Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kolam Retensi Boulevard Sungai Wanggu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mampu mengendalikan banjir 75%.

Kolam Retensi Boulevard Sungai Wanggu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mampu mengendalikan banjir 75%.

Reduksi Banjir, Kolam Retensi Sungai Wanggu Kendari Berfungsi Tahun Depan

Jumat, 23 Oktober 2020 | 09:23 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

KENDARI, investor.id - Menghadapi musim hujan di Kota Kendari yang diperkirakan mulai turun April tahun depan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun Kolam Retensi Boulevard Sungai Wanggu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Sistem pengendali banjir ini mampu mereduksi banjir hingga 75%.

"Jadi sistem Wanggu ini kalau sudah selesai, praktis banjir di Kota Kendari bisa kita kendalikan sekitar 75%. Karena sumbangsih banjir paling besar di Kota Kendari berasal dari Sungai Wanggu dibanding 13 sungai yang lain," jelas Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari Haeruddin C. Maddi, Kamis (22/10).

Secara kontraktual, kolam retensi Wanggu seharusnya selesai Desember 2020. Namun, pembangunannya dipercepat karena sebagai wilayah transisi, musim hujan di Sultra berbeda dengan Pulau Jawa. Kalau di Jawa sekarang ini memasuki musim hujan, di Sultra justru musim hujan baru selesai dan mulai musim hujan lagi April, Mei, Juni tahun depan.

Kolam Retensi Boulevard Sungai Wanggu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mampu mengendalikan banjir 75%.
Kolam Retensi Boulevard Sungai Wanggu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mampu mengendalikan banjir 75%.

"Mei dan Juni biasanya intensitas hujan tinggi. Banjir besar tahun 2019 itu juga kejadiannya tanggal 10 sampai 11 Juni. Jadi insyallah kolam retensi ini tahun depan sudah berfungsi mengendalikan banjir meskipun belum tuntas semuanya karena Waduk Regulasi Nipa-Nipa belum selesai dan check dam juga belum dibangun," ucapnya.

Menurut Haeruddin, Check Dam akan berfungsi di samping untuk mereduksi kecepatan banjir, juga menghalau sedimentasi masuk teluk supaya teluk tidak cepat mengalami pendangkalan.

Ia menyadari, bahwa persoalan banjir sebenarnya tidak bisa diredukasi 100%. Tapi yang terpenting bagaimana luas area banjir di Kota Kendari yang mencapai 28 hektar bisa dikurangi. Hal yang tak kalah penting juga bagaimana lamanya banjir dapat diturunkan. Dengan begitu, praktis penanganan banjir sudah berhasil.

"Katakanlah misalnya lamanya banjir itu lima jam, setelah berfungsi kita mungkin bisa turunkan jadi 30 menit," ujar Haeruddin.

Lebih jauh, ia juga menjelaskan bahwa di bagian hulu sistem Wanggu akan terdapat 6 Check Dam dan Waduk Regulasi Nipa-Nipa yang punya daya tampung air sekitar 2,5 sampai 3 juta m3. Selanjutnya, air tersebut turun ke kolam retensi sekitar 500 ribu lalu mengalir menuju hilir yang di sisi kanan-kirinya sudah dibangun tanggul. 

Sistem pengendali banjir Wanggu juga akan menjadi sistem yang terintegrasi. 

Sebab, Wanggu mempunyai cabang-cabang sekitar lima sungai. Jadi ada beberapa sungai besar seperti Kambu dan Lepo-Lepo yang akan dijadikan main ramp. Interkoneksi sekunder pun akan masuk. Sehingga jika sistemnya sudah terkoneksi, maka akan mempercepat aliran air sungai menuju laut.

Secara prinsip, Kolam Retensi Wanggu sudah terbentuk, berikutnya tinggal dipercantik bisa dari lanskapnya ataupun jogging tracknya. Hal ini sesuai dengan pesan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bahwa pembangunan infrastruktur bukan saja berfungsi, tetapi juga bisa memberikan manfaat lain.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja mengatakan Sungai Wanggu identik seperti Sungai Ciliwung di Jakarta. Sebagai sungai utama, air yang masuk dari hulu sampai ke laut itu melewati Sungai Ciliwung kalau di Jakarta. Sedangkan di Sungai Wanggu, air dari hulu menuju laut melewati Kota Kendari. 

Sedikit yang berbeda, di Wanggu terdapat sungai-sungai tributary lain sebagai sistem Wanggu. "Posisi kita sekarang ini kira-kira di tengah karena hulunya Check Dam, di tengah bangun Kolam Retensi Wanggu dan Kolam Retensi Baruga 2022 nanti, dan di hilir ada sistem drainase dan tanggul. Jadi kalau penanganan banjir itu selalu hulu, tengah, dan hilir," terang Endra saat meninjau lokasi, Kamis (22/10).

Ia menilai, sistem Wanggu ini efektif karena hanya dengan anggaran Rp23 miliar sudah mendapat kolam retensi dengan kapasitas air hampir 500 ribu m3. Artinya, jika muka air sungai tinggi, sebagiannya akan dilimpahkan ke kolam retensi ini.

"Jadi semacam parkir. Nanti saat muka airnya turun, dia turun. Misalkan lamanya air sampai ke kota butuh 3 jam, kolam ini bisa menampung selama 3 jam terus ketika surut, airnya kita lepas lagi. Jadi dioperasikannya dengan pintu otomatis," sebut Endra.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, Kolam Retensi Boulevard Sungai Wanggu terdiri dari hulu dan hilir dengan total luas 8,9 hektar dan mulai dibangun pada 17 Maret 2020 lalu oleh PT Realita Timur Perkasa. Pagu anggarannya mencapai Rp29 miliar dengan nilai kontrak Rp22,7 miliar untuk satu tahun anggaran. Tercatat pada 18 Oktober 2020 lalu, progresnya mencapai 87,53%.

Sedangkan Kolam Retensi Baruga yang konstruksinya dibangun 2022 nanti memiliki luas genangan 75 hektar dengan volume tampung mencapai 2,5 juta m3. Kolam ini ditargetkan dapat mereduksi banjir hingga 46% dan menyediakan air baku 20 liter per detik.

Sistem pengendalian banjir di Kota Kendari relatif masih memerlukan lahan. Total lahan yang dibutuhkan untuk dibebaskan pada 2021 mencapai 80,72 hektar untuk mengerjakan tanggul banjir sungai Wanggu dan Kolam Retensi Baruga.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN