Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jajaran manajeman PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (dari ke kanan): Hendry (Direktur), Meilyna Widjaja (Direktur Utama) dan Rubbiyanto Ping Hauw H.K (Corporate Secretary). Foto: Investor Daily/Amrozi Amenan

Jajaran manajeman PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (dari ke kanan): Hendry (Direktur), Meilyna Widjaja (Direktur Utama) dan Rubbiyanto Ping Hauw H.K (Corporate Secretary). Foto: Investor Daily/Amrozi Amenan

Prima Metal Sinergi Targetkan Omzet Rp 65 Miliar

Rabu, 21 April 2021 | 22:53 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

SURABAYA, investor.id - Perusahaan pemasok besi bekas, PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) tahun ini menargetkan pendapatan sebesar Rp 65 miliar, naik dua kali lipat dibanding tahun 2020.

Direktur Utama OPMS, Meilyna Widjaja, mengatakan, tahun lalu akibat terdampak pandemi Covid-19 kinerja perseroan menurun hingga 50% dibanding tahun 2019. Namun, tahun ini perseroan cukup optimistis kinerja tahun ini akan lebih baik dari tahun 2020, bahkan bisa menyamai kinerja tahun 2019.

“Kami akan genjot produksi tahun ini sebagai pemulihan setelah kinerja menurun di tahun 2020 lalu,” katanya di Surabaya, Rabu (21/4/2020).

Oleh karena itu, sepanjang tahun ini perseroan akan melakukan pembelian 10 unit kapal bekas dengan target tonase 20.000 GT atau 30.000 DWT yang diperkirakan menelan dana sebesar Rp 50 miliar. Sampai Maret 2021 lalu, satu unit kapal diantaranya telah dibeli, yakni KM Pricilia yang merupakan kapal bekas Roro, rute Jakarta-Kalimantan.

“Satu unit kapal tersebut diasumsikan dua unit kapal karena tonasenya cukup besar, yaitu 8.000 DWT,” ujar Meilyna.

Jajaran manajeman PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (dari ke kanan): Hendry (Direktur), Meilyna Widjaja (Direktur Utama) dan Rubbiyanto Ping Hauw H.K (Corporate Secretary). Foto: Investor Daily/Amrozi Amenan
Jajaran manajeman PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (dari ke kanan): Hendry (Direktur), Meilyna Widjaja (Direktur Utama) dan Rubbiyanto Ping Hauw H.K (Corporate Secretary). Foto: Investor Daily/Amrozi Amenan

Kapal siap dibongkar dan dipotong untuk selanjutnya didistribusikan ke para pemesan yang telah menunggunya dari industri besi seperti pabrik suku cadang otomotif dan pabrik besi beton bangunan di Jawa Timur yang kebutuhan besi bekas (scrap) rata-rata 5.000 ton per bulan.

“Selama ini perseroan menyuplai 5% dari total kebutuhan besi bekas di Jatim, selebihnya dipenuhi dari besi bekas impor,” ungkap Meilyana.

Dia memaparkan, selama setahun terakhir terutama sejak awal masa pandemi Covid-19 harga besi bekas di pasar dunia terus meningkat hingga 50%, terakhir harganya telah mencapai dikisaran Rp 6.000 per kg. Kenaikan harga besi bekas itu juga terpacu kenaikan harga minyak dunia.

Dalam waktu yang sama, harga logam berharga (precios metal) seperti tembaga, nikel dan kuningan sebagai bahan semi konduktor juga mengalami kenaikan materai. Selama ini perseroan juga menyuplai kebutuhan logam berharga tersebut ke pasar lokal yang didapat dari potongan kapal. Kandungan logam berharga dalam satu kapal sekitar 10%-15%.

“Dengan kondisi makro ekonomi yang kian membaik, ditambah kenaikan harga besi bekas dan precios metal, kami optimistis tahun ini bisa mencapai target omzet sekitar Rp 56 miliar,” papar Meilyana.

Direktur OPMS Hendry menyatakan, selain satu unit kapal yang siap dipotong, ada enam kapal yang sudah selesai nego dan dalam perjalanan untuk dibongkar di Kamal, Madura.

“Sebelumnya, kami juga telah melakukan pemotongan kapal dengan berat 5.580 GT dan hasil pemotongan kapal tersebut dialokasikan ke beberapa pabrik peleburan besi di Jatim," imbuh Hendry.

Dia menambahkan, sejauh ini pasokan bahan baku besi bekas dari kapal bekas di dalam negeri cukup melimpah. Apalagi belakangan banyak perusahaan pelayaran yang melayani angkutan laut antar provinsi kembang kempis dan memilih melego kapalnya karena merugi. Kapal bekas yang menjadi target pemotongan adalah kapal yang melebihi usia operasional dan tidak bisa diasuransikan lagi, termasuk kapal berusia di atas 25 tahun.

"Perseroan juga akan meningkatkan tenaga pembelian dan survey kapal untuk mempercepat proses pembelian dan akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya," pungkas Hendry.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN