Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dibangun Pertamina NRE (PNRE) selaku Sub-holding PT Pertamina (Persero)

Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dibangun Pertamina NRE (PNRE) selaku Sub-holding PT Pertamina (Persero)

Semester I, Pertamina NRE Raih Laba Bersih US$ 57 Juta

Rabu, 4 Agustus 2021 | 20:44 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pertamina NRE (PNRE) selaku Sub-holding berhasil mencatatkan kinerja positif konsolidasian pada Semester I 2021. Secara konsolidasian, pendapatan, EBITDA dan laba bersih PNRE mencapai US$ 181 juta, US$ 152 juta, dan US$ 57 juta. Pada kinerja operasi sejumlah capaian positif juga berhasil dicatatkan oleh PNRE, dimana produksi listrik mencapai 2.273 GWh.

"Kami selalu berupaya mengedepankan operational excellence untuk mencapai target yang ditentukan. Karena kami juga bercita-cita untuk mendukung pemerintah mewujudkan transisi energi di Indonesia," ujar Chief Executive Officer PNRE Dannif Danusaputro di Jakarta, Rabu (4/8).

Pendapatan, EBITDA, dan laba bersih masing-masing mencapai 101%, 117%, dan 152% terhadap RKAP Semester I 2021. Kinerja keuangan yang positif tersebut didorong oleh kinerja operasi yang baik.

Disebutkan bahwa bergulirnya restrukturisasi di tubuh Pertamina mengantarkan PNRE sebagai sub-holding yang memegang amanah untuk mengawal transisi energi, di mana di bawahnya termasuk Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan Jawa Satu Power (JSP) serta Jawa Satu Regas (JSR). Dengan restrukturisasi, Pertamina semakin menggenjot laju transisi energi. Pada tahun 2030 Pertamina menargetkan energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 17% dalam portfolio bisnisnya.

Di level PNRE, transisi energi pada tahun 2026 menargetkan kapasitas terpasang mencapai 10 GW, yang terdiri dari 6 GW gas to power, 3 GW energi terbarukan, dan 1 GW energi baru. Untuk energi panas bumi sendiri saat ini kapasitas terpasang mencapai 672 MW dan ditargetkan pada tahun 2026 mencapai 1,1 GW. Sedangkan yang termasuk di dalam pengembangan energi baru antara lain hidrogen, EV battery, dan carbon capture utilization and storage (CCUS).

“Untuk mencapai target tersebut, PNRE akan melakukan kolaborasi dengan mitra-mitra strategis, khususnya pengembangan energi baru seperti hidrogen dan CCUS yang teknologinya juga relatif masih baru. Saat ini kami tengah mengembangkan blue hydrogen dan green hydrogen. Kami yakin hydrogen adalah energi masa depan dan kami berharap akan mencapai harga yang kompetitif seiring dengan berkembangnya teknologi,” ungkap Dannif.

Dannif melanjutkan bahwa transisi energi yang dilakukan secara agresif oleh Pertamina ditargetkan untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Pertamina sebesar 30 persen dan mendukung emisi GRK nasional sebesar 29% pada tahun 2030. Pertamina menunjukkan komitmen kuat menjalankan bisnis yang berkelanjutan (sustainable business) dengan mengintegrasikan aspek ESG (environment, social, and governance) ke dalam bisnisnya.

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN