Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Rendahnya Kesadaran Masyarakat Vaksinasi akan Hambat Pemulihan Ekonomi

Sabtu, 13 Maret 2021 | 04:31 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Rendahnya  kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksinasi akan menghambat upaya pemulihan ekonomi nasional. Khususnya dalam upaya pemerintah untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yang berujung pada kenaikan kepercayaan masyarakat untuk belanja dan kegiatan ekonomi.

“Vaksinasi ini selain dilihat dari sisi kesehatan tetapi juga bisa dilihat dari sisi sentimennya. Karena beberapa kelompok masyarakat menengah ke atas tentu akan lebih terstimulan untuk belanja dan melakukan aktivitas ekonomi,” ucap Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet  saat dihubungi pada Jumat (12/3).

Hasil riset Danareksa Research Institute (DRI) mengungkapkan bahwa kerelaan (willingness) map asyarakat Indonesia untuk melakukan vaksinasi masih rendah, yaitu hanya 39,85%. Padahal, program vaksinasi dinilai menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan aktivitas ekonomi pascatekanan luar biasa akibat pandemi Covid-19 sepanjang 2020.

Untuk mencapai herd immunity maka vaksinasi harus dilakukan terhadap  181 juta penduduk Indonesia. Yusuf mengatakan rendahnya minat masyarakat vaksinasi karena masih ada yang bersikap skeptis yang menganggap vaksinasi ini tidak aman dan akan berdampak negatif.

“Saya kira di level grasroot banyak masyarakat  yang memang masih resisten terhadap vaksinasi ini,” imbuh Yusuf.

Faktor lain yang menghambat kelancaran vaksinasi yaitu banyaknya hoaks yang muncul di awal proses vaksinasi. Hal ini juga membuat masyarakat belum memahami dampak vaksinasi seutuhnya.

“Saya kira itu artinya memang ada dampak kalau pemerintah tidak bisa meng-address isu hoax dan meningkatkan kepercayaan untuk melakukan vaksinasi. Karena selain dari sisi kesehatan, muara besarnya juga akan kepada proses pemulihan ekonomi di tahun ini dan tahun depan,” ucap Yusuf.

Menurutnya pemerintah harus melakukan komunikasi publik yang baik mengenai vaksinasi Covid-19 ini. Pola komunikasi yang dibangun pemerintah sampai  sosialisasi dari pemerintah ke level terendah dalam struktur pemerintahan menjadi penting. Pemerintah juga bisa melibatkan tokoh masyarakat, artis dan influencer agar bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap vaksinasi.

“Saya kira ini yang menjadi kunci penting dalam mendorong masyarakat agar mau secara sukarela ikut vaksinasi. Keterlibatan tokoh penting akan meminimalisir isu negatif dari vaksin, selain itu juga  perlu sosialisasi dengan lebih masif terutama lewat media baik konvensional maupun media sosial,” ucap Yusuf.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN