Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Economic Outlook 2022 yang digelar BeritaSatu Media Holdings, Senin, 22 November 2021.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Economic Outlook 2022 yang digelar BeritaSatu Media Holdings, Senin, 22 November 2021.

INDONESIA BAKAL JADI HUB VAKSIN BERBASIS MRNA

Presidensi G20 Beri Manfaat Ekonomi

Rabu, 8 Desember 2021 | 18:23 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com) ,Novy Lumanauw (novy@investor.co.id) ,Tri Murti ,Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah dan kalangan pelaku usaha menyatakan bahwa Presidensi G20 akan memberikan berbagai manfaat ekonomi bagi Indonesia. Dalam jangka pendek, penyelenggaraan G20 di Indonesia akan meningkatkan konsumsi domestik sebesar Rp 1,7 triliun dan PDB domestik Rp 7,43 triliun yang berasal dari kunjungan para delegasi.

Selain itu, akan meningkatkan peran UMKM dan membantu penyerapan sebanyak 33.000 tenaga kerja di berbagai sektor. Sedangkan dalam jangka menengah-panjang akan memperkuat citra positif Indonesia, menunjukkan kepemimpinan Indonesia di forum global, menampilkan kemajuan pembangunan Indonesia seperti infrastruktur, konektivitas, potensi investasi, serta menarik investasi asing

Selain ekonomi, isu kesehatan menjadi salah satu topik penting yang dibahas dalam pertemuan G20. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia berupaya untuk menjadi pusat produksi (hub) vaksin Covid-19 berbasis mRNA.

“Bapak Presiden melihat arsitektur kesehatan global, terutama untuk mendorong Asean termasuk Indonesia agar menjadi hub untuk produksi vaksin berbasis mRNA,” kata Airlangga Hartarto dalam video conference mengenai Sherpa Meeting/Presidensi G20, Selasa (7/12).

Potensi manfaat nyata Presidensi G20 bagi Indonesia
Potensi manfaat nyata Presidensi G20 bagi Indonesia

Dia mengatakan, jika Indonesia menjadi hub produksi vaksin berbasis mRNA, maka ditargetkan setiap negara dengan jumlah populasi 100 juta akan mempunyai minimal satu pusat produksi vaksin.

“Tentu ada kaitannya dengan hubintelektual terhadap vaksin tersebut yang perlu dikerjasamakan secara global,” ujarnya.

Menko Airlangga juga menjelaskan, pemerintah berupaya meraih potensi sebesar US$ 125 miliar pada 2025 melalui kerja sama internasional di sektor digital, salah satunya melalui Presidensi G20 Indonesia.

“Kita ingin melakukan kerja sama di sektor digital agar kita bisa melompat ke depan, dan agar potensi miliar dolar AS di 2025 bisa dicapai dengan kerja sama internasional,” katanya.

Nantinya, para Sherpa G20 akan mengunjungi Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) saat hari kedua gelaran 1st G20 Sherpa Meeting yakni pada 8 Desember 2021.

“Mereka akan mengetahui level dari digitalisasi yang dilakukan Indonesia, sehingga ini bisa memberikan inspirasi dan aspirasi,”ujarnya.

PIDI 4.0 merupakan salah satu showcasing inisiatif konkret Indonesia dalam mendorong industri digital dan mewujudkan digitalisasi industri. PIDI 4.0 merupakan solusi satu atap dalam percepatan transformasi Industri 4.0 di Indonesia dan menjadi jendela Indonesia 4.0 untuk dunia. PIDI 4.0 sendiri menawarkan lima layanan utama dalam membantu industri bertransformasi ke Industri 4.0 yaitu Showcase Center, Delivery Center, Capability Center, Ecosystem for Industry 4.0, dan Engineering and AI Center.

Airlangga menjelaskan, Making Indonesia 4.0 menjadi salah satu isu yang diusulkan oleh Presidensi Indonesia sehingga ini menjadi potensi besar bagi Indonesia dalam mendapat kerja sama internasional di sektor digital.

Making Indonesia 4.0 menekankan pada transformasi Industri 4.0 serta ekosistem industri yang modern, ramah lingkungan, berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Proyeksi pertumbuhan PDB negara G20
Proyeksi pertumbuhan PDB negara G20

G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri atas 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). G20 merupakan gabungan antara negara dengan kelas pendapatan menengah hingga tinggi, Negara berkembang hingga maju. G20 merepresesentasikan lebih dari 60% populasi dunia, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia.

Tema Presidensi G20 Indonesia adalah Recover Together, Recover Stronger yang memiliki harapan agar negara-negara di dunia dapat segera pulih dari pandemi secara bersama-sama di berbagai sektor dan agar terjadi pemulihan yang ke depannya mempunyai ketahanan dan keberlanjutan.

Adapun fokus Presidensi G20 Indonesia ada tiga yaitu kesehatan global yang inklusif, transformasi ekonomi berbasis digital, dan transisi menuju energi yang berkelanjutan.

“Kita patut berbangga karena pada saat pandemi seperti ini, Indonesia mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk memegang Presidensi G20 di 2022,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso dalam keterangan resmi, Sabtu (4/12).

Presidensi G20 Indonesia akan berjalan dalam waktu kurang lebih satu tahun, dengan 150 lebih pertemuan dari tingkat working group, tingkat menteri hingga ke kepala negara atau pemerintahan.

Substansi G20 terdiri atas jalur keuangan (Finance Track) dan jalur nonkeuangan (Sherpa Track). Isu yang dibahas pada Sherpa Track meliputi berbagai isu di sektor riil, antara lain kesehatan, ketenagakerjaan, perdagangan-investasi- industri, ekonomi digital, pariwisata, energi dan lingkungan, pembangunan, antikorupsi, serta pemberdayaan perempuan dan pemuda.

Dia menyampaikan bahwa Presidensi G20 Indonesia membawa manfaat ekonomi dan strategis.

“Indonesia juga akan mendapatkan manfaat strategis di mana Indonesia akan turut berperan besar di dalam menentukan arah kebijakan global ke depannya,” kata dia.

Menurut dia, penyelenggaraan G20 akan membawa berbagai manfaat ekonomi 1,5 hingga 2 kali lebih besar secara agregat jika dibandingkan dengan penyelenggaraan Annual Meeting IMF-World Bank di Bali pada 2018.

Selain itu, tambahnya, diperkirakan terjadi peningkatan konsumsi domestic sebesar Rp 1,7 triliun dan PDB domestik Rp 7,43 triliun yang berasal dari kunjungan para delegasi. Presidensi G20 Indonesia juga akan meningkatkan peran UMKM dan membantu penyerapan sebanyak 33.000 tenaga kerja di berbagai sektor.

Katalis Pertumbuhan Ekonomi

Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022, Prospek Investasi 2022, Selasa (23/11/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022, Prospek Investasi 2022, Selasa (23/11/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid optimistis Presidensi G20 Indonesia memberikan manfaat nyata sebagai katalis bagi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya terkait eksistensi Indonesia di dunia internasional semakin disegani dan diperhatikan.

Selain itu, Presidensi G20 juga akan membuka peluang bagi Indonesia untuk membawa agenda negara-negara berkembang.

“Selama ini, belum banyak yang mengenal Indonesia. Kami bersyukur, Indonesia menjadi pemimpin sebuah pergerakan ekonomi dunia. Indonesia adalah Negara berkembang pertama yang diberi tanggung jawab sehingga Indonesia bisa membawa agenda negara berkembang,” kata Arsjad kepada Investor Daily pada Selasa (7/12/2021).

Arsjad mengungkapkan, Presidensi G20 juga akan mengangkat citra Indonesia sebagai negara tujuan investasi, turisme, dan menaikkan kelas usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Manfaat nyata, tidak hanya turisme dan investasi, tapi mengangkat UMKM kita. Usaha dan sosial, dalam aspek menggerakkan roda ekonomi dengan ini semua menjadi dampak sosial yang baik,” jelas Arsjad.

Disebutkan, dalam rangka menujuPresidensi G20, Kadin akan bersinergi dengan pemerintah dengan menyelenggarakan sekitar 150 event di Bali, termasuk CEO Forum yang dihadiri pengusaha negara-negara G20.

“Kadin akan mengundang Global CEO untuk hadir di Indonesia. Kalau kita bisa menjelaskan Indonesia Incorporated, kita welcome, kepemimpinan Indonesia akan membawa dampak besar. Ekspor dan investasi naik. Indonesia akan lebih dipercaya sehingga membantu sisi perdagangan dan investasi,” ujar Arsjad.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani

Sementara itu, Koordinator Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kemaritiman dan Investasi, Shinta Widjaja Kamdani optimistis Indonesia dapat memanfaatkan Presidensi G20 untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia mengungkapkan, pemerintah telah menunjuk Kadin sebagai pihak penyelenggara yang bertanggung jawab atas keseluruhan acara dalam Forum B20 Indonesia 2022 dan jugaselaku koordinator untuk side events G20 Indonesia.

“Adanya B20, Indonesia akan menciptakan iklim investasi yang lebih produktif, meningkatkan devisa negara, aktivitas perdagangan, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi,” kata Shinta kepada Investor Daily, Selasa (7/12/2021).

Menurut Shinta, sejalan dengan fungsi Kadin sebagai jembatan antara pebisnis dengan pemerintah, maka melalui B20 Indonesia, Kadin bersama para pebisnis di seluruh G20 akan menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan, yang nantinya akan diterapkan di negara-negara G20.

“B20 Indonesia juga merupakan sebuah momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menarik investor sekaligus mempromosikan bisnis dan produk lokal,” kata dia.

B20 merupakan forum dialog resmi G20 dengan komunitas bisnis. B20 memberi rekomendasi kebijakan konkret terkait agenda-agenda prioritas, untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.

Selain itu, lajut dia, Kadin juga akan menggunakan momentum sebagai koordinator side events G20 Indonesia untuk mengadakan berbagai side events, seperti expo, investment expo, business matchmaking, panel discussion, dan kegiatan lainnya.

Ketua PHRI DKI Jakarta Sutrisno Iwantono
Sutrisno Iwantono

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Umum Jaringan Usahawan Independen Indonesia dan juga Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono.

Menurut dia, Presidensi G20 berpotensi mendatangkan investasi yang besar dari berbagai sektor, meski dia enggan menyebut kisaran nilainya. Sebagai Presidensi G20, lanjut Sutrisno, Indonesia bisa mendapatkan manfaat besar, mengingat rumusan-rumusan, dummy, agenda G20 biasanya dipersiapkan oleh sekretariat. Saat itulah Indonesia sebagai tuan rumah bisa memasukkan kebijakan-kebijakan yang akan dibahas untuk mendukung kepentingan perekonomian nasional.

“Nanti Indonesia bisa memasukkan sektor-sektor sebanyak-banyaknya, tidak hanya untuk sektor tertentu saja, ya mungkin nanti yang dimasukkan banyak sektor yang kita siap,” kata dia.

Dia menambahkan, pertemuan G20 biasanya diawali dengan Senior Officials’ Meeting (SOM), yakni pejabat senior melakukan pembicaraan multilateral terlebih dulu sebelum pertemuan tingkat kepala negara/pemerintahan.

Selanjutnya, pertemuan multilateral juga bisa dilanjutkan ke pertemuan bilateral. Sebagai tuan rumah, Indonesia bisa ikut memasukkan bahasan-bahasan yang akan dibicarakan.

Dia pun optimistis Presidensi G20 Indonesia akan berkontribusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, karena dengan digelarnya pertemuan G20 di Tanah Air sudah bisa dipastikan hal itu bakal mempromosikan Indonesia.

Pertemuan negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu pun diyakini bisa mendukung ekspor dan investasi yang tengah digenjot pemerintah.

“Secara gampang saja, pertemuan G20 itu kan masif, kita bisa pakai untuk mempromosikan Indonesia. Pembahasan banyak hal bisa dilakukan. Dan momentum ini tepat sekali untuk meyakinkan investor,” papar dia.

Dihubungi terpisah, ekonom Indef, Esther Sri Astuti Suryaningrum Agusstin menhatakan, manfaat Presidensi G20 Indonesia dapat menghidupkan sektor pariwisata, namun datangnya tamu dari banyak mancanegara tetap harus prokes mengingat bahaya varian baru Covid-19 akan tetap mengancam Indonesia.

“Penyelenggaraan 157 meeting di 18 kota tentunya akan menghabiskan banyak anggaran. Oleh karenanya Indonesia harus pintar memanfastkan peluang, dengan lebih banyak menjalin kolaborasi atau kerja sama dengan Negara negara anggota G20 dalam bidang yang telah ditetapkan seperti transformasi digital, circular economy, green economy, blue economy, dan Industri 4.0 baik dalam bentuk investasi, transfer teknologi, transfer pengetahuan dan lainnya agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Esther.

Dia menambahkan, total produk domestik bruto (PDB) negara-negara yang tergabung dalam G20 adalah 2/3 dari total PDB dunia sehingga ini kesempatan besar bagi Indonesia untuk menggalang banyak kerja sama untuk melakukan ekspansi pasar bagi produk Indonesia di luar negeri sehingga ekspor Indonesia meningkat dan terjadi surplus neraca perdagangan. Sebab, selama ini Indonesia masih hanya lebih banyak dijadikan pasar bagi produk produk impor

Menurut dia, yang paling penting adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar ketika investor asing masuk ke Indonesia dan membuka banyak pabrik atau perusahaan, tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan tenaga kerja asing, dan menjadi tuan rumah di negara sendiri.

“Kalau kualitas SDM Indonesia bagus maka mereka juga punya kesempatan untuk meningkatkan income-nya dan kemiskinan di Indonesia akan turun drastis,” jelas dia.

Kesenjangan Vaksin

G20 merepresentasikan lebih dari
G20 merepresentasikan lebih dari

Di sisi lain, Airlangga menuturkan, saat ini masih ada kesenjangan vaksin antara negara maju dan Negara berkembang. Hal ini berdampak pada penyebaran varian Covid-19 baru yaitu omicron yang berasal dari Afrika Selatan.

“Omicron ini menunjukkan ketimpangan vaksin antara negara maju dan berkembang. Kita ketahui omicron ini muncul dari Afrika Selatan yang rata-rata vaksinasinya baru 24%. Seluruh Afrika baru rata-rata 7%,” ucap Airlangga.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan vaksinasi Covid-19 dosis kedua akan mencapai 41,8% dari total penduduk Indonesia atau 113 juta jiwa pada akhir 2021.

“Target kita di akhir tahun adalah 41,8% atau sekitar 113 juta jiwa dan sekarang sudah divaksinasi sekitar 37% atau 99,6 juta orang. Ini menjadi tantangan untuk minimal di akhir tahun,” ucap Airlangga.

Target pemerintah ini melebihi arahan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni sebanyak 40% dari jumlah penduduk sudah harus tervaksinasi Covid-19 dosis kedua hingga akhir tahun ini.

Menurut Airlangga, perlu ada kolaborasi agar seluruh negara di dunia tidak panik menghadapi varian baru tersebut. Melalui G20 diharapkan ada kolaborasi global sehingga bisa membuat langkah-langkah terobosan. Karena itu diperlukan langkah konkrit secara bersama-sama.

“Langkah ini adalah langkah bersama yang lebih kuat dan lebih konkret. Selama ini kita menangani secara individual masing- masing negara,” ucap Airlangga.

Dia mengatakan, dengan terpilihnya Indonesia menjadi Presidensi G20 juga memberikan kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia di ranah global dan menjawab berbagai tantangan yang ada.

“Perhatian pemerintah tentu melihat pemulihan ekonomi harus diselenggarakan yang sifatnya inklusif, berdaya tahan, dan berkesinambungan,” ujarnya.

Menurutnya, pandemi yang tidak selesai akan mengganggu kehidupan masyarakat dan juga mengganggu recovery ekonomi.

“Kita melihat pembukaan ekonomi masih sangat bergantung pada bagaimana kita menangani pandemi termasuk varian baru,” ucap Airlangga.

Sherpa Meeting

Menlu Retno Marsudi. Sumber: BSTV
Menlu Retno Marsudi. Sumber: BSTV

Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia (RI) Retno Marsudi mengatakan fokus Pertemuan Sherpa (Sherpa Meeting) yang pertama adalah membahas mekanisme kerja ke depan dan arah pembahasan agenda G-20 setahun ke depan. Oleh karena pentingnya pertemuan ini maka diperlukan set the tone untuk mekanisme kerja atau cara kerja dan hasil dari keketuaan Indonesia selama satu tahun ini.

“Mengingat pentingnya pertemuan ini maka presidensi Indonesia telah mengintrodusir apa yang dinamakan ‘sofa talk’, yang akan memungkinkan para Sherpa berbicara secara lebih terbuka sehingga memudahkan kerja setahun ke depan,” ujar Menlu dalam video conference media briefing terkait Sherpa Meeting I Presidensi G20, Selasa (7/12).

Sebagai informasi, Pertemuan Sherpa dilakukan secara hybrid dan dihadiri oleh 38 delegasi yang terdiri atas 19 anggota G20, 9 negara undangan, dan 10 organisasi internasional. Selain itu, sebanyak 23 delegasi hadir secara in-person, dan sisanya secara virtual.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, G20 mengundang negara-negara pulau kecil dari Pasifik dan Karibia, di samping negara berkembang lain dari Afrika, Asean, dan Amerika Latin. Negara-negara Karibia diwakili oleh Ketua Caribbean Community (Caricom), yang saat ini dipegang oleh Antigua dan Barbuda. Sedangkan negara-negara Pasifik diwakili oleh Ketua Pacific Islands Forum (PIF), yang saat ini dipegang oleh Fiji.

“Kita juga mengundang sejumlah organisasi internasional seperti IMF, ILO, ADB, WHO, World Bank, dan WTO. Secara khusus, kita juga mengundang Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Dr Tedros Adhanom, yang hadir secara virtual, sementara Managing Director Bank Dunia, yaituMari Elka Pangestu, hadir secara fisik. Kedua pimpinan organisasi internasional ini akan memberikan briefing mengenai kondisi kesehatan dan ekonomi global terkini. Pelaksanaan pertemuan dilakukan dengan cara memperhatikan protokol kesehatan secara ketat,” demikian penjelasan Retno 

Ekonomi negara-negara G20
Ekonomi negara-negara G20

Dalam pidatonya, Retno juga menyampaikan ekspektasi dunia terhadap G20 yang sangat besar agar dapat memimpin pemulihan global dan menghasilkan solusi yang konkret. Dari sejak keketuaan Indonesia di G20, Presiden Jokowi selalu menekankan pentingnya kerja G20 membawa manfaat bagi semua dari barat ke timur, utara selatan, kecil dan besar.

“Kerja G20 harus down to earth.Dengan demikian, G20 tidak memiliki alternatif kecuali mengambil tanggung jawab agar dapat menghasilkan deliverables yang konkret untuk menjawab tantangan global, dari pandemi, lingkungan, sampai ke isu pencapaian SDGs. Saya sampaikan bahwa G-20 harus menjadi katalis bagi pemulihan global yang kuat, inklusif dan sustainable,” tambahnya.

Retno juga menekankan inclusiveness adalah kunci. Isu inclusiveness ini sangat terefleksi dari tema besar keketuaan Indonesia, yaitu recover together, recover stronger. Indonesia menekankan bahwa kemitraan dan menciptakan enabling environment sangat penting artinya.

“Dan untuk mem-frame kerja G20 ke depan, saya kembali menekankan tiga prioritas Indonesia, yaitu membangun arsitektur kesehatan dunia yang lebih kuat, transisi energi, dan transformasi digital. Saya juga mengharapkan agar sherpa G20 dapat menghasilkan arah yang jelas, mentransformasikan tantangan menjadi opportunities, dan tentunya kemudian semua rekomendasi ini disampaikan kepada para pemimpin G20,” ungkapnya. (ant/ts/ks/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN