foto: BPMI Setpres)

Presiden Jokowi Keluhkan Belum Adanya Skenario Global Terkait Transisi Energi

Senin, 22 November 2021 | 17:02 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluh karena sampai saat ini belum ada skenario global terkait transisi energi. Padahal, hal tersebut diperlukan sebagai jalan menuju transformasi energi global  dari berbasis bahan bakar fosil menjadi energi hijau yang tidak menghasilkan karbon dan ramah lingkungan.

Disebutkan, saat menghadiri KTT G20 di Roma, Italia maupun Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa 2021 (COP26) di Glasgow, Inggris  bersama para pemimpin dunia, pada akhir Oktober dan awal November lalu, belum ada keputusan jelas mengenai  skenario global  transisi energi.

“Pada saat kita di G20 maupun  COP26 di Glasgow, kita hanya berkutat, berbicara mengenai bagaimana skenario global untuk masuk ke transisi energi,” kata Presiden Jokowi, saat berpidato pada Peresmian Pembukaan The 10th Indonesia Ebtke Conex 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/11).

Ia mengatakan, sebenarnya pada KTT sebelumnya masalah transisi energi  sempat dijadikan topik pembahasan. Namun,  saat itu, belum juga ditemukan jurus dan skimnya seperti apa yang harus diterapkan.

“Tahun ini,  dibicarakan lagi dan skimnya juga belum ketemu. Dijanjikan dana US$ 100 miliar,  tetapi keluarnya dari mana juga belum ketemu. Saya sendiri  ditanya waktu di G20 maupun  oleh PM Inggris Boris Johnson,  menyampaikan kalau untuk nett zero emission, Indonesia nanti tahun 2060, tidak bisa maju? Yang lainnya tahun 2050. Ya tidak apa-apa, yang lain-lain kalau hanya ngomong saja juga bisa. Saya juga bisa, saya sampaikan,” ujar Presiden Jokowi.

Ia mengatakan, Indonesia sebetulnya  memiliki kekuatan yang sangat besar mengenai energi terbarukan (renewable energy). Potensinya mencapai  418 gigawatt,  baik yang berasal  dari hydro power, geothermal, bayu, solar panel, biofuel, arus bawah laut, dan yang lainnya.

“Potensinya sangat besar sekali. Tetapi, kita harus ingat, dan para pemimpin dunia juga saya sampaikan. Tapi, kita ini sudah lama dan  sudah tanda tangan kontrak, PLTU-nya sudah berjalan memakai yang namanya batubara,” katanya.

Namun, lanjut Presiden Jokowi,  skenario global yang akan diterapkan  seperti apa, masih belum jelas. Ia mencontohkan, ketika pendanaan datang dan investasinya datang, harga energi  tetap lebih mahal dari batubara.

“Siapa  yang membayar gap ini. Siapa? Ini yang belum ketemu. Negara kita? Nggak mungkin, angkanya berapa ratus triliun rupiah, nggak mungkin, atau dibebankan kepada masyarakat? Tarif listrik  naik, juga tidak mungkin. Ramai nanti. Gegeran kalau terjadi  seperti itu. Kan, kenaikannya sangat tinggi sekali. Wong naik hanya 10-15%, demonya tiga bulan. Ini naik dua kali. Nggak mungkin,” ujarnya.

Presiden Jokowi  pun telah memerintahkan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan Menteri BUMN Erick Thohir  untuk mengalkulasikan secara riil biaya transisi energi yang diperlukan Indonesia.

Sebab, lanjutnya,  Indonesia   memiliki 4.400 sungai  besar maupun  sedang yang bisa digunakan  untuk  hydro power.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN