Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Hendrarti, pemilik Rizkya Batik

Dwi Hendrarti, pemilik Rizkya Batik

Mitra Binaan Pertamina

Rizkya Batik, Bangkit dan Naik Kelas di Masa Pandemi

Sabtu, 31 Oktober 2020 | 21:47 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Awan pekat menyelimuti Jakarta menjelang tengah hari. Namun, langit tak kunjung menumpahkan air ke bumi. Lalu lintas di sepanjang jalan Jenderal Sudirman hingga jalan MH Thamrin Jakarta terlihat cukup padat. Di sekitaran bundaran Hotel Indonesia (HI) bunyi klakson kendaraan bersahut-sahutan. Ramainya suasana lalu lintas di jantung ibukota kontras dengan suasana pusat perbelanjaan di sekitarnya, Thamrin City salah satunya. Pusat perbelanjaan untuk produk-produk dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) itu relatif sepi. Pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih berlaku membuat masyarakat masih enggan untuk datang ke pusat perbelanjaan.

Toko Rizkya Batik di Blok A Thamrin City terlihat memajang ratusan baju batik beragam motif. Di toko seluas 3x2,5 meter persegi dan dilengkapi empat kamera CCTV itu, Indah (30) sang pramuniaga, tampak bersemangat saat empat orang calon pembeli wanita datang ke toko yang dijaganya. Wajah murungnya mendadak ceria. Dengan cekatan dia menghampiri calon pembeli berharap rezeki hari ini mengalir deras. Dengan telaten dia menjelaskan motif dan bahan batik yang dipilih calon pembeli. “Ini batik tulis Solo. Diskon, Bu,”ujarnya.

Calon pembelinya pun terlihat serius mengamati detail baju batik yang diincar. Saat Indah mengatakan harga batik tulis tersebut Rp 1,8 juta, para calon pembeli hanya menawar dengan harga Rp 200 ribu. Indah  sontak kaget dan tersenyum kecut tanpa bisa berkata-kata. Transaksi pun gagal, Indah kembali lagi duduk di kursi kayu dan berharap ada lagi pembeli yang datang. “Sekarang sangat sepi. Biasanya sehari bisa jual Rp 10 juta, bahkan Rp 20 juta. Sekarang ini kadang-kadang no sale,” ungkapnya lirih kepada Investor Daily.

Indah mengungkapkan, sejak pandemi Covid-19 penurunan penjualan di toko yang dijaganya mencapai 90%. Bahkan, toko-toko di sekitarnya sering tutup lebih awal. Meskipun banyak produk yang didiskon, pengunjung hanya sekadar lewat dan melihat saja. Kegundahan Indah cukup beralasan, sebab setiap malam usai menutup toko, dirinya harus menyampaikan laporan kepada pemilik Rizkya Batik, Dwi Hendrarti, berapa banyak penjualan hari itu.

Beruntung sang pemilik saat itu berada di toko sehingga Indah bisa langsung menyampaikan laporan. Termasuk penawaran calon konsumen yang baru saja dia layani. “Batik tulis hanya ditawar Rp 200 ribu, Bu,” katanya. Sang pemilik hanya melempar senyum. “Mungkin mereka (calon pembeli) belum tahu,”ucap Dwi.

Dwi memahami bahwa situasi sulit akibat pandemi Covid-19 ini bukan saja dirasakan olehnya, namun juga hampir semua sektor perekonomian bahkan di seluruh dunia. Namun, dia merasa bersyukur karena dirinya tidak merasa sendirian menghadapi situasi sulit seperti saat ini. Ada pihak yang memberikan pendampingan selama 10 tahun terakhir, termasuk dalam melewati masa-masa sulit, yaitu PT Pertamina (Persero). “Alhamdulillah saya sudah menjadi mitra binaan Pertamina sejak 2010. Saya berharap ini bisa terus berlangsung,” katanya.

Wanita berusiaa 55 tahun ini mengungkapkan, banyak hal positif yang dirasakannya selama menjadi mitra binaan Pertamina. Selain mendapatkan bantuan permodalan dengan bunga yang sangat ringan, dia juga mendapatkan berbagai program pelatihan, dan diikutsertakan dalam berbagai event besar. Dia juga mendapatkan fasilitas  gerai di tempat strategis seperti bandara, dan mendapat kesempatan untuk dipromosikan secara lebih luas. Pada buku Pertamina SME 1000 Empower to Grow, yakni katalog daftar 1.000 UMKM mitra binaan unggulan Pertamina, nama Rizkya Batik bisa ditemui pada halaman 54, lengkap dengan alamat serta ulasan singkatnya. Dwi mengaku sangat bangga profilnya bisa terpampang secara eksklusif di katalog tersebut.

Katalog Pertamina SME 1000
Katalog Pertamina SME 1000

Bagi Dwi, masa pandemi Covid-19 ini membawa hikmah tersendiri. Dia mengaku semula sangat percaya diri hanya mengandalkan jalur offline untuk pemasaran. Betapa tidak, dia memiliki lima buah outlet di Thamrin City. Produk Rizkya Batik juga diterima di  beberapa gerai di mal papan atas seperti Plaza Senayan, Pondok Indah Mall, Paris Van Java Bandung, dan Tunjungan Plaza Surabaya. Dia juga mendapat kesempatan dari Pertamina untuk hadir di bandara internasional Soekarno-Hatta. Namun, kini mau tak mau Dwi harus mengikuti perkembangan zaman yakni memasuki era digital. Baginya, ini semacam cara agar dirinya 'naik kelas', dan dikenal di lingkup yang lebih luas, bukan hanya nasional tapi juga mancanegara. Dia pun mulai memasarkan produknya melalui media sosial dan beberapa marketplace. Dia juga memiliki pelanggan  yang terdaftar sebagai member. Saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 4.000 orang.

Apa yang dilakukan Dwi memang tepat. Seperti diungkapkan Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun. Dia meminta para UMKM untuk memasarkan produk melalui platform e-commerce di masa pandemi Covid-19 saat ini sehingga bisa bertahan mengarungi badai. Apalagi, sekitar 30 juta UMKM terkena dampak serius pandemi Covid-19. Dari catatan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), saat ini jumlah UMKM yang telah terhubung ke platform digital baru sebanyak 10,25 juta pengusaha atau 16% dari total pelaku UMKM.

Ikhsan juga berharap agar kolaborasi para pemangku kepentingan lebih diperkuat. Sehingga, pengembangan UMKM dapat berjalan lebih baik. “Karena ini menyangkut kepentingan negara dan bangsa, kami berharap kolaborasi dilakukan secara lebih baik mulai dari tahap pembuatan program hingga evaluasi pemberdayaan,” tegasnya.

Komitmen Pertamina

Memberikan dukungan penuh kepada UMKM memang merupakan satu dari 10 komitmen Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam menakhodai Pertamina selama pandemi. Memahami peran UMKM yang signifikan terhadap perekonomian serta dampaknya terhadap ketenagakerjaan, mendorong Nicke untuk terus memastikan Pertamina memberikan dukungan penuh kepada UMKM agar bangkit.

“Walaupun Pertamina juga terdampak Covid-19, kita tetap harus dapat menyebarkan energi kepada yang lain agar semuanya bisa survive. Jadi, Pertamina harus survive, industri nasional harus survive, masyarakat juga harus survive. Inilah cara kita memulihkan bangsa,” kata Nicke.

Lebih lanjut, Vice President CSR & Small Medium Enterprise Partnership Program (CSR & SMEPP) PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita menjelaskan bahwa Program Kemitraan merupakan program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri yang merupakan bagian dari Program PKBL sesuai Per-02/MBU/04/2020 Tentang Perubahan Ketiga Permen BUMN No. Per-09/MBU/07.2015 Tentang Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara.

"Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003, Pertamina fokus dan berkomitmen kuat untuk mendukung kebangkitan usaha kecil dan menengah kita. Juga menjadi tumpuan bagi upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs," katanya.

Melalui Program Kemitraan, Pertamina telah menyalurkan dana pinjaman, pendampingan, serta pembinaan usaha pada UMKM. Penyaluran Dana Pinjaman Program Kemitraan diberikan dengan nilai hingga Rp 200 juta dan jasa administrasi sebesar 3 persen per tahun. Setelah modal, mitra binaan ditingkatkan kemampuannya sehingga dapat bersaing menjadi tangguh dan mandri. Program terdiri dari upskilling bidang keuangan, marketing, promosi, maupun lainnya yang menyangkut peningkatan produktivitas Mitra Binaan.

Setiap tahunnya Pertamina menganggarkan dana Program Kemitraan yang dapat disalurkan kepada UMKM. Untuk penyaluran bantuan permodalan Program Kemitraan dari tahun 1993, Pertamina telah menyalurkan sebesar lebih dari Rp 3,5 triliun. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah total penyaluran senilai Rp2,44 triliun bagi 20.980 mitra binaan. Tidak hanya bantuan permodalan, dalam Program Kemitraan juga diberikan pembinaan agar UMKM dapat naik kelas.

Outlet Rizkya Butik yang hadir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Outlet Rizkya Butik yang hadir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Melalui pembinaan, harapan Pertamina kepada para UMKM yakni bisa Go modern, Go digital, Go online dan Go global. “Dengan begitu, para UMKM bisa mandiri, dan membawa kebermanfaat bagi pihak lain. Seperti penyediaan lapangan kerja, ikut menyumbang PDB Nasional, serta memperbesar nilai investasi di Indonesia,” kata Arya.

Dalam upaya pembinaan, Pertamina memiliki 8 program unggulan UMKM Naik Kelas, yakni pertama, UMKM Academy SME, fast track yakni program akselerasi bagi UMKM berprestasi.

Kedua, sertifikasi dan perizinan, dimana Pertamina akan mendampingi para mitra binaan untuk memperolehan izin usaha dapat berupa PIRT, Izin Edar BPOM, NIB, IUMK, Sertifikat Halal maupun izin usaha dan sertifikasi lainnya untuk mendukung usaha mitra binaan Pertamina.

Ketiga, Display Product UMKM. Pertamina bekerja sama dengan BUMN maupun instansi lain untuk dapat mempromosikan produk UMKM di wilayah strategis. Para mitra binaan akan diberikan tempat khusus untuk memajang produk UMKM di area publik. Di antaranya berada di kawasan bandar udara dan hotel sebagai salah satu destinasi turis domestik maupun mancanegara.

Selain itu juga memanfaatkan Rumah BUMN Pertamina yang terletak di 29 titik di seluruh indonesia sebagai jaringan pesebaran dan penjualan produk UMKM. Dengan begitu hasil penjualan UMKM bisa meningkat dan cakupan pemasaran pun juga lebih luas.

Keempat, E-learning. Pertamina menyediakan sarana berupa e-platform UMKM yang dikhususkan untuk mitra binaan Pertamina dan dapat diakses melalui situs www.belajarUMKM-pertamina.com. Seluruhnya akan dimulai dari tingkat dasar yakni basic. Selanjutnya tingkat menengah atau intermediate. Dan tingkat paling atas yakni advance.

Kelima, Publikasi UMKM. Publikasi dijalankan secara konsisten. Hingga triwulan III tahun 2020, total terdapat 475 konten pemberitaan terkait UMKM yang sudah dipublikasikan, baik di media cetak, online, maupun elektronik. Publikasi yang dilakukan program kemitraan meliputi promosi produk mitra binaan, selain itu juga beberapa program dan penyaluran program kemitraan.

Keenam,  penjualan UMKM melalui e-commerce bekerja sama dengan market place. Ketujuh, katalog Pertamina SME 1000, yakni katalog daftar 1.000 UMKM mitra binaan unggulan Pertamina yang telah melalui proses kurasi di masing-masing sektor usaha. Pertamina SME 1000 berisi profil usaha, pengenalan produk, alamat, nomor kontak, hingga akun media sosial UMKM tersebut. Selain itu, beberapa informasi UMKM dibuat dalam bentuk narasi, yang menceritakan tentang awal membangun usaha maupun kiat mempertahankan usaha tersebut hingga sukses.

Menurut Arya, Pertamina bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menerbitkan buku berisikan daftar 1.000 UMKM mitra binaan unggulan dari Sabang hingga Merauke. Mencantumkan pengenalan produk, merek produk, dan profil mitra binaan unggulan sebagai media promosi.

Kedelapan, exhibition/ virtual exhibition. Exhibition atau pameran merupakan salah satu wujud upaya pembinaan untuk memperluas akses pasar mitra binaan UMKM pertamina. Dalam kegiatan pameran, disertakan business forum yang merupakan pertemuan bisnis antara mitra binaan dengan pembeli potensial yang berasal dari berbagai negara agar menghantarkan mitra binaan untuk dapat go global.

Arya juga mengungkapkan, belum lama ini Pertamina menggelar ajang Pertamina SMEXPO 2020 yang berhasil menyabet rekor MURI sebagai pameran digital terbesar dengan lebih dari 1.700 produk. Sebanyak 34.063 pengunjung selama 3 hari pergelaran dengan target 10 ribu pengunjung. Sebanyak 28 mitra binaan terpilih mengikuti Business Forum setelah melewati proses kurasi yang ketat dari 100 mitra binaan peserta Pertamina SMEXPO 2020. Pencapaian transaksi dari potential buyer adalah Rp 9,3 miliar (dari Arab Saudi, Australia, Jerman, Perancis, Qatar, Amerika Serikat, Singapura, Tiongkok) dari target awal Rp 7,5 miliar. Ajang ini juga dikunjungi 38 negara dari 5 benua di dunia.

Pengamat CSR dan UMKM yang juga Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Fisip Universitas Padjajaran (Unpad) DR. Risna Resnawaty berpendapat, saat pandemi ini diperlukan program yang lebih menyasar pada seluruh skala. dimulai pada sektor yang benar-benar mikro hingga skala yang lebih besar.

“Dari sisi kontribusi BUMN melalui program bantuan modal (program kemitraan), hal ini sudah tepat, dengan syarat harus dibarengi dengan pendampingan serta pembinaan terhadap UMKM, sebab tantangan yang dihadapi dalam berwirausaha pada saat ini sangat berbeda. Requires more innovation, pemanfaatan teknologi informasi, sehingga UMKM menjadi tangguh dan siap bersaing pada pasar global,” katanya.

Dia menilai instruksi Presiden Joko Widodo untuk mensinergikan antara industri dan UMKM nampaknya dihayati betul oleh Pertamina yang semakin menggalakkan program kemitraan. “Pada beberapa bulan terakhir Pertamina dan beberapa anak perusahaannya sangat responsif terhadap situasi pandemi ini dengan mengarahkan program CSR dan PKBL nya untuk berkontribusi pada upaya peningkatkan sektor UMKM,” katanya.

Dia melihat pada awalnya dilakukan program asistensi untuk pemenuhan kebutuhan dasar dari masyarakat yang benar-benar terdampak pandemi, namun pada saat ini telah melakukan movement yang sangat baik dengan melakukan pendampingan serta program bantuan dana kemitraan bagi UMKM.

“Bersama Pertamina, potensi untuk pengembangan UMKM melalui pasar digital agar mampu bersaing di pasar global tentu sangat besar. Terutama jika melihat SDM yang dimiliki, serta sebaran perusahaan inti dan anak perusahaan di seluruh Indonesia,” katanya.

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN