Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kompor Listrik

Kompor Listrik

Program Konversi Kompor Harus Persetujuan DPR

Senin, 26 September 2022 | 20:28 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Rencana Pemerintah melakukan konversi kompor LPG ke kompor listrik sebaiknya dilakukan setelah melalui kajian mendalam. Program konversi ini pun harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pasalnya salah satu sasaran konversi merupakan masyarakat tidak mampu dengan daya listrik 450 volt ampere (VA) dan 900 VA.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Suparno mengatakan program konversi membutuhkan pembahasan detil dan komprehensif. Menurutnya konversi kompor merupakan kebijakan energi. "Untuk launching resmi perlu ada pembahasan dengan kami di DPR," kata Eddy kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (26/9).

Eddy mengapresiasi langkah Pemerintah yang menunda penerapan konversi pada tahun ini. Dia pun mendukung program uji coba yang sedang berlangsung di Denpasar dan Bali. Dengan uji coba tersebut maka dapat dievaluasi seperti apa permasalahan operasional yang dihadapi. Kemudian sejauh mana target penghematan yang didapat. "Kami mendukung uji coba untuk mengetahui respons dini masyarakat," ujarnya.

Secara terpisah, Anggota Dewan Energi Nasional Satya Yudha menuturkan arahan Presiden Joko Widodo terkait program konversi kompor LPG ke kompor listrik sangat jelas. Diperlukan kajian mendalam dalam penerapan program tersebut. "Penundaan program ini dimaknai tidak boleh tergesa-gesa perlu kajian," ujarnya.

Satya menjelaskan kajian yang diperlukan antara lain pengaruh konversi kompor terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) misalnya pedagang gorengan. Kompor listrik harus mampu menjawab kebutuhan pedagang tersebut mengingat tingkat mobilitas usahanya. Selain itu, diperlukan juga kajian terhadap rumah tangga tidak mampu. Mengingat daya listrik kompor induksi cukup besar.

"Berati ada pergantian MCB ke 3500 VA. siapa yang bayar abodemen walaupun tarif subsidi. Dikuatirkan malah rakyat terbebani," jelasnya.

Dikatakannya program konversi kompor ilistrik merupakan upaya menekan impor LPG demi ketahanan energi nasional. Terlebih kondisi pasokan listrik saat ini mengalami surplus. Situasi over suplai berpengaruh ke PLN lantaran ada skema take or pay. Perusahaan listrik plat merah itu harus membayar daya yang dihasilkan dari pembangkit listrik meski tidak tersalurkan. Selain pengalihan energi berbasis impor, tujuan kompor induksi untuk mengatasi over suplai.

"Oversupply akan didiskusikan bagaimana mensiasatinya. mobil listrik juga bisa jadi pangsa pasar kalau harganya terjangkau. sembari menunggu (pemulihan) industri kita," ujarnya.

Pendampingan

Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung arahan Presiden terkait peralihan LPG 3 kg ke kompor listrik yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif pada Kamis (23/9). PLN terus fokus dalam pendampingan dan evaluasi bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk program uji coba yang telah dilaksanakan kepada 1.000 KPM di Solo dan 1.000 KPM di Denpasar.

“Arahan pemerintah sangat jelas dan PLN menindaklanjuti dengan berbagai perbaikan pada program uji coba di dua kota tersebut. Kami terus memberikan pendampingan kepada masyarakat penerima manfaat, sampai benar-benar dapat mengoperasikan penggunaannya secara mandiri dan beralih sepenuhnya ke kompor listrik,” jelasnya.

Masyarakat penerima program peralihan kompor listrik adalah pelanggan dengan daya 450 VA dan 900 VA. Tidak ada perubahan daya listrik pelanggan. PLN menyediakan jalur kabel listrik khusus untuk memasak dengan daya yang cukup untuk kompor listrik. Jalur kabel ini terpisah dari intalasi listrik yang sudah ada dan tarif yang dikenakan juga tidak mengalami perubahan.

“Meskipun disediakan jalur kabel khusus memasak oleh PLN, daya listrik KPM tidak mengalami perubahan. Yang 450 VA tetap 450 VA, yang 900 VA juga tetap 900 VA. Kami juga memastikan, tidak ada pengalihan daya 450 VA ke 900 VA sebagaimana yang sempat beredar di masyarakat," ujar Darmawan.

Monitoring dan evaluasi terus dilakukan. Kendala-kendala teknis yang dialami KPM dalam menggunakan peralatan memasak seperti panci dan wajan menjadi masukan untuk dilakukan perbaikan. Namun secara keseluruhan program ini menunjukkan progres yang positif. Konsumsi kWh dari penggunaan kompor listrik semakin besar dan KPM mulai merasakan biaya memasak menggunakan kompor listrik lebih murah dari pada LPG 3 kg.

“PLN akan melaporkan data pemantauan dan evaluasi program uji coba kompor listrik di dua kota tersebut secara periodik untuk menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan selanjutnya,” ungkapnya.

PLN selalu berupaya menjalankan arahan pemerintah mempercepat transisi energi bersih di tanah air, mendukung upaya subsidi tepat sasaran, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia dari energi impor dan menggantinya dengan energi domestik yang lebih murah.

Sebelumnya, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) dan Kementerian ESDM memberikan pernyataan bahwa pihaknya menunda program konversi LPG 3 KG ke kompor induksi pada tahun 2022 ini.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebutkan, bahwa pemerintah memantau dan menghargai masukan dari masyarakat termasuk juga memonitor pemberitaan di media. Adapun setelah melihat langsung kondisi di lapangan terkait konversi kompor LPG 3 kg jadi kompor listrik induksi pemerintah memutuskan untuk menunda pelaksanaan tersebut.

"Dapat kami sampaikan, bahwa pemerintah belum memutuskan, sekali lagi pemerintah belum memutuskan terkait program konversi kompor LPG 3kg menjadi kompor listrik induksi. Namun dapat disampaikan, bahwa program ini tidak akan diberlakukan di tahun 2022.," ungkap Airlangga dalam Konfrensi Pers, Jumat (23/9).

Adapun perihal program konversi kompor listrik ditunda lantaran proyek ini masih dalam pembahasan anggaran bersama dengan DPR RI. "Dan tentunya belum disetujui," tandas dia.

Program konversi LPG 3 kg ke kompor listrik ini sejatinya masih dalam tahapan uji coba. Adapun prototype proyek ini dilakukan sebanyak 2.000 unit sampai 30.000 unit yang dilaksanakan di Bali dan Solo.

"Hasil uji coba ini akan dilakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan, pemerintah akan menghitung dengan cermat dengan biaya dan risiko, memperhatikan kepentingan masyarakat, serta sosialisasikan kepada masyarakat untuk program diberlakukan," tandas Airlangga.

 

 

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com