Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi industri kelapa. (ist)

Ilustrasi industri kelapa. (ist)

Resesi Global bakal Gerus Ekspor Industri Kelapa 

Selasa, 28 Juni 2022 | 16:06 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Resesi ekonomi dunia bisa berdampak negatif terhadap industri pengolahan kelapa nasional. Alasannya, saat resesi, sejumlah negara bakal mengurangi impor produk nonesensial, seperti kelapa, sehingga akan menggerus ekspor komoditas ini.

Menurut Rudy Handiwidjaja, ketua harian Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (Hipki), industri kelapa harus mewaspadai krisis ekonomi global. “Sebagian negara tujuan ekspor Indonesia untuk kelapa dan produk turunannya sudah mengurangi permintaan, karena ekonomi dilanda krisis dan pasar lesi. Ini berdampak terhadap industri kelapa Indonesia,” ujar Rudy, Selasa (28/6/2022).

Advertisement

Keadaan ini, menurut dia, diperparah oleh belum pulihnya permintaan di pasar domestik, setelah Lebaran sale. Dengan kondisi ini, perusahaan mau tak mau menurunkan jumlah hasil produksi agar tidak membebani keuangan dan memicu kerugian, serta memelihara keberlanjutan usaha.

Artinya, dia menyatakan, industri kelapa akan menyesuaikan diri dengan dinamika pengurangan pembelian bahan baku industri, termasuk kelapa. Hal ini dirasa perlu agar senantiasa memelihara keseimbangan antara permintaan dan persediaan agar keberlangsungan usaha dapat dijaga.

Selain di sisi hilir yang sedang berat, dia menyatakan, industri kelapa hulu harus mendapat perhatian. Sebab, jika industri kelapa hilir sedang menghadapi kelesuan pasar, industri hulu akan susah menampung hasil panen dari petani kelapa.

“Terlebih, jika perkebunan petani kelapa sedang panen raya. Kami khawatir produksi tidak bisa diserap industri,” tambah Rudy.

Dia menyatakan, hal ini masalah baru, karena bila panen kelapa tidak terserap, akan menimbulkan kerugian besar bagi petani kelapa. Ini menjadi beban dan tantangan sendiri bagi perusahaan agar senantiasa melakukan berbagai macam penyesuaian serta improvisasi untuk memelihara keseimbangan antara aspek permintaan dengan aspek persediaan.

Seperti diketahui, dunia sedang terancam resesi ekonomi, seiring tingginya inflasi yang mendorong sejumlah bank sentral mengerek suku bunga acuan secara masif. Inflasi disebabkan krisis pangan dan energi, karena perang Rusia dan Ukraina. Sejumlah kalangan menyebut krisis saat ini belum sampai puncak. Sebab, belum ada gejala ekonomi dunia menuju perbaikan.

Bank Dunia telah memberi peringatan tentang ancaman resesi ekonomi ini. Dalam laporan Global Economic Prospect edisi Juni 2022, Bank Dunia menegaskan, negara-negara Eropa Timur adalah korban potensial resesi. Adapun ekonomi kawasan Amerika Latin diperkirakan tumbuh 2,2% tahun ini, namun tidak tertutup kemungkinan resesi.

Amerika Serikat (AS) juga di tengah ancaman resesi ekonomi. Di tengah inflasi umum yang melesat, AS melaporkan inflasi inti di negara tersebut justru stagnan dan cenderung melambat. Inflasi umum AS tercatat mencapai 8,6% pada Mei tahun ini (year on year/yoy), tertinggi sejak Desember 1981.

Sejalan dengan itu, daya beli masyarakat sejumlah negara menurun. Pada titik ini, masyarakat perlu mendahulukan konsumsi esensial dan meninggalkan konsumsi non-esensial, seperti kelapa.

Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Korea Selatan, India, Thailand dan Malaysia, menurut data Badan Karantina Kementerian Pertanian Indonesia (Maret 2022), merupakan negara tujuan ekspor kelapa dan produk turunannya. Negara-negara tersebut mengurangi impor karena sedang krisis ekonomi, secara otomatis berkontribusi mengurangi ekspor produk kelapa Indonesia.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN